Meski Rahim Diangkat, Tubuh dan Hidupku Tetap Perlu Bahagia

Endah Wijayanti19 Okt 2019, 13:12 WIB
hamil kosong

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Christabel Jane - Jakarta

Usaha untuk bangkit dan mempercayai bahwa menerima apapun kondisimu adalah kunci kebahagiaan. Ini saya percaya banget kunci bahagia adalah menerima kondisi apa pun itu. Bahkan sekalipun terpuruk, tubuh yang tidak lagi sama seperti dulu bangkit untuk tetap mencintai dan memperlakukan diri dengan baik itu adalah harus.

Sulit, itu pasti. Itu yang saya rasakan tiga tahun lalu. Betapa saya harus berusaha keras mencintai diri saya yang seperti bukan saya yang saya kenal. Tahun 2016 saya harus menerima kondisi kepala plontos, tubuh mengurus, kulit mengering dan rasa sakit yang luar biasa. Bahkan saya juga harus legowo untuk menerima diri saya yang tidak bisa lagi hamil, karena rahim saya sudah diangkat.

Tiga tahun lalu, saya harus menjalani kemoterapi karena hamil anggur dengan indikasi PTG (Penyakit Tropoblast Ganas). Setelah rahim diangkat, kemoterapi pun harus siap saya terima meski sakit dan ada penolakan atas perubahan yang akan terjadi pada diri saya.

Perlahan dan pasti rambut mulai rontok hingga habis. Pekerjaan yang saya cintai pun harus saya relakan untuk saya lepaskan untuk proses pengobatan. Dan impian untuk bisa memberikan adik pada anak saya pun pupus.

 

 

Berusaha untuk Bahagia dengan Keluarga

20160311-Ilustrasi Bayi-istock
Ilustrasi./(iStockphoto)

Butuh waktu lama bagi saya untuk bisa bangkit dari semua kondisi yang tak lagi sama itu. Meski saat ini saya sudah dinyatakan sehat, rambut kembali tumbuh dengan sehat dan mulai panjang. Namun, saya merasa tubuh saya bukan lagi tubuh yang pernah saya cintai sebelumnya. Tubuh yang energik, gesit, dan tidak banyak keluhan.

Saat ini, saya mudah lelah dan tidak bisa beraktivitas banyak seperti dulu. Namun, ternyata menyesali kondisi itu membuat saya tidak bahagia. Saya pun bangkit untuk kembali mengatakan pada diri sendiri bahwa saya mencintai tubuh saya saat ini.

Saya dan tubuh saya harus bahagia. Caranya ya dengan mencintai apa yang ada saat ini. Rambut yang tumbuh dengan subur, alis kembali menghitam. Hormon yang naik turun bahkan hasrat bercinta yang juga menurun akibat trauma kemoterapi.

Meski kondisi fisik tak lagi bisa diajak lari maraton, tapi saya mencintai tubuh saya. Ketika sinyal tubuh meminta saya istirahat padahal saya masih ingin wara wiri, maka saya harus patuh pada perintah tubuh. Istirahat dan mengurangi aktivitas. Sehingga besok saya tetap bisa beraktivitas dan menikmati bahagia yang baru.

Saya dan seluruh tubuh saya pun berhak bahagia. Suami dan anak saya pun berhak tetap bahagia dengan kondisi saya saat ini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓