Fimela Fest 2019: Psikolog Ungkap 2 Hal Penyebab Body Shaming

Anisha Saktian Putri18 Nov 2019, 10:30 WIB
Talkshow Body Shaming Fimela Fest 2019

Fimela.com, Jakarta Beberapa orang pasti pernah merasakan mendapat komentar negatif terhadap berat badan, kulit, rambut, atau anggota tubuh lainnya. Atau bahkan pernah melakukan body shaming terhadap orang lain.

Bahkan sebuah survei yang dilakukan bersama lebih dari 2.000 orang dewasa membuktikan bahwa 56%-nya pernah mengalami body shaming atau komentar tidak menyenangkan tentang penampilan mereka. Satu dari sepuluh orang dewasa pernah dikritik karena penampilan mereka.

Menurut Psikolog, Tara de Thours body shaming terjadi jika seseorang melecehkan, menghina, atau meledek terkait dengan tubuh. Body shaming bertujuan mempermalukan orang lain.

Body shaming ada pelaku dan korban. Walaupun berniat bercanda namun tetap saja sengaja dilakukan. Bahkan, tujuan nasehatan namun korban justru lebih malu akan dirinya itu termasuk body shaming,” papar Psikolog Tara, saat ditemui di Fimela Fest 2019, di Jakarta, (17/11/19).

Mengapa terjadi body shaming

Talkshow Body Shaming Fimela Fest 2019
Talkshow Body Shaming Fimela Fest 2019

Psikolog Tara juga mengatakan ada hal-hal mengapa seseorang melakukan body shaming,

1. Melihat fisik

Saat pertama kali bertemu oranglain, pasti hal yang pertama dilihat adalah fisik. Tara menjelaskan, inilah mengapa seseorang melontarkan kata-kata negatif seperti “kamu sekarang gendutan”, atau “kamu sekarang jerawatan”.

“Seharusnya kata-kata negatif tersebut tidak terucap karena kita tidak tahu hal apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut. Jadi sebaiknya saat bertemu hal-hal positif saja yang dilontarkan,” tambahnya.

2. Insecure

Tara mengatakan pelaku dan korban merasa insecure. Untuk pelaku body shaming biasanya menutupi kekurangan tubuhnya. Dan melampiaskan dengan mengomentari tubuh orang lain.

“Karena insecure pada tubuhnya, jadi komentarin tubuh orang lain seperti komen kamu gendutan. Pelaku senang melakukan hal itu, namun kesenangan tersebut hanya bersifat sementara,” tuturnya.

Sedangkan korban, sudah memiliki pemikiran negatif pada tubuhnya. Alhasil jadi lebih sensitif dan merasakan body shaming.

“Korban sudah tau tentang tubuhnya tanpa perlu dikomentarin kekurangannya. Dan korban jadi self shaming ini bahaya karena akan memicu depresi pada dirinya,” tutupnya.

 

#Growfearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓