Menangis Secukupnya Saja sebab Kita Berhak Bahagia

Endah Wijayanti25 Okt 2019, 10:10 WIB
pribadi introver

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Fitri Rahmawati

Aku adalah seorang introver. Bukan tanpa alasan hingga aku menjadi seperti ini. Kehidupan keras di masa kecil membuat aku menjadi begini. Aku tinggal di keluarga yang keras dan kasar bahasa kasar dan perlakuan kasar sudah menjadi makananku sehari-hari. Hubungan keluarga berantakan dan tidak ada kasih sayang antara satu dengan lainnya. Semua hidup dengan jalan mereka sendiri dan alasan inilah yang membuatku tidak pernah betah untuk tinggal lama-lama di rumah.

Walaupun sebenarnya aku adalah satu-satunya perempuan dalam keluarga karena empat saudaraku adalah laki-laki tapi aku tidak pernah merasa menjadi paling spesial. Malah aku satu-satunya anak yang bisa dibilang tidak disayang atau seperti tidak diharapkan kehadirannya karena dari kecil aku sering mendapat kekerasan fisik dan kekerasan non fisik (ucapan kasar).

Untungnya aku tinggal di lingkungan yang baik dan berada dalam lingkungan agama yang kuat. Hari-hariku kuhabiskan untuk sekolah dan bermain dengan teman-teman. Walaupun hidup dalam kekurangan, kurang makan, dan kurang kasih sayang, semua itu tertutupi dengan memiliki teman-teman yang baik.

Dengan basic sekolah agama aku banyak belajar bahwa seburuk apapun orangtua kita kita tetap harus menghormati mereka. Inilah alasan yang membuatku tetap harus menghormati mereka. Kewajiban kita sebagai anak harus tetap dijalankan walaupun tidak mendapat balasan yang sama.

Menjadi introver bukanlah keinginanku tapi lingkungan yang aku hadapi membuatku menjadi seperti ini. Ketika ada masalah aku lebih memilih menyimpannya sendiri karena bercerita dengan keluarga tidak akan menyelesaikan dan malah hanya akan membuat masalah menjadi lebih runyam. Ketika dalam kondisi ini aku lebih suka bercerita dengan teman atau orang lain yang mungkin lebih dewasa.

 

Berhak Bahagia

berpetualang
ilustrasi./Photo by Anthony Tran on Unsplash

Aku tidak pernah menyesal dengan semua yang pernah aku jalani karena semua rasa sakit itu adalah salah satu pembelajaran untuk kita sendiri. Walaupun sulit dijalani tapi perlahan semua pasti akan membaik. Selain itu, ketika aku dewasa saat aku memiliki masalah yang tak bisa aku selesaikan aku lebih memilih mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hidup dengan cara memperbanyak ibadah.

Dan obat mujarab untuk melepaskan kepenatan pikiran adalah dengan berlibur. Itulah alasan aku sangat hobi jalan-jalan. Bagiku, jalan-jalan tidak harus jauh dan tidak harus mahal. Lakukan apa saja yang kita mampu yang kita bisa karena di jalanan banyak sekali hal yang bisa kita temui dan kita pelajari karena badan juga punya hak kan? Jangan cuma dikasih yang pahit-pahit saja. Badan dan otak juga perlu refreshing.

Dari jalanan aku banyak belajar bahwa masih banyak orang yang punya masalah lebih dari kita. Lebih susah dan lebih pelik dari kita tapi mereka tidak pernah mengeluh. Masa kamu yang dikasih kesempurnaan masih saja mengeluh dan tak mau bersyukur. Semua keluhan dan semua kesedihan hanya membuat berat beban hati. Boleh menangis sesekali tapi masa mau terus-terusan? Memangnya kamu selemah itu? Memangnya dengan nangis terus-terusan semua bisa jadi lebih baik dan itu mustahil.

Pelangi saja bisa turun dari langit setelah hujan, jadi pasti ada bahagia setelah tangis. Allah pasti punya rencana indah dari semua ini. Nggak apa-apa sekarang jatuh. Nggak apa-apa sekarang sakit tapi besok pasti ada bahagia.

Terimalah apa pun dalam hidup ini. Sederhanakan pikiran dan hati karena hidup itu indah jadi sayang banget kalau disia-siakan. Bukankah dunia adalah sementara? Bukankah dunia hanya tempat persinggahan sementara? Banyak hal yang harus kita kejar. Banyak hal yang harus kita persiapkan.

Buang jauh-jauh semua keluhan dan tanamkan mindset dalam hati bahwa kita berhak bahagia. Apa pun yang Allah kasih buat kita pasti itu yang terbaik karena esok pasti datang bahagia. Harus tetap bersyukur dengan apa pun yang sudah atau pun belum kita miliki.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓