Fimela Fest 2019: Perubahan Patriarki Setahun Sejak Kampanye #MeToo

Vinsensia Dianawanti20 Okt 2019, 10:00 WIB
metoo

Fimela.com, Jakarta Gerakan #MeToo sempat menghebohkan media sosial. Gerakan ini muncul setelah pengakuan pelecehan seksual yang menimpa banyak aktris, model, dan sosok perempuan lainnya.

Setelah setahun berjalan, apakah gerakan #MeToo memberikan dampak pada perlindungan perempuan dari patriarki? Melansir dari First Post pada Minggu (20/10/2019) ada perubahan di sejumlah industri.

Alih-alih membicarakan pelecehan seksual dengan mudah di tahun lalu, justru ditemukan terjadi peningkatan 14 persen dalam keluhan yang terdaftar di perusahaan BSE 100 dan peningkatan 70 persen dalam pengaduan di Komisi Perempuan Nasional.

Rupanya gerakan #MeToo tidak hanya berdampak bagi kehidupan karier perempuan, melainkan kehidupan internal perempuan. Ditemukan bahwa gerakan ini mempengaruhi perempuan dalam berbicara ketika mengemukakan pendapat.

Hubungan pribadi antar laki-laki dan perempuan juga berpengaruh berkat gerakan ini. Perempuan kini lebih terbuka tentang bagaimana dia menjalani hubungan dengan pasangannya. Apakah pasangan menjadikan hubungan tersebut sebagai toxic apa tidak.

 

 

Gambaran pengaruh MeToo

Ini 10 Kandidat yang Masuk Nominasi Person of the Year Versi Majalah Time
Gerakan #MeToo, gerakan tersebut bertujuan melawan pelecehan seksual. Gerakan itu muncul setelah kasus tuduhan terhadap produser Harvey Weinstein dan puluhan orang lain di Hollywood, media, bisnis, dan politik. (AFP Photo/Bertrand Guay)

Seseorang pun sempat menggambarkan diagram bagaimana persahabatan laki-laki dan impunitas bekerja di sebuah perusahaan tempat dirinya melakukan pelecehan. Kemudian sesama perempuan dalam perusahaan tersebut menceritakan laki-laki yang sama soal pola toxic dalam hubungannya.

Setiap orang kemudian membicarakan laki-laki tersebut dan memberikan sebuah perlakuan tertentu yang membuat ia sadar dirinya sedang menjadi bahan perbincangan. Membicarakan satu sama lain justru membuat perempuan menemukan banyak hal tentang dirinya sendiri. Sehingga membuat mereka tetap percaya diri membicarakan laki-laki yang melakukan pelecehan seksual di tempat kerja.

Sementara beberapa perempuan justru menghadapi beragam dilema tentang etika, kehilangan dan keputusan untuk percaya lagi dengan laki-laki dari gerakan #MeToo di media sosial.

Ada yang berbagi pengalaman dengan temannya soal sang kekasih, namun justru sang teman menjadi musuh dalam selimut. Ada juga cerita bagaimana seorang perempuan harus bercerita kepada orangtuanya soal pelecehan yang dialami, dan bagaimana cara mengembalikan kepercayaan orangtuanya kepada setiap teman laki-lakinya.

Simak video berikut ini

#GrowFearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓