Proses Mencintai Diri Sendiri Tak Berhenti pada Satu Titik Saja

Endah Wijayanti21 Okt 2019, 12:55 WIB
kepribadian

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: PP - Sampit

Self-love atau mencintai diri sendiri pasti memiliki arti yang berbeda bagi setiap individu, begitu pula usaha untuk melakukannya. Seperti mencintai pada umumnya, bagiku mencintai diri sendiri butuh tidak hanya sekadar usaha, tetapi juga keyakinan. Yakin bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang persis sama seperti aku.

Jika ada ungkapan tak kenal maka tak sayang, dan tak sayang maka tak cinta, begitulah kupikir awal mulanya aku mulai mencintai diri sendiri. Sebagai remaja yatim, pada awalnya aku kesulitan mengenali diriku. Aku tidak tahu apa yang menjadi kelebihan atau kekuranganku, pun tidak tau minat dan bakatku.

Singkat cerita waktu itu semua kulakukan sesuai keinginan orangtuaku saja. Jika tidak bisa memenuhi tujuan yang sudah ditetapkan saat itu, aku merasa kesal pada diriku diikuti dengan perasaan tidak mampu. Waktu berlalu dan hari-hari terasa berat, dari satu target ke target lainnya. Dari ketidakpuasan satu pada ketidakpuasan lainnya. Tidak hanya secara masalah mental, fisik juga. Akan tetapi hari-hari berat itulah yang pada akhirnya menjadi sebuah awal yang baru bagiku.

Hidup sebagai mahasiswi di kota orang menjadi awal yang baru untuk mulai mengenal diriku. Bagiku, proses mencintai diri sendiri tidaklah semata-mata bergantung pada diriku. Faktor eksternal juga memengaruhi proses ini. Pada masa-masa remaja awal, biar pun ibuku mendukung semua hal baik yang kulakukan tapi keluarga dekat lain yang merendahkan dan meremehkan aku sedikit banyak memengaruhiku waktu itu.

 

 

Pengalaman Mandiri saat Kuliah

kepribadian
ilustrasi./Photo by Holly Mandarich on Unsplash

Kehidupan mandiri ketika kuliah membuatku melihat lebih banyak hal dari sudut pandang yang berbeda. Cerita, sikap, dan juga kehidupan sehari-hari teman dan sahabat membuka pikiranku. Semua hal tidak bisa berjalan dengan baik bila pada dasarnya kita tidak memiliki keyakinan dan kecintaan pada diri.

Perlahan mulai merasakan apa sebenarnya kelebihanku, karena tidak ada satu pun manusia yang tidak punya kelebihan. Paling tidak aku punya satu yang akan membantu dalam setiap langkahku ke depannya. Karena kelebihan satu paket dengan kekurangan, aku juga perlahan mulai mengelompokkan kekuranganku. Berusaha mencari solusi dari setiap kelemahan yang ada. Berusaha meminimalisir kekurangan yang kupunya supaya tidak menjadi halangan dalam mencapai tujuan. Sadar bahwa kelebihanku tidak lebih banyak dari kekuranganku, aku tetap yakin semua orang istimewa. Yang harus dilakukan untuk mencintai diri sendiri adalah mengenal dengan baik siapa diri kita.

Mencintai diri sendiri tidak berhenti di sini. Cinta itu akan tumbuh makin besar jika kita jaga dan kita pupuk. Setiap hal yang terjadi, baik itu keberhasilan maupun kegagalan berusaha aku sikapi positif. Dari setiap kegagalan yang kualami, dari situ aku belajar lagi. Setiap keberhasilan yang tercapai memberiku pelajaran yang lain. Pengertian akan setiap hal yang terjadi merupakan salah satu usahaku untuk menerima segala kekurangan sebagai bentuk rasa cintaku pada diri sendiri.

Terus Berproses

kepribadian
ilustrasi./Photo by Jernej Graj on Unsplash

Tentu saja mencintai diri sendiri juga berhubungan dengan fisik. Tidak ada yang secara fisik maupun mental sempurna. Kitalah yang bisa menyempurnakan segala kekurangan itu dengan mencintai apa yang ada dalam diri kita baik secara mental ataupun fisik. Seperti aku, mencintai fisik tidak melulu menerima kondisi tubuh yang tidak sesuai keinginan tapi juga menjaga agar tubuhku tetap sehat. Aku rutin makan dan berusaha sesedikit mungkin mengkonsumsi junkfood. Aku lebih suka sayur, ikan, dan buah. Tidak harus mahal, aku memilih yang harganya terjangkau saja asal bisa membuatku sehat.

Aku pikir akan percuma mati-matian menjaga cinta orang lain jika aku tidak cinta pada diri sendiri. Aku tidak lagi ingin mengubah warna kulit juga warna dan jenis rambut, aku hanya mulai merawat diriku apa adanya. Mempunyai panca indera yang berfungsi sempurna merupakan anugerah jadi untuk apa meresahkan bentuknya?

Tidak mengenal diri sendiri berarti melewatkan satu kesempatan untuk dicintai dengan tulus, bahkan dicintai oleh diri sendiri. Bagiku, mengenal diri sendiri menumbuhkan rasa cinta pada diri. Bahkan dari setiap kelemahan yang aku punya, aku yakin itulah cara Tuhan mencintaiku.

Kelemahanku akan ditutupi oleh kelebihan orang lain, begitu pula sebaliknya. Selain itu, proses mencintai diri bukanlah proses yang selesai pada satu titik, tapi akan terus berproses selama napas masih berhembus. Mari cintai diri kita sebagai bentuk syukur pada Tuhan karena telah menciptakan kita.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓