Bapak adalah Orang Pertama yang Menjadi Panutan dalam Hidupku

Endah Wijayanti25 Nov 2019, 15:40 WIB
ayah adalah panutan

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Sari - Sukoharjo

Bagiku, bapak bukan hanya sekadar sosok yang berperan sebagai pemimpin dan penyedia kebutuhan dalam keluarga. Tapi bapak berperan penting dalam mengajarkan ilmu yang terkadang tidak terpikirkan oleh orangtua lainnya. Pada umumnya orangtua menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan cerdas. Namun, bapak menyelipkan satu hal dalam mendidikku, yaitu mencintai budaya bangsa.

Bapak lahir dan besar di sebuah desa. Tahun 60-an, kala itu kondisi di sana masih sangat terpencil. Listrik belum masuk ke rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bilah-bilah bambu dengan lantai yang masih tanah. Untuk makan sehari-hari, masyarakat di sana hanya mengandalkan hasil bumi yang mereka tanam. Alat transportasi yang minim tidak bisa membawa mereka pergi ke kota sewaktu-waktu.

Bapak hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SD. Hal itu disebabkan karena kakek dan nenek tidak bisa membiayai sekolah bapak dan kedua saudaranya. Pada saat itu banyak anak yang putus sekolah. Bukan hanya karena masalah ekonomi, tapi faktor pengetahuan tentang pentingnya pendidikan pun kurang dimengerti oleh masyarakat.

Masa kecil bapak dilalui bersama teman-teman sebayanya. Mereka menghabiskan waktu untuk bermain dan membantu orangtua mereka bercocok tanam. Hanya sesekali saja mereka mengaji dan belajar. Namun, ada perbedaan yang sangat menonjol yang ditunjukkan bapak dibanding teman seumurannya.

Sejak usia lima tahun, bapak sangat menyukai pertunjukan wayang kulit. Di mana pun acara semalam suntuk itu diadakan, bapak selalu meluangkan waktu untuk menontonnya. Bahkan jarak tempuh puluhan kilometer pun dilalui meski harus berjalan kaki. Jadi tidak heran kalau bapak sering terlambat sampai di rumah karena terpaksa harus beristirahat dulu di suatu tempat. Namun, hal seperti itu sudah dianggap biasa oleh kakek dan nenek. Mereka mengerti akan kesukaan Bapak. Kakek nenek pun tidak merasa khawatir akan keamanannya karena bapak biasanya pergi bersama beberapa orang dewasa untuk menonton bersama.

Kegemaran bapak ternyata terus mengalir sampai beliau remaja. Saat kepindahannya ke kota ketika usianya menginjak 15 tahun untuk bekerja, beliau semakin menggandrungi kesenian tradisional itu. Dan sejak saat itu bukan hanya wayang kulit saja, tapi kesenian lain seperti keroncong, ketoprak, seni tari dan beberapa macam acara budaya lain mulai menarik minatnya.

Karena saking cintanya dengan acara-acara budaya semacam itu, bahkan ketika bapak sudah menikah dengan ibu, ibu seringkali ditinggal bapak untuk menyaksikan acara-acara itu sendirian dikarenakan Ibu selalu menolak untuk diajak karena tidak ada minat. Seringkali pada awalnya ibu protes. Namun, seiring waktu berjalan ibu memahami juga kebiasaan bapak.

 

Mengenal Tradisi sejak Dini

hari ayah
Ilustrasi./Copyright shutterstock

Saat usiaku memasuki umur 4 tahun, bapak mulai mengajakku menonton acara-acara yang bersifat kearifan lokal. Sejak hari itu bapak mulai mengenalkan acara-acara yang berbau tradisi padaku. Apalagi saat itu televisi masih menjadi barang langka untuk dimiliki kaum kecil. Jadi hiburan kami hanyalah menonton acara yang bersifat gratis.

Acara gratis yang sering diadakan kerapkali dikemas dalam bentuk kirab, sekaten, wayang kulit, ketoprak, dan sendratari. Bagi balita seusiaku, melihat kirab satu suro misalnya, menjadi hiburan tersendiri karena selain bisa melihat kerbau kiai slamet, aku juga bisa melihat keramaian yang beberapa diantaranya menjajakan makanan dan mainan tradisional. Namun inti dari diadakannya acara tersebut memang belum mampu kupahami. Hanya saja bapak selalu menyelipkan cerita mengapa acara tersebut diadakan.

Saat masuk usia remaja, bapak terus saja mengenalkanku pada acara-acara tradisional. Saat usiaku mulai bertambah, aku mulai memahami setiap acara budaya yang kunikmati. Aku pun mulai berpikir bahwa aku tumbuh menjadi anak yang berbeda dengan teman-teman seusiaku. Mereka mulai mengenal sinetron, bioskop dan lagu-lagu cinta. Sedangkan aku lebih memilih acara tradisional yang kadang-kadang jika aku ngobrol dengan teman-teman mereka suka mengecapku, “Seperti orang tua saja."

Saking senangnya pada seni, aku pun mulai ikut les tari yang diadakan sekolah. Selain itu aku juga mulai menekuni dunia sinden dan gamelan. Sesekali kegiatanku pun dipentaskan baik di sekolah maupun kampung saat acara HUT kemerdekaan. Aku juga pernah diajak teman untuk pentas ketoprak di kelurahan. Dan sejak saat itu aku hampir tidak pernah absen mengisi acara yang diadakan sekolah dan wilayah tempat tinggalku.

Seiring waktu berjalan, rupanya setiap ada acara yang berbau tradisi, bapak juga tidak pernah absen mengajakku menonton seperti dulu. Bapak juga tidak lupa menyelipkan banyak pelajaran tentang budaya. Dari situlah aku jadi punya wawasan tentang ilmu budaya.

Bapak adalah Pahlawanku

Ayah
Ilustrasi./copyright shutterstock

Sekarang aku sudah dewasa dan memiliki anak. Meskipun akhirnya aku tidak menekuni hobiku yang dulu dengan serius, tapi paling tidak sekarang aku bisa terus mewariskan ilmu yang pernah diajarkan bapak kepada garis keturunanku. Apalagi di era milenial seperti saat sekarang, di saat hal-hal yang berbau tradisi mulai ditinggalkan oleh generasi muda, aku bersyukur ilmu yang sempat kupelajari di masa lalu bisa aku turunkan pada generasi selanjutnya.

Meski teknologi semakin berkembang dengan menjamurnya Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan sebagainya rupanya bapak tetap bertahan dengan mencoba melestarikan budaya yang telah mendarah daging baginya. Sekarang ini penggemar acara budaya telah menjadi kaum minoritas di tengah gempuran gadget yang semakin canggih. Meski kadang ajakan bapak seringkali diabaikan oleh lingkungan, tapi bapak tidak pernah menyerah untuk menyebarluaskan ilmu kearifan lokal dengan menggunakan aplikasi gadget yang mudah dimengerti setiap orang.

Aku bangga pada bapak. Bapak yang belajar seni secara otodidak dan meski tidak punya ilmu lebih dalam hal budaya, tapi bapak tidak pernah berhenti untuk tetap mengenalkan pada banyak orang meski kadang hanya dianggap sebagai angin lalu. Dan karena bapak juga aku menjadi lebih menghargai budaya dan tidak dengan mudah melupakan warisan pendahulu-pendahulu kita. Apalagi di zaman sekarang, di tengah era modernisasi yang terus berkembang, kearifan lokal juga semakin ditinggalkan. Berganti dengan bentuk kesenian lain yang diadaptasi dari luar negeri.

Bapak pahlawan seni bagiku. Dia orang pertama yang menjadi panutan karena memiliki kontribusi, dedikasi dan konsistensi terhadap seni dan budaya yang disebarkan pada banyak orang. Penyampaiannya selama ini sangat membekas hingga membuatku bisa semakin mencintai budaya Indonesia hingga sekarang.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓