Berjuang Melawan PTSD dan Menjadi Penyintas KDRT, Aku Perempuan Kuat!

Endah Wijayanti01 Nov 2019, 12:45 WIB
penyintas kdrt

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Hadyanna Prathita Rahayu - Batam

Kututup lembar terakhir dari novel Fiersa Besari sambil menyeruput teguk terakhir dari kopi dalam cangkir kertas, yang sengaja kubeli di tengah perjalanan sebagai teman menyambut surya tenggelam di tepi pantai sore hari ini. Kunyalakan ponselku, layarnya menunjukkan angka 17.45, satu jam berlalu sudah.

Sambil menunggu surya kembali ke peraduannya, kuamati interaksi beberapa pasangan dan keluarga yang juga menikmati bibir pantai ini. Menyepi di tepi pantai sudah menjadi bagian dari jadwal mingguanku. Ibarat jeda dalam monolog. Hidup pun memerlukan tanda koma. Manusia memang tercipta sebagai makhluk sosial, namun terkadang ramai terlalu meyesakkan.

Sebagai ibu tunggal, selain mencari nafkah dan aktif dalam beberapa organisasi, aku juga mendedikasikan waktuku untuk sebuah komunitas dimana aku terjun sebagai relawan. Maka sembilan puluh menit dalam tujuh hari adalah waktu yang pantas aku berikan untuk diri sendiri. Minggu aku selalu produktif dan penuh target, selain sebagai ibu yang bertanggung jawab penuh terhadap pengasuhan dan finansial dua balita yang menjadi penguat hidup aku, masih ada biro bantuan hukum yang menyita sebagian besar waktu, pikiran dan tenaga.

Tak lupa ada beberapa komunitas dan organisasi yang aku ikuti dengan agendanya masing-masing. Melihat ke empat tahun silam, saat aku baru berpisah dengan suami, hidup sungguh berbeda. Hidup tak pernah menjadi milik aku pribadi, aku terlalu banyak mencurahkan waktu untuk mengusahakan pernikahan kami tetap berjalan, walaupun timpang adanya. Selain menafkahi keluarga kami, aku juga harus menghadapi ego seorang narcissist dengan naik turun drama dan ledakan emosinya yang sering kali tak dapat aku duga. Lima tahun bersama, meninggalkan pelajaran berharga yang tidak akan aku lupakan seumur hidup.

 

Mengidap PTSD

mengatasi cemas
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Siapa sangka seorang penderita Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD) bisa berbagi dan menguatkan sesamanya. Ini adalah tahun kedua aku terjun ke dunia volunteering. Sebagai penyintas KDRT yang pernah tak sadarkan diri di salah satu ranjang di unit gawat darurat sebuah rumah sakit swasta, perjalanan sampai di posisi ini tidaklah mudah.

Terbangun dari tidur dengan keringat dingin bercucur, terhenyak dari mimpi sering aku alami dulu, ketakutan jika tiba-tiba suami datang sewaktu-waktu. Rasa minder menggerogoti hati dan pikiran, hantu dalam kepala aku berujar berulang kali, “Kau manusia yang terbuang yang tak layak dicintai."

Butuh waktu, dukungan orang terdekat, dan tekad sekeras baja untuk bangkit dan berdiri. Setahun setelah memutuskan berpisah, aku masih berjuang melawan hantu-hantu dalam pikiran aku sendiri. Jalan menuju ketenangan batin itu berliku dan terjal, tapi manis buahnya.

Salah satu yang aku dalami untuk mengakali luka hati aku adalah NLP atau Neuro Linguistic Program. Melalui metde NLP pula, aku berbagi tips dan trik menghadapi luka selepas perpisahan. Menjadi berguna bagi masyarakat, khususnya bagi saudara-saudara sesama penyintas KDRT merupakan kebahagiaan tersendiri untuk aku. Semangat hidup aku membara kembali, hubungan dengan anak, orangtua, dan sahabat juga semakin membaik karena akhirnya aku sadar akan nilai hidupku, dan bisa menerima kondisi aku dan anak-anak dengan suka cita.

Walau banyak orang yang mencibir pilihanku untuk berpisah,tapi opini mereka tak lagi menjadi momok bagiku, karena toh hidup ini kami yang jalani dan kami bahagia bertiga sekarang. Meski jadwal aku cukup padat, sejauh ini kami selalu mampu menyempatkan waktu untuk menghabiskan akhir pekan bersama, menikmati kebersamaan kami dengan tenang, tanpa rasa takut lagi. Hidup kami mungkin tak semewah dulu, tapi aku berhasil menyisihkan pengeluaran untuk berliburan sekali setahun, juga menabung untuk biaya pendidikan anak-anak dan rencana aku mengambil gelar master lagi. Hidup memang tidak sempurna, tapi teramat indah dalam ketidaksempurnaannya.

Menjadi Penyintas KDRT

kesehatan
ilustrasi./Photo by Aaron Birch on Unsplash

Tak ada yang terjadi karena kebetulan di dunia ini. Satu hal yang aku yakini dan percaya, Tuhan berikan jalan hidup dengan suatu tujuan. Ya, pernikahan kemarin adalah pelajaran untuk aku. Cara Tuhan mendewasakan aku dengan ujian. Seperti tagline makanan ringan, yang bintangnya kini sudah mendunia, “Life is never flat," hidup ini penuh dengan lika-liku.

Dunia tidak akan berhenti bergerak untuk kita. Ujian akan selalu ada, namun bagaimana cara kita menghadapinya yang akan menentukan hasil akhirnya nanti. Ujian dapat menjadi batu sandungan yang membawa kita terjun ke jurang duka ataupun dapat melontarkan kita pada bukit rumput untuk didaki dengan pemandangan yang indah menanti untuk dinikmati.

Ah, tak terasa, mentari sudah kembali ke peraduannya, sudah waktunya untuk pulang. Anak-anak sudah menunggu dan bersiap pergi menghabiskan malam berkeliling kota tak lupa mampir ke sate Madura favorit kami sebelumnya. Kubersihkan sisa pasir yang tertinggal di celana jeansku. Sambil tersenyum sekali lagi ke cakrawala, kubuka pintu mobil mungilku, menyalakan mesin dan bergegas kembali ke rumah dengan suara indah Rachel Platten menyanyikan Fight Song di radio.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓