Menyakiti Diri Sendiri Tak Lantas Menghapus Kekecewaan yang Ada

Endah Wijayanti03 Nov 2019, 07:20 WIB
menyakiti diri sendiri

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: A - Pacitan

Aku pernah di posisi terpuruk, belum berhasil mendapatkan pekerjaan baru selepas resign dari pekerjaan sebelumnya. Ini sudah setahun lebih. Melihat kondisi teman-teman sejawatku yang sukses dalam berkarier, aku merasa hopeless di rumah saja tanpa ada pekerjaan. Aku yang dulunya hebat kini bukan siapa-siapa.

Sudah apply ke sana-sini, tidak ada jawaban. Diam-diam aku terus menyalahkan ibu yang melarangku merantau kembali. Jiwa muda yang ingin bebas ini terasa terkekang jika hanya berdiam di kampung saja. Semenjak kuliah, aku terbiasa keluar kota untuk berkompetisi, kini berada di rumah terasa membatu saja diri ini.

Alasan ibu melarangku karena aku anak perempuan satu-satunya dan anak terakhir. Selain itu, beliau satu-satunya orangtua yang aku punya sepeninggal ayah. Akhirnya aku mencoba ikhlas menerima nasibku untuk menemani ibu di rumah. Kondisi ibu pun sedang sakit-sakitan pula. Sayangnya hidup di kampung pun susah sekali mencari pekerjaan. Sudah mencoba buat usaha juga gagal, entah tidak ada jiwa dagang dalam hidupku mesti keluargaku semuanya pedagang.

Sedih rasanya jadi pengganguran. Ada yang bilang, “Capek-capek jadi sarjana kok nganggur saja.” Itu sih tidak terlalu mengena di hati. Tapi yang menyakitkan ketika mendengar ibu yang kerap berkata ke orang, “Anakku susah dapat kerjaan.” Rasanya hati ini dongkol sekaligus kecewa. Seseorang yang kuharapkan doanya, malah mengatakan itu, seakan itu doa yang dilayangkan kepadaku agar aku susah mendapatkan kerjaan. Terkadang ibu pun membandingkan diriku dengan saudaraku yang sudah sukses. Aku tahu kondisiku belum beruntung, yang kuinginkan adalah support ibuku. Aku pun jadi membandingkan almarhum ayah dulu yang bisa mendukungku dalam kondisi apapun.

Gegara ayah pula aku termotivasi mencapai perguruan tinggi hingga bisa jadi anak satu-satunya yang kuliah. Sayangnya ketika lulus, aku merasa kecewa dengan tanggapan ibu. Beliau menyalahkan aku mengambil jurusan yang dianggapnya memalukan selepas aku lulus. Itu sungguh menyakitkan serasa seluruh ilmuku luruh tidak tersisa. Selama kerja dulu di bidang tersebut aku merasa tidak tenang mengingat ucapan ibu yang tidak meridoiku hingga akhirnya aku resign.

 

Keinginan untuk Mati Saja

stres
Ilustrasi./(iStockphoto)

Kini selama di rumah hampir setiap hari aku jadi sasaran kemarahan ibuku. Mungkin gara-gara aku anak yang paling tidak berguna karena memang tidak bisa membantu dalam perekonomian keluarga. Serasa tak punya siapa-siapa yang bisa memberi energi positif di rumah, aku pun jadi depresi dengan keadaanku ini. Keluar rumah pun takut dengan tanggapan orang lain. Dari hari ke hari aku makin membenci diri sendiri. Lelah dengan semua ini, aku sampai pernah berkeinginan bunuh diri demi menyelesaikan semua problem ini. Toh, untuk apa pula aku hidup?

Setiap lihat pisau, rasa ingin menyayat nadi di pergelangan tangan itu kuat sekali ingin kulakukan. Namun, aku bukan pemberani.

Sebenci-bencinya dengan diri sendiri, aku sadar aku mesti menyayangi diri sendiri. Aku tidak boleh menyakiti diri sendiri dengan keputusasaan ini. Aku berhenti menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah kubuat dan mulai membuka diri untuk menerima kesempatan-kesempatan yang selama ini aku abaikan.

Menulis Karya

bangkit dengan menulis
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/55555555555

Aku mencoba membangun kekuatan dengan mencoba hal baru dari kemampuanku menulis. Dari zaman kuliah aku suka menulis. Hingga akhirnya bisa menghasilkan novel perdana itu adalah pembuktian betapa aku mampu memberikan diri sendiri ruang untuk mengekspresikan diri dan berkarya. Tumpahan emosi dan drama yang mengguncang kehidupan bisa kusalurkan menjadi energi positif dalam lembaran lembaran novel. Kegembiraan yang tidak terkira menggenggam novel pertama ini. Dengan menghasilkan novel ini aku merasa menikmati usia muda dengan aktif dan berkarya. Bangga dengan diriku sendiri yang bisa berdamai dengan ketidaksempurnaan hidup ini.

Tidak hanya menghasilkan novel. Aku pun menulis blog dan mengikutkannya ke berbagai kompetisi. Lumayan hasil dari memenangkan kompetisi memberiku pundi-pundi rupiah yang kadang bisa melebihi gaji UMR kalau bekerja di kantor. Alhamdulillah aku bisa produktif dari rumah. Aku pun masuk komunitas blogger. Kami saling support satu sama lain. Blogging pun menjadi passion yang menghidupkan hariku. Tidak hanya mencurahkan isi hati juga bisa menghasilkan uang.

Akhirnya aku bisa realistis dan jujur pada diri sendiri tentang kekurangan dan kekuatan, dengan begitu aku bisa menjadi diri sendiri lebih nyaman. I love myself dan aku bisa memahami diri sendiri.

 ***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓