Ayah Sosok Hebat yang Membentuk Pribadiku

Ayu Puji Lestari16 Nov 2019, 10:15 WIB
Ayah

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Ratna Novita - Jakarta

Kalau ditanya siapa sosok My Hero, My Inspiration, jawaban saya adalah ayah saya. Sebagai anak perempuan sulung, sejak kecil saya cukup dekat dengan almarhum ayah saya, walaupun bukan berarti saya dimanja berlebihan. Seperti ungkapan bahwa ayah adalah cinta pertama dari putrinya, waktu kecil saya sangat mengagumi ayah saya yang sepertinya serba bisa dan sangat kuat, pokoknya selama ada beliau semua akan berjalan aman dan lancar.Seiring berjalannya waktu, saya mulai punya pemikiran-pemikiran dan keinginan sendiri yang kadang kala bertendangan dengan beliau, karena itu disbanding dengan kedua adik saya, saya rasa saya yang paling sering melawan beliau, malah saya kasih beliau julukan “si Benar” karena saya merasa beliau itu selalu mau benar sendiri tanpa mendengankan pendapat orang lain, walaupun harus diakui beliau itu banyak benarnya, tapi hebatnya beliau tidak marahpada saya, malah saya merasa beliau berusaha instrospeksi diri.

Sepengetahuan saya, ayah saya orangnya jujur dan cukup terbuka, ketika saya hampir lulus SD, beliau cerita dan mambaritahukan kepada anaknya, khususnya saya, anak sulung, tentang beapa penghasilan yang diterimanya, jadi saya bisa memperkirakan bagaimana dengan penghasilan itu beliau harus menghidupi kami berlima, dampaknya untuk saya, saya jadi tidak mudah iri apabila teman memiliki barang yang bagus dan mahal, karena saya tahu bahwa ayah saya tidak membelikan saya barang-barang seperi itu bukan karena beliau tidak saying kepada anak-anaknya, tetapi karena memang ada keterbatasan, pelajaran untuk saya, kita tidak selalu dapat memiliki apa yang kita inginkan.

Perjalanan Panjang untuk Menggapai Cita Mendapat Dukungan Ayah

Ayah
Ayah dan Anak/copyright shutterstock

Pada saat lulus SMP, saya membuat keputusan yang agak “berani” karena sebagai seorang keturunan Tionghoa dan non muslim saya memilih melanjutkan SMA ke sekolah Negeri, sejak TK sampai SMP, saya, adik2 serta keluarga saya yang lain semua bersekolah di sekolah Katolik, tapi saya merasa jenuh di sekolah itu dan beberapa teman saya juga mendaftar ke SMA Negeri. Ibu saya kurang setuju, kalau ayah saya netral, tidak melarang tetapi tidak menganjurkan juga. Diam-diam saya urus sendiri surat-surat yang diperlukan untuk mendaftar, dan ketika semua beres baru saya bilang, saya mau tes masuk di sekolah negri, walaupun tetap mendaftar juga di sekolah asal saya, dalam pikiran saya, kalau bisa lolos bagus, kalau tidak ya apa boleh buat, lagi pula kalau lulusan SMA Negeri akan lebih mudah masuk perguruan tinggi yang bagus, karena saya berpikir seperti itu orang tua saya diam saja. Ketika akhirnya ternyata saya lolos, baru ibu saya agak panik, takut nanti saya dibuly karena minoritas, dll, tetapi ayah saya menyetujui, beliau bilang kalau saya yakin ya sudah coba saja, jadi akhirnya saya masuk ke SMA Negri tersebut, dan semua berjalan baik-baik saja. Yang membuat saya terkesan pada ayah saya, saya melihat bahwa di lingkungan tempat tinggal kami, ayah saya memang bisa bergaul dengan baik, walaupun kami minoritas, jadi saya menyadari bahwa beliau mengizinkan saya bersekolah di sekolah Negri karena beliau percaya pada saya bahwa saya bisa bergaul dengan baik juga di lingkungan yang berbeda.

Setelah lulus SMA, saya mengikuti penerimaan mahasiswa pergutruan tinggi negri, dan akhirnya berhasil diterima di Fakultas Hukum UNAIR Surabaya, saya belum pernah tinggal jauh dari orang tua, tapi kebetuan ada paman saya (adik ayah) yang tinggal di Surabaya, pertama kali ke Surabaya saya diantar oleh ayah saya,menginap di rumah paman, saya katakana kepada ayah saya bahwa saya lebih memilih untuk kos saja, tidak enak kalau tinggal di rumah paman saya. Ibu saya dan saudara yang lain kurang setuju, mereka bilang kos itu kurang aman, dll, lagi-lagi ayah saya berpendapat lain, beliau memberi kebebasan kepada saya untuk memilih, bahkan mengantarkan saya mencari dan melihat-lihat tempat kos disekitar kampus. Belakangan saya menyadari, mungkin waktu itu maksud ayah saya adalah memperlihatkan kepada saya lingkungan seperti apa yang saya dapatkan kalau saya kos, dan apakah saya yakin untuk tetap memilih kos di banding tinggal dengan paman saya.Sekali lagi saya berterima kasih kepada ayah saya atas kepercayaannya untuk membuat keputusan sendiri karena akhirnya saya bisa belajar mandiri dan merasakan menjadi anak kos.

Selama saya tinggal di Surabaya, orangtua saya hanya megunjungi saya pada saat wisuda, karena memang setiap liburan saya selalu pulang ke Jakarta, dan dalam seminggu beberapa kali saya selalu ditelepon oleh ibu saya, ibu kos saya pernah bercanda juga bahwa dia belum pernah bertemu orangtua saya, tapi herannya saya tidak merasa kalau saya tidak diperhatikan, tidak disayang, justru saya merasa kalau saya dipercaya untuk memilih tempat kos sendiri, kuliah, memilih teman. Mereka tidak merasa harus memeriksa apakah saya benar-benar kuliah, apakah saya memilih teman yang baik. Karena saya tetap dapat merasakan kasih sayang dan perhatian kedua orangtua saya.

Itulah yang saya rasakan, kehebatan orang tua saya, khususnya ayah saya dalam mendidik anaknya, selain pengalaman melihat bagaimana cara beliau selalu membantu orang-orang disekitarnya, menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi, dan prinsip prinsip hidup yang beliau pakai. Itu adalah warisan yang sangat berguna untuk saya.

Terima kasih, Papa.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓