Seorang Ibu Punya Peran Luar Biasa dalam Keluarga

Endah Wijayanti24 Nov 2019, 12:48 WIB
Diperbarui 24 Nov 2019, 12:48 WIB
tidak jahat

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Vicky Safira Jamis - Jakarta

Halo, apa kabar, Fimela Ladies? Semoga selalu sehat dan “dikuasai” oleh positive vibes agar dapat selalu membawa aura positif dan kebahagiaan bagi orang-orang disekitar, ya.

Sebenarnya saya sudah cukup lama vakum dalam dunia tulis-menulis tapi kali ini saya sangat tertarik dan bersemangat membagikan cerita yang bertemakan My Hero My Inspiration ini pada Fimela Ladies sekalian.

Cerita di bawah ini benar-benar saya alami tanpa ditambah atau dikurangi.

Dalam hidup saya, orangtualah the real hero that alive in this world. Namun, apa yang kemudian membawa saya untuk menceritakan ibu dibandingkan ayah saya di sini? Bukan berarti ayah tidak berjasa, beliau sangat berjasa bagi keluarga kami. Hanya saja, pengorbanan dan perjuangan ibu sangatlah berat di mata saya demi keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.

Ibuku, Laela Agustina, pada mulanya adalah seorang gadis Sumatera tulen yang bisa dibilang independen seperti karakteristik gadis Timur kebanyakan. Pernah merantau ke Negeri Gingseng selama dua tahun untuk bekerja di perusahaan tekstil di sana, memperbanyak pengalaman. Hingga akhirnya beliau bertemu ayah saat beliau bekerja di salah satu kantor cabang asuransi kesehatan di Kota Semarang yang mana ibu indekos di dekat rumah ayah. Kemudian mereka berkenalan, saling merasa cocok, dan memutuskan bersama membangun rumah tangga.

Yup, tentunya bukan hal mudah bagi ibu untuk menyesuaikan diri di lingkungan yang budayanya jauh berbeda dengan asal ibu sebelumnya. Pastinya bentrok-bentrok kecil di awal kehidupan ibu yang baru silih berganti datang. Namun, nyatanya 21 tahun berumah tangga hingga saat ini tak lantas membuatnya goyah malah justru ibu belajar banyak hal, seperti menjadi lebih sabar seperti karakter orang Jawa dengan hidup bersama ayah.

 

Ibu Selalu yang Paling Optimis

Ibu dan Anak
Ilustrasi./copyright shutterstock

Bermula ketika memutuskan untuk pindah di rumah yang telah ayah bangun di Kabupaten Semarang, meski sederhana namun rumah kami penuh dengan kehangatan. Meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai kantor asuransi demi merawat kami merupakan salah satu perjuangan yang pastinya berat bagi ibu, dengan pekerjaan ayah sebagai staf personalia di perusahaan swasta sebetulnya belum bisa benar-benar mencukupi seluruh kebutuhan primer-sekunder keluarga, terutama kami ketiga anaknya.

Namun, ibu selalu berusaha mencari jalan, mendaftar salah satu MLM, mengikuti training pegawai asuransi jiwa, bahkan menjadi reseller pembalut herbal wanita pun pernah ibu lakoni. Wanita yang hanya berdiam melihat suaminya mengalami kesulitan sendirian bukanlah karakter ibu kami. Maka dari itu beliau selalu memutar otak bagaimana cara menambah ekonomi keluarga.

Saat saya kelas 3 SMP, ayah resign dari pekerjaannya dan memilih berwirausaha karena dirasa gaji kantor belum cukup memenuhi kebutuhan kami. Ibu kemudian berjualan soto sapi di teras rumah eyang Semarang dibantu ayah, perjalanan jauh setiap hari dari rumah ke Semarang tak membuat mereka gentar.

Hingga suatu hari Allah seperti memberi ayah kesempatan untuk bekerja di suatu perusahaan kecil namun sedang membutuhkan personalia professional. Melalui rekomendasi temannya, ayah ditarik oleh perusahaan tower sinyal di Semarang. Awalnya ayah ragu, namun ibu meyakinkan ayah mungkin ini rezeki keluarga kami. Tak lama bekerja, naiklah jabatan ayah menjadi manajer personalia sekaligus sekretaris direktur. Dapat pinjaman mobil kantor, ruang kerja lebih layak dari kantor perusahaan sebelumnya. Bagaikan mendapat durian runtuh, bahagianya kami. Ayah pun bekerja dengan baik dan profesional.

Namun kelamaan perusahaan tersebut bermasalah dengan pajak, sebelum berbuntut panjang ayah mengundurkan diri. Ibu memberanikan diri mengajak ayah membangun bisnis laundry dari nol. Awalnya ayah yang ragu, tapi ibu telah berhasil membawa ayah keluar dari “zona nyaman” dengan berbisnis laundry hingga saat ini. Memang penghasilan dari laundry belum begitu cukup untuk memenuhi kebutuhan, tapi dari situ kami berlatih bagaimana bersyukur dan tetap optimis akan datang kembali masa di mana “bintang” kami “bersinar” kembali. Semoga suatu hari, setelah saya wisuda sarjana atau bahkan sebelumnya. Aamiin.

Memiliki ibu yang pemberani dan selalu positif adalah salah satu keberuntungan kami. Teima kasih, ibu dan ayah.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓