Menjauhi Lingkungan yang Beracun, Membantuku Lebih Bahagia

Endah Wijayanti02 Nov 2019, 11:45 WIB
lingkungan yang beracun

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Anggi Octaviani - Jember

Beranjak dewasa membuatku semakin tersadar bahwa berteman menjalin silaturahmi tidak hanya hahahihi dengan obrolan seputar membicarakan orang saja, tapi seharusnya dapat memberi dampak positif bagi diri sendiri bahkan lingkungan. Pergi dari lingkungan toxic sudah terpikirkan saat aku mengenyam bangku kuliah di salah satu universitas.

Aku jarang pernah merasa cocok dengan teman-temanku bahkan ada salah seorang yang awalnya teman, entah apa yang merasukinya sampai menghina dan memfitnahku dengan kata-kata yang tidak pantas dan itu ia lakukan di bulan Ramadan. Hari-hari berikutnya aku masih dalam pencarian jati diri dan juga berusaha agar diterima di sekitar teman-temanku. Akhirnya aku dekat dengan salah seorang sahabat walau akhirnya ia pun juga melakukan hal sama, alih-alih menjadi sahabat baikku tapi makian yang kudapat.

Cukup sampai di situ? Oh tentu tidak. Memasuki gerbang pernikahan pun aku dihadapkan pada lingkungan yang juga beracun. Kala itu, aku tinggal di sebuah perumahan yang penghuninya rata-rata adalah karyawan salah satu BUMN kota setempat. Lingkungan yang seharusnya memberi kebebasan dari profesi apa pun untuk tinggal menetap di sana. Lingkungan yang seharusnya memberi kebebasan bagi siapapun dalam berpakaian entah barang branded atau tidak. Nyatanya, bila yang berprofesi di luar karyawan BUMN rentan dikucilkan, nyatanya melihat seseorang pun harus dari segi pakaian. Nggak branded? Bye aja.

Mutasi Suami Membuatku Bernapas Lega

Ilustrasi pasangan zodiak
Ilustrasi. (Sumber: iStockphoto)

Angin segar datang saat suami harus pindah kerja ke ibu kota. Itu tandanya kami semua harus pindah dan aku memilih untuk tinggal di dekat rumah orang tua di Jawa Timur selama suami kerja di luar kota. Kami pun memboyong barang-barang kami dan kami pun segera mengurus berkas kependudukan kami untuk pindah domisili. Aku bersemangat sekali dengan migrasi kami kali ini.

Lingkungan Baru juga Membuatku Baru

Kini aku tinggal di lingkungan perumahan dengan individu yang heterogen, memiliki latar belakang profesi berbeda, sehingga lingkungan yang terbentuk pun lingkungan yang saling menghargai. Aku juga lebih bebas berekspresi dengan pakaian yang kukenakan, tak peduli harga mahal atau tidak.

Aku juga lebih berekspresi dengan make up karena aku suka make up, tanpa perlu takut dengan omongan orang. Aku lebih bebas menjadi diri sendiri dan hal ini secara tidak langsung mempengaruhi kondisi psikis keluarga kami. Anakku tumbuh lebih sehat, bugar dan juga ikut bahagia.

Aku mulai mencintai diriku sendiri dengan melakukan apa yang aku sukai seperti menulis, membaca buku hingga menonton drama Korea. Aku menjadi lebih fokus mengurus keluarga kecilku. Tidak ada lagi pandangan mata menyakitkan yang membuatku minder. Tidak ada lagi omongan orang yang bahkan mencibir gaji. Tidak ada lagi teman-teman yang fake dan yang isinya hanya mengeluh tentang keadaan padahal sudah berkecukupan. Aku bahagia.

Terus Berkarya

Ilustrasi Menulis
Ilustrasi./(dok. Pixabay.comStockSnap/Putu Elmira)

Aku terus berkarya, dan menulis di blog adalah salah satu hal produktif yang aku lakukan. Aku juga ikut beberapa komunitas blog dan menulis di sana. Aku juga pernah mendapat apresiasi dari salah satu tulisanku yakni mendapat hadiah giveaway dan itu membuatku bahagia. Aku akan terus berkarya dan terus belajar menulis dan memperbarui blogku.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓