Gagal Itu Wajar karena Kita Memang Manusia Biasa

Endah Wijayanti22 Okt 2019, 13:19 WIB
menghakimi

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Niawati - Cirebon

 

“Stop blaming yourself.

Let’s try to love yourself.

Apa yang baik dalam dirimu, coba pertahankan.

Apa yang buruk dalam dirimu, coba perbaiki.

Apa yang orang lain cibir, coba abaikan.”

- Niawati

Beberapa hari yang lalu, aku sempat berbincang dengan seorang sahabat mengenai self love. Bagaimana kita mencintai diri, menerima, dan mengapresiasi diri sendiri. Self love amat sangat perlu diaplikasikan pada diri sendiri. Lebih lagi di era digital seperti saat ini. Era di mana setiap orang berlomba ingin menunjukkan sisi terbaik dalam dirinya.

Gencatan media sosial serta status-status menyenangkan yang di-share di media sosial bukan tidak mungkin menimbulkan kegalauan tersendiri bagi beberapa orang, salah satunya aku. Aku tahu bahwa mencintai diri sendiri membutuhkan proses yang cukup panjang. Aku pun masih terus belajar untuk melakukannya.

Proses belajar mencintai diri sendiri dimulai sejak tahun lalu. Saat itu, aku harus menghadapi dunia nyata yang sungguh berbeda dari dunia perkuliahan. Nilai IPK saja tak mampu mendukungku untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Rasanya saat itu semuanya serba menakutkan dan menyakitkan. Bukan tanpa alasan, pasalnya menyandang status S1 di kampung cukup berat dipikul olehku. Masyarakat biasanya mempunya ekspektasi berlebihan terhadap seseorang yang memiliki status pendidikan yang tinggi. Ketika ada seseorang yang memiliki gelar pendidikan yang tinggi namun tak juga mendapat pekerjaan, akan ada banyak cemooh yang diberikan.

Cemooh tersebut pun berlaku untukku. Terlebih saat kuliah dulu aku memang sudah mendapat cemooh serupa. Tak jarang ada yang mengatakan bahwa aku hanya seorang parasit tak berguna yang hanya bisa merepotkan keluargaku.

Saat itu kondisi keuangan keluargaku memang sedang tidak baik karena ibu yang baru meninggal. Meninggalnya ibu, lalu sudah tiadanya bapak membuat aku dan kakak-kakakku harus banyak berjuang untuk hidup terlebih untuk biaya kuliahku. Sempat ingin menyerah karena merasa tak kuat untuk melanjutkan pendidikan. Tak kuat juga mendengar cemooh tetangga. Tapi atas doa orang yang kusayangi dan juga kehendak Tuhan, aku akhirnya mampu menyelesaikan studiku.

Semua cemooh dan hinaan tersebut membuatku ingin sekali mendapatkan pekerjaan dengan cepat agar aku tak dihina lagi oleh mereka. Namun, kenyataannya mendapatkan pekerjaan tak semudah yang kubayangkan. Di saat aku terpukul, aku sempat melihat beberapa status teman-temanku berseliweran di media sosial. Aku merasa teman-temanku sudah melesat jauh dibandingkan diriku.

 

Menyayangi Diri Sendiri

self-love
ilustrasi./copyright by Shutterstock

Terpukul dan terpuruk membuatku jatuh sakit selama beberapa bulan. Saat itu, pihak rumah sakit sempat mengatakan bahwa aku mengalami stres dan tertekan yang cukup berat. Semua itu memberikan banyak pelajaran agar lebih menyayangi diriku sendiri. Untuk menumbuhkan self love, ada beberapa cara yang kulakukan. Berikut di antaranya:

1. Berhenti Membandingkan Hidup Kita dengan Orang Lain

Membandingkan hidupku dengan orang lain hanya membuatku terlihat lebih menyedihkan. Semua orang memiliki masalahnya sendiri. Semua orang memiliki mimpinya sendiri. Rasanya, saat itu, aku sangat tidak bijak karena sudah beranggapan bahwa hidup orang lain berjalan dengan mudahnya tanpa perlu memikul beban yang berat. Oleh karena itu, aku mulai belajar untuk berhenti membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Alih-alih memperhatikan kehidupan orang lain, aku mencoba untuk lebih fokus dan memperhatikan diriku sendiri.

2. Belajar Menerima Diri Sendiri

Kegagalan, penolakan, hingga penghinaan membuatku kadang menyalahkan diri sendiri. Aku kadang menyalahkan diri sendiri atas ketidakmampuan, atas kebodohan, atas kesalahan yang sudah dilakukan. Saat kegagalan menyapa aku selalu mengatakan pada diriku sendiri, "Kenapa kau bodoh sekali?" "Kenapa begitu saja gagal?" "Kenapa begitu saja tak bisa?" Semua kata-kata menyakitkan tersebut aku lontarkan pada diri sendiri atas semua kegagalan yang menimpa.

Aku lupa bahwa tak ada salahnya jika aku gagal. Kegagalan wajar terjadi, karena aku memang hanya manusia. Aku hanya mampu berencana dan berusaha, segalanya tergantung pada kehendak Tuhan. Jika gagal, harusnya aku belajar untuk bangkit bukan menyalahkan diri sendiri. Mengevaluasi semua yang kurang dan mulai kembali dengan memperbaikinya.

 

3. Tak Perlu Mendengarkan Ucapan Orang Lain

body shaming
ilustrasi./copyright By Asier Romero from Shutterstock

Sebagai makhluk sosial, tentunya kita tak bisa hidup seorang diri. Kita harus hidup berdampingan dengan banyak orang. Hal tersebut memungkinkan kita untuk menerima banyak respons beragam dari orang di sekitar. Sayangnya, respons yang diberikan orang lain kadang bukan hanya respons yang menyenangkan, tapi juga menyakitkan. Diremehkan, dihina, direndahkan bahkan difitnah pernah diterima olehku. Itulah mengapa aku harus belajar untuk berhenti peduli soal ucapan dan pemikiran orang lain.

Aku belajar untuk menerima semua ucapan dan respons yang diberikan orang sekitar. Ucapan yang baik dan bisa dijadikan motivasi, biasanya akan aku pertimbangkan. Sebaliknya, ucapan yang hanya meremehkan dan tak membangun akan aku abaikan.

4. Beri Apresiasi pada Diri Sendiri

Menurutku, memberi apresiasi pada apa pun yang sudah dikerjakan wajib hukumnya. Aku mencoba untuk memberikan apresiasi atas semua hal yang pernah dilalui, bahkan saat gagal sekali pun. Saat gagal, aku mencoba untuk lebih mengapresiasi diri karena sudah berani mencoba. Setelah itu, aku akan bangkit kembali dengan menyusun strategi ulang.

Keikhlasan dan penerimaan diri membuatku lebih mudah dalam menjalani hidup. Aku menjadi lebih tenang, menjadi lebih bersyukur dan bahagia dengan apa yang kumiliki saat ini. Yuk, mulai belajar mencintai diri sendiri.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓