Ibu Sosok yang Paling Memahamiku dan Tak Pernah Mengenal Keluh

Ayu Puji Lestari15 Nov 2019, 10:15 WIB
Ibu dan Anak

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: S-Tangerang

Melalui tulisan ini aku meyakini setiap orang mempunyai sosok “pahlawan” dengan definisinya masing-masing.

Aku sendiri memiliki pahlawan yang mengajarkanku banyak hal yaitu Ibuku.

Bukan saja karena telah melahirkan anak-anaknya ke dunia, merawat serta mencintai setulus hati, tapi ia juga mendidik dengan sederhana dan secara tidak langsung telah memberikan contoh bagaimana menjadi seseorang yang sabar menjalani segala ujian kehidupan. Suatu hari sebenarnya aku sudah menyerah menjalani kehidupan dengan kondisi pikiran yang kacau-balau, tapi senyuman dan respon perempuan yang melahirkanku membuat segala sesuatunya menjadi tenang.

“Untuk naik kelas, kita perlu menyelesaikan ujian,” Ibu menjelaskan kata-kata itu kepadaku. Bahwa setiap manusia diuji dengan cara dan waktu yang berbeda-beda. Menyelesaikan ujiannya juga beragam. Maka aku tidak seharusnya membanding-bandingkan keberhasilan seorang teman dengan keberhasilanku yang pada akhirnya menjadikanku murung.

Ibu Selalu Senantiasa Berpikir Positif

Ibu dan Anak
Ilustrasi ibu dan anak perempuan/copyright shutterstock

Aku mengagumi pola pikirnya yang selalu positif. Salah satu ciri khasnya yang telah melekat di dalam pikiranku yakni mengenai order-an kue ketika terkadang pelanggannya lupa membayar. Ibu selalu berkata “Rezeki nggak akan kemana, kalau lama tidak dibayar itu artinya harus diikhlaskan”.

Spontan aku menjawab; “Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan, Bu”. Bagi sebagian orang mungkin jawaban Ibu sepele, mengikhlaskan apa yang sedang diperjuangkan yang sebenarnya belum tentu aku sendiri mampu melakukannya. Tapi beruntungnya pelanggan Ibu tetap membayar meski beberapa waktu kemudian.

Tidak Mudah Menyerah

Ibu belajar membuat kue secara otodidak dan menyisihkan keuntungannya setiap hari sehingga dikemudian hari bisa membeli alat-alat untuk membuat kue lainnya. Tidak mudah putus asa dan ingin terus belajar, seperti itulah yang menggambarkan sosok Ibu.

Pernah suatu hari kami sedang bahu-membahu membuat berbagai jenis kue yang jika dihitung jumlahnya masing-masing jenis sampai ratusan. Ibu menyempatkan diri untuk mencoba membuat kue lainnya. Kau tahu? Meski gagal, Ibuku tetap tersenyum dan mengatakan; “Besok Ibu mau coba lagi, ini pasti ada yang kurang”.

Tetangga merasakan manfaat akan adanya Ibu diantara mereka sebab kue buatan Ibu dijual dengan harga yang tidak mahal dan memiliki rasa yang enak. Ketika aku tanya mengenai keuntungan yang didapat, Ibu menjawab; “Untungnya memang tidak banyak, yang penting pembeli tidak kecewa”.

Suka dan Duka Berjualan

 

Dari terbiasa membantu, sedikitnya aku paham bagaimana suka dan duka membuat dan menjual makanan. Pernah suatu hari ada yang order untuk suatu acara, tapi karena adanya kendala dari pihak pembeli (miscommunication) akhirnya dibatalkan. Padahal makanan sudah jadi dan keesokan harinya bisa diantar. Terbayang bagaimana lelahnya membuat dan sedihnya ketika makanan tersebut dibatalkan sebelah pihak. Namun Ibu tetap sabar dan mengikhlaskan kejadian tersebut.

Seperti itu dukanya, jika membahas sukanya tentu ada. Karena membuat kue sekaligus menjual, terkadang ada makanan yang sengaja disisakan untuk anak-anaknya dan berujung saling rebutan. Aku sendiri menjadi terbiasa tidak jajan karena di dalam pikiranku:

“Selagi ada makanan di rumah sudah sepatutnya aku mensyukuri dengan cara memakanannya”.

Bukan tanpa alasan aku mengutamakan makanan yang ada di rumah, beberapa kali aku mendapati Ibu bersedih hati karena makanan yang ia buat masih banyak tersisa. Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, jadilah saat itu aku menyalahkan diriku sendiri dengan berusaha untuk tidak menyia-nyiakan begitu saja masakan yang telah tersaji di rumah kami. Kawan, dari kebiasaan kecil itu aku jadi belajar bersyukur.

Upayaku untuk Membahagiakan Ibu

Ibu dan Anak
Ilustrasi ibu dan anak

Aku belum banyak membaca buku mengenai kepahlawanan begitu juga sejarah. Aku termasuk pribadi yang masih perlu giat membaca. Tapi satu hal yang ingin aku lakukan untuk pahlawanku yang sejak tadi diceritakan yaitu membahagiakannya.

Saat aku menjadi juara diperlombaan menulis bulan lalu, aku sempat menuliskan impian ingin membuatkan kedua orang tuaku toko kue. Mungkin seiring berjalannya waktu bukan hanya kue saja namun makanan lainnya juga. Entah apa yang membuatku gigih dengan salah satu impian itu tapi yang jelas ketika membantu Ibu membuat kue, impian tersebut selalu saja muncul.

Membahagiakan seseorang yang sangat berarti bagi kita tentunya akan membahagiakan diri kita juga. Aku percaya setiap orang memiliki pahlawan di kehidupan masing-masing atau mungkin kalianlah pahlawan bagi orang lain. Oleh karena itu, aku berharap agar semua orang senantiasa mensyukuri segala sesuatu yang saat ini dimiliki dan terus berjuang serta pantang menyerah seperti apa yang telah Ibu ajarkan kepadaku.

 

Ibuku adalah pahlawan bagi kehidupanku.

Tutur kata yang baik senantiasa terucap olehnya.

Ketulusan membuatku memahami bagaimana menjadi manusia penyayang.

Baginya kejujuran merupakan kunci penting untuk menjadi orang sukses.

 

Kebahagiaannya adalah melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik dan menjadi versi terbaiknya masing-masing.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓