Selama Ada yang Memberi Ruang untuk Bercerita, Kita Takkan Kesepian

Endah Wijayanti22 Nov 2019, 14:45 WIB
tanda dewasa

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: V - Semarang

Suatu keberuntungan bagiku memiliki Bung Epa sebagai orang paling nyaman untuk diajak mengobrol, bahkan saat aku butuh nasihat atau sekadar pendapat. Aku memanggilnya “Bung” yang berasal dari kata “Ibung” (panggilan Tante dalam bahasa Lampung) karena Ibungku ini merupakan adik dari Ibuku yang asli Lampung. Sedangkan “Epa” dari namanya sendiri, Zulva Jamis. Saat masih kecil beliau tak bisa mengucap “Zulva” dan menjadi “Epa” yang akhirnya dipakai sebagai panggilan akrab di keluarganya.

Bung Epa ikut tinggal bersama suaminya yang asli Semarang, membuatku sering main ke rumahnya saat aku SMA di Semarang. Lumayan jauh dari rumahku yang ada di Semarang Kabupaten. Ketika aku butuh pandangan bagi masa depanku, atau sedang ada konflik dengan teman sepergaulan, bahkan dengan pacarku saat itu, selalu kulabuhkan pada Bung Epa.

Bagiku yang masih remaja tanggung saat itu, berbicara dengan ibu adalah hal menyebalkan karena apa yang beliau katakan sedikit “sensitif” bagiku. Mungkin karena aku merasa ibu tidak mengerti duniaku dan agak saklek dalam menasihatiku. Aku merasa lebih cocok ketika berbicara dengan Ibung yang usianya lebih muda dari ibu, jadi segalanya kukeluhkan padanya. Aku selalu merasa lebih baik saat mengobrol dengan Ibung, selalu bisa mendapat perspektif yang berbeda dengan ibuku. Hatiku terasa makin ringan ketika aku pergi untuk berbagi cerita dengannya. Aku tidak merasa sendiri.

 

Tak Pernah Benar-Benar Sendiri

zodiak
ilustrasi./Photo by Conner Ching on Unsplash

Hingga suatu malam, seperti tersambar petir aku mendapat kabar dari adikku bahwa ibu berencana pergi ke New Zealand untuk bekerja karena ekonomi keluarga yang pas-pasan sedangkan kebutuhan semakin membengkak. Aku sontak menangis saat itu juga, seakan tak bisa berhenti. Paginya, aku bertekad untuk tidak ke sekolah, tapi naik angkot menuju rumah Bung Epa. Padanya aku menumpahkan kekesalanku, mengapa ia tak menceritakan perihal rencana itu padaku. Aku tahu, ia sudah mengetahuinya.

“Ibung tidak berhak memberitahumu hal semacam itu, Ibumu sendiri yang akan memberitahumu jika memang waktunya dirasa tepat dan mungkin saat ini memang waktunya belum tepat bagimu untuk tahu. Maka dari itu kamu mendengarnya dari adikmu, yang dirasa Ibu lebih siap dengan kabar ini.”

Aku menangis di rumah Ibung. Ia memelukku dengan erat sambil mengelus punggungku, menenangkan aku.

Sampai pada tanggal keberangkatan, ibu tak kunjung berangkat. Ternyata ibu mengalami penipuan, kehilangan Rp10 juta untuk biaya keberangkatan dan lain lain. Marah ketika ditipu, tapi hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini adalah ibu tidak jadi pergi jauh dan aku makin menghargai waktu bersama Ibu hingga saat ini.

Ibung selalu menyenangkan dan dapat menenangkanku meski semakin tahun usianya bertambah. Harapanku, Ibung selalu sehat dan bahagia, agar bisa selalu mendengarkanku dan berbagi cerita bersamaku. I love you, Ibung Epa.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓