Tak Apa Mengakui Kelemahan, sebab untuk Menjadi Lebih Baik itu Butuh Proses

Endah Wijayanti02 Nov 2019, 07:49 WIB
patah hati

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Hariya Amalina - Yogyakarta

Aku merasa diriku baik-baik saja. Berjiwa bebas tanpa memikirkan apa saja yang terjadi di sekitar. Aku merasa dunia ini hanya berpusat padaku, aku yang paling benar, aku yang paling disayang. Aku melakukan apa saja yang membuat diriku bahagia.

Apa pun yang orang lain katakan biarlah saja mereka ungkapkan karena aku tidak peduli dengan pandangan orang. Aku semakin gila dan liar untuk mengagungkan hal-hal yang kulakukan atas dasar mencintai diriku sendiri. Layaknya seekor burung, aku terbang kemanapun menuju langit luas, menembus awan putih atau awan hitam sendirian. Aku melupakan satu hal yang sama pentingnya dengan kebahagiaanku sendiri, yaitu kebahagiaan orang-orang yang menyayangiku. Rasanya sayapku menjadi makin lemah, aku mulai lelah terbang kesana-kemari tanpa arah. Kemanakah semangat love myself yang aku banggakan?

Malam menjadi semakin panjang. Tapi siang juga terus menekanku dengan panas yang semakin menyakitkan. Aku kembali terkurung oleh waktu. Siang dan malam tidak ada bedanya. Aku merasa apa yang kulakukan sia-sia. Kemampuan alam bawah sadarku dalam membandingkan kondisiku dengan orang lain semakin kuat. Hal tersebut menjatuhkanku berkali-kali lipat pada palung yang gelap dan sempit. Pada rasa sesak yang semakin menjadi, air mata yang turun tiada henti, batinku menjerit meminta pertolongan. Aku kehilangan cahaya, aku tidak lagi percaya pada diriku sendiri. I hate it because I hate myself so much. Aku bukanlah siapa-siapa.

Entah apa pun yang awalnya melatarbelakangi seluruh masa kelam itu, akhirnya aku memutuskan untuk memulai lagi dari awal. Berkenalan dengan diriku, mencoba jujur dan terbuka bahwa selama ini aku belum sedikit pun memahami apa itu mencintai diri sendiri. Aku harus berani mengakui bahwa kelemahanku ini jauh lebih banyak dari apa yang bisa aku banggakan. Siap untuk menyadari dan menerima, nyatanya aku memang belum sebaik yang aku kira.

 

Berproses Perlahan Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

wajah yang disukai pria
ilustrasi./Photo by Đàm Tướng Quân from Pexels

Perlahan aku menata ulang pikiranku. Tidak semua hal bisa kita samakan atau bandingkan dengan orang lain. Aku belajar untuk melihat suatu kondisi dari berbagai sudut pandang, tidak mudah memang. Namun, hal tersebut mampu mereduksi pikiran negatif yang biasanya muncul setiap saat.

Aku terus belajar untuk menjadi seseorang yang mampu mendengarkan orang lain, menjadi seorang teman yang mereka percayai. Berusaha memahami apa yang mereka alami, tanpa memberi komentar apalagi menghakimi. Karena mereka juga sama seperti diriku, hanya membutuhkan seseorang untuk bersandar saat gelap kembali datang.

Aku mulai memperbaiki bagaimana aku harus berkomunikasi dengan orang lain, belajar memilah mana perkataan yang bisa menjadi saran dan mana yang cukup didengarkan. Menghargai momen dengan diriku sendiri atau orang lain wajib aku lakukan. Karena dengan itu, tidak akan ada penyesalan yang datang. Tentu saja, sifatku yang egois dan emosional belum bisa hilang karena yang perlu aku lakukan adalah mengendalikannya agar tidak merugikan orang lain juga diriku sendiri.

Mencintai diri sendiri bukan hanya sekadar mempercayai dan mengusahakan hal-hal yang membuat kita bahagia. Mencintai diri sendiri jauh lebih indah ketika kita mengimbanginya dengan memperlakukan orang lain sebaik kita memperlakukan diri sendiri. Ketika kita memutuskan untuk mencintai diri sendiri maka kebahagian tidak hanya berasal dari penerimaan pada segala sesuatu yang kita miliki tapi juga bagaimana kita akan menjaganya dengan baik.

Aku masih belajar dan akan terus belajar, berusaha menjadi pribadi terbaik untuk kebahagiaanku sendiri dan orang-orang yang ada di sekelilingku. It’s okay to show weaknesses, it’s okay to be you. Don’t lie to yourself anymore, because in the darkness we can walk forward without fear. No one is perfect, every moment has its own meaning. Let’s hear our own story, we’ll be alright. So, I’ll give the best of me and you’ll give the best of you.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓