Jadi Korban Body Shaming Tak Menghalangiku Menjadi Perempuan Tangguh

Endah Wijayanti26 Okt 2019, 07:15 WIB
bertahan dari body shaming

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Dewi Rahmadani Lubis - Medan

Aku lahir dari keluarga yang sederhana. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Orangtuaku sama sekali bukan keturunan Arab, Chinese ataupun British. Maka jadilah aku berwajah Indonesia banget ditambah sentuhan paras wajah perempuan Batak. Aku terlahir lumayan berbeda dengan kedua saudaraku. Tubuhku biasa saja, dengan kulit sawo matang mendekati hitam, wajah bulat, pipi tembem, hidung pesek, bibir yang tebal dan sedikit gelap serta rambut yang ikal. Gambaran diri aku jauh dari kata sempurna kalau aku bandingkan dengan ideal diri yang aku impikan. Sewaktu aku kecil, aku sudah sering sekali mengalami body shaming dan diskriminasi dari orang-orang di sekitarku. Bahkan, aku mengalaminya tidak hanya di sekeliling orang-orang, tapi di lingkungan keluarga dekatku juga.

Sewaktu aku sekolah di taman kanak-kanak, aku belum terlalu merasakannya. Namun sewaktu aku sekolah dasar, aku banyak menerima bullying dan diskriminasi dari teman-teman maupun guruku sendiri. Aku dikatain “keling”, bibir perokok, bibir tebal dan sebagainya. Jika ada ajang untuk tampil di depan umum, seperti lomba menari, lomba fashion show, dan perlombaan lainnya, sudah pasti aku nggak kepilih. Bahkan tanteku sendiri tidak pernah mengajakku pergi dengannya, dan lebih memilih adikku untuk diajak pergi. Sewaktu aku kecil, aku masih masa bodoh dengan penampilan serta perlakuan mereka semua, tapi siapa yang menyangka kalau semua itu efeknya besar sekali untuk kepercayaan diriku ketika aku beranjak remaja.

Ketika aku remaja, aku mulai memperhatikan penampilanku. Aku bahkan termasuk korban iklan. Semua iklan yang menjunjung tinggi kecantikan diri, aku pasti nggak kelewatan untuk mencobanya. Aku ingin kulitku menjadi putih, maka aku coba body lotion pemutih. Aku ingin rambut lurus, aku coba sampo yang buat rambut jadi lurus. Aku ingin bibirku merah, aku beli deh lipbalm yang bisa memerahkan bibir. Alhasil, ya tetap hanya menjadi korban iklan. Diskriminasi dari teman-teman sekitar juga masih berlanjut, mereka mencari teman yang cantiknya sama dengan mereka. Bahkan aku juga merasakan kesulitan mendapatkan pacar, tidak ada satu lelaki pun yang mencoba mendekatiku.

 

Berproses Lebih Percaya Diri

self-love
ilustrasi./copyright by Shutterstock

Ketika aku sudah dewasa, aku banyak melihat dan mendengar serta aku banyak belajar dan memahami. Bahkan aku sudah sepenuhnya sadar dan menerima kalau secara fisik aku dikategorikan tidak cantik. Aku mulai belajar dari majalah-majalah yang aku baca. Aku mulai membenahi diri dengan berupaya merubah tampilanku agar menjadi lebih menarik. Aku belajar bagaimana berpakaian yang sesuai dengan warna kulitku. Aku belajar bagaimana memilih lipstik yang sesuai dengan bibirku, dan sebagainya. Termasuk aku juga belajar untuk mencintai diriku sendiri. Semua yang telah aku alami seperti menjadi cambukan untuk diriku sendiri agar bisa berubah lebih baik.

Kata-kata mencintai diri sendiri sejujurnya pada awalnya aku nggak paham. Terdengar gampang, namun sebenarnya sangat sulit untuk diaplikasikan. Sampai aku akhirnya memahami kalau mencintai diri sendiri itu artinya ketika kita bisa menerima kekurangan dan kelebihan yang kita miliki serta bisa menghargai diri sendiri. Meyakini bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan diriku sendiri. Aku memahami apa yang menjadi kekuranganku dan aku mencari tahu apa kelebihanku. Kelebihan diriku itu yang aku pakai untuk menaikkan kepercayaan diriku.

Mencintai Diri Sendiri Itu Penting

kepribadian
ilustrasi./Photo by kudung setiawan on Unsplash

Aku tahu aku bukan wanita yang sempurna secara fisik, tapi di sisi lain aku memiliki kemampuan brain and behaviour yang baik. Akhirnya aku lebih meningkatkan kemampuan belajarku sehingga aku menjadi orang yang sukses. Bukan tidak pernah terbesit keinginan untuk menjadi pribadi yang sempurna secara fisik dengan mengandalkan kecanggihan ilmu dan teknologi di bidang kecantikan yang populer saat ini. Balik lagi, ketika kebetulan aku melihat orang lain yang bahkan tidak memiliki kaki, tidak memiliki tangan, jari yang tidak lengkap bahkan untuk melihat dunia pun tidak bisa karena Tuhan tidak memberikan nikmat melihat padanya, di saat itulah aku merasa menjadi orang yang paling bersyukur telah dilahirkan di dunia ini tanpa suatu kekurangan fisik.

Ketika kita mampu, menggali kelebihan yang kita miliki, yakinlah kita akan menjadi sukses dan dengan sendirinya orang lain akan menghargai keberadaan kita. Dulu mereka yang memandangku dengan sebelah mata, bahkan sering kali menganggapku tidak ada, kini semuanya menjadi berbalik 180 derajat ketika aku sukses di masa sekarang.

Saat ini, aku sudah tidak lagi fokus dengan kekurangan diriku, namun aku fokus akan kelebihan diri yang aku miliki. Dengan begitu, perlahan-lahan kepercayaan diripun akhirnya semakin meningkat. Bahkan sekarang ini aku menjadi pribadi yang selalu bersyukur. Tidak menyalahkan siapa pun atas diriku, karena aku tahu bahwa setiap manusia yang dilahirkan oleh Tuhan adalah sebuah anugerah. Kita wajib menjaga pemberian Tuhan sebaik-baiknya, itulah alasan mengapa kita harus mencintai diri kita sendiri.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓