Berdamai dengan Rambut Beruban sejak Remaja

Endah Wijayanti17 Okt 2019, 13:05 WIB
Rambut

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Aisa Marisa - Jakarta

Ini kisah nyataku, terjadi di bulan Juli 2019, di mana aku memutuskan untuk menerima kekurangan yang tampak nyata dan tak terelakkan lagi.

Genetik kedua orangtuaku yang satu ini sepertinya diturunkan 100% + 100% kepadaku, karena ini hanya terjadi padaku, anak ketiga dari empat bersaudara. I got premature grey hair di usiaku yang cukup muda untuk skala usia rambut beruban. Aku menyadari hal ini sejak SMP walaupun saat itu yang muncul hanya beberapa helai saja. Helaian rambut berwarna putih ini tertutup dengan baik karena aku memiliki rambut hitam yang cukup tebal. Bahkan hingga kuliah dan memasuki dunia kerja, kondisi rambut beruban ini masih belum menyita perhatianku karena persentase rambut hitamku jauh lebih besar.

Aku baru mulai gelisah ketika tinggal di Kanada selama dua tahun. Di sinilah awal mula premature grey hair-ku mulai tampak nyata di bagian depan. Saat itu aku berpikir sepertinya hal ini dikarenakan cuaca dingin yang cukup ekstrem sehingga rambutku tidak bisa beradaptasi dengan baik. Karena hal ini juga terjadi pada kulitku yang mulai terlihat kering dan kasar.

Untuk mengatasinya, aku mengambil tindakan yang sederhana dan cepat, yaitu melakukan hair coloring. Itulah kali pertama aku mewarnai rambut. Hasilnya tentu membuat rasa percaya diri kembali eksis. Namun tanpa disadari, aku mengulang kebiasaan ini terus menerus setiap kali warna cat sudah mulai luntur dan si warna putih muncul kembali.

 

Mewarnai Rambut

Rambut rontok dan kusam
Ilustrasi. (Foto: iStockphoto)

Solusi sementara tentu tidak memberikan hasil yang sempurna. Pertumbuhan uban ini semakin lebat ketika aku pulang ke Indonesia. Bahkan regenerasi rambut yang baru tumbuh pun berwarna putih. Can you imagine? Frekuensi mewarnai rambut pun semakin sering. Kalau dulu hanya sekali dalam satu hingga dua bulan, kini aku melakukannya dua minggu sekali. Aku mulai berpikir sepertinya ini murni warisan kedua orangtuaku, karena hanya dalam hitungan tujuh hari setelah rambut diwarnai, warna putih sudah mulai terlihat lagi di akar. Aku lelah harus mewarnai rambut setiap dua minggu sekali. Aku benci mencium aroma pewarna rambut. Aku tahu sebenarnya aku tidak bahagia melakukan ini. Tapi aku juga tidak mau kelihatan tua sebelum waktunya hanya karena si uban ini.

Aku mulai browsing sana sini dan curhat kepada teman baikku untuk mencari bantuan, berharap mereka pernah mendengar kasus ini dan tahu solusinya. Semuanya menyarankan untuk melakukan hair coloring. Aku sudah bertekad tidak akan melakukan pewarnaan rambut lagi mengingat efek jangka panjangnya yang tidak baik.

Aku akhirnya mencoba salah satu produk hair tonic yang kubeli dari marketplace. Singkat cerita, hasilnya nihil! Tidak ada perubahan sama sekali. Jauh dari good review yang ditampilkan. Aku down dan stres. Aku sadar kondisi stres ini membuat si uban berkembang semakin pesat. Stresku bertambah karena aku bekerja di sebuah aesthetic clinic. Rasa percaya diri perlahan-lahan memudar apalagi ketika harus bertemu dengan customer, media partner, dan client.

Tekadku untuk stop hair coloring tetap kulanjutkan walau terkadang hati ini sudah mau menyerah. Satu bulan pertama merupakan waktu terberatku. Masa itu menjadi sulit karena aku tidak bisa menerima kekurangan ini. Aku belum bisa berdamai dan berontak kepada diriku sendiri. Aku belum bisa embrace kenyataan 100%.

Di tahap ini, aku sadar kalau aku perlu encouragement. Sampai suatu kali, aku memberanikan diri DM ke salah satu influencer yang aku follow di Instagram. Aku cukup ngefans dengan Kak Tika Panggabean. Setiap kali aku cek story beliau, dia tidak pernah malu menampilkan kondisi rambutnya yang apa adanya. Ya, Kak Tika rambutnya juga penuh dengan uban but she looks so fine and happy. Aku akhirnya DM beliau dan curhat mengenai kondisi rambutku berharap mendapat informasi mengenai grey hair treatment. Waktu berlalu dan tidak ada balasan sama sekali dari beliau. Sedih tapi sebetulnya aku sudah siap kalau DM-ku tidak berbalas.

Hingga suatu hari, aku mendapat balasan dari Kak Tika. Senangnya bukan kepalang dan di sinilah momen berdamai dengan diriku menjadi lebih baik. Beliau meng-encourage diriku bahwa semua orang akan beruban pada waktunya, lakukan apa yang baik dan nyaman untuk diri kamu. Aku meleleh, nangis sejadi-jadinya, dan cuma bisa say sorry ke kulit kepalaku karena aku tidak merawat rambutku dengan baik sedari dulu.

Mencari Semangat

uban
DM dibalas./Copyright Aisa Marisa

 

Penerimaan diriku makin lengkap ketika suatu malam aku menonton satu tayangan di TV dan menampilkan Kak Dian Sastro sebagai guest. Topik yang diangkat adalah Cantik ala Dian Sastro dan bukan kebetulan rasanya kalau yang dibahas adalah seputar rambut. Ada sesuatu yang diucapkan Kak Dian saat itu membuat aku jauh lebih baik. Aku pun semakin bisa menerima diriku apa adanya. Setiap orang mempunyai sisi indahnya masing-masing. We are beautiful in our own version.

Empat bulan sudah aku say goodbye ke hair coloring. Rasanya? Sungguh bebas, free of guilty feeling, kulit kepala terasa ringan karena bebas dari bahan kimia. Selama empat bulan ini juga, aku memberikan energiku untuk meng-upgrade diri, memberi perhatian pada potensi yang bisa aku kembangkan, fokus kepada hal yang bisa aku kontrol dan bukan sebaliknya.

Salah satu pencapaian yang bisa aku banggakan adalah aku resmi menjadi kontributor di salah satu media daring dan sudah menulis sebelas artikel yang terpublikasikan di kanal mereka. Senang luar biasa. Aku belajar mengubah rasa insecure menjadi sesuatu yang positif untuk berkarya.

Lalu apa kabar ubanku setelah empat bulan tidak diwarnai? Tentu bertambah banyak dan semakin terlihat nyata. Sudah seperti highlight coloring namun ini alami tanpa dibuat! Dan aku sudah sangat terbiasa dengan tatapan orang-orang. Percaya atau tidak, dalam kondisi yang cukup struggling ini, Aku semakin tahu mana orang-orang yang tulus, peduli, dan menerima diriku apa adanya. I found my real inner circle people. What a blessing in disguise!

Satu lagi hal yang perlu disyukuri adalah walau rambut terlihat tua karena beruban tapi kulit wajahku flawless tanpa kerutan untuk usia 34 tahun pada umumnya. Ini juga warisan genetik lho!

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓