Ibu dan Mendiang Ayah Selalu Jadi Pahlawan dan Inspirasiku

Endah Wijayanti26 Nov 2019, 08:15 WIB
maaf dan trauma

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: S - Wonogiri

Kulihat senyumnya selalu mengembang merekah. Tak kudapati sedikit pun dia bercerita tentang apa yang dirasakan terkait rasa sakitnya. Dialah ayahku. Orang yang sudah divonis dokter tentang sakit ginjalnya yang tak berfungsi dengan normal. Kulihat tubuhnya yang dulu segar bugar kian mengurus. Rambut tebalnya semakin menipis. Kudapati sekali-kali beliau kesulitan bernapas. Aku berpura-pura tak tahu tentang hal itu. Aku berpura-pura tak tahu karena beliau sudah sangat bersusah-payah menyembunyikan rasa sakitnya dari orang lain. Aku, ibuku, dan adikku pasti merasakan hal yang sama. Walau segala usaha telah kami coba untuk kesembuhannya, tapi apa daya kami manusia jika Tuhan sudah menentukan takdirnya.

Ayahku yang bekerja sebagai kepala keluarga seolah memiliki beban berat dalam pikirannya. Bukan rasa sakit yang dirasakannya. Sore itu, ayahku bicara padaku sebagai anak tertua tentang apa yang akan terjadi pada keluarga kami. Bagaimana adikku sekolah dan kuliah. Aku yang mungkin menggantikan perannya sebagai kepala keluarga untuk mengurus ibu dan adikku. Aku terdiam seketika. Aku tak bisa menjanjikan apapun untuk ayahku saat itu. Seolah kata-katanya sebagai suatu pertanda akan tanggung jawabku yang baru dan perginya dia ke dunia lain. Kutahan rasa sesak di dadaku yang ketakutan setengah mati jika hal buruk menimpanya. Setiap kali aku menangis di sudut ruangan di kamar itu. Dinding tebal menjadi saksi bisu kesedihanku.

Benar saja, berapa minggu kemudian ayahku tiada. Kusiapkan mental sekuat jiwa raga untuk menerima keadaan yang terjadi. Aku tak menangis bukan berarti aku tak bersedih. Aku sudah sangat lama menangis dan menahan semuanya seorang diri. Aku hanya tak ingin memperlihatkan kesedihanku di depan orang lain (aku belajar hal ini darimu, Ayah). Aku tak ingin adik dan ibuku menjadi tambah sedih. Kuperlihatkan ketegaranku di depan semua orang.

Aku belajar dari ayah arti tanggung jawab baru sebagai tulang punggung keluarga. Menyembunyikan semua luka di hati dengan rapi karena kehilangan orang yang amat tersayang. Kuadukan semua keluhku hanya pada Sang Pemilik Kehidupan. Kekhawatiranku tentang mampu tidaknya aku menggantikan peran ayahku selalu menghantui hari-hariku. Aku takut tak bisa memberi lebih baik dari apa yang sudah ayah berikan untuk keluarga kecil kami. Dadaku seolah berkecamuk meragukan diri sendiri.

 

Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Ilustrasi
Ilustrasi. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Bagaimanapun, terima kasih ayah, sudah menjadi pahlawanku. Selalu ada untuk keluarga kecilmu. Selalu membuat kami tertawa dengan guyonan-guyonan lucumu yang sekarang tak akan pernah kutemui di manapun. Terima kasih telah mengajarkanku arti tanggung jawab baru sebagai tulang punggung keluarga. Terima kasih untuk tidak mengeluh tentang rasa sakitmu di depan anak-anak dan istrimu. Terima kasih untuk selalu tak membuat kami khawatir. Terima kasih masih tersenyum di detik-detik terakhir hidupmu dan membuatnya seolah-olah engkau baik-baik saja. Maafkan aku yang belum bisa menjadi orang sebaik engkau dan doakan aku dari sana agar aku mampu setegar engkau suatu saat nanti.

Seolah mengerti kebimbangan dalam hatiku, ibuku tak berkata apa pun. Aku tahu ibuku pun tak ingin membebaniku. Tak pernah beliau sekali pun membahas kondisi keuangan keluarga setelah kematian ayah. Ibuku tak pernah meminta. Sungguh, sekalipun tidak. Dia selalu merasa cukup dengan apa yang telah aku beri (rezeki dari Allah) walaupun aku tahu bahwa itu sungguh tak lebih banyak dari apa yang sudah ayah berikan.

Ibuku juga diam-diam tak ingin membebaniku. Di usianya yang mulai menua, beliau membantuku mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga kami. Beliau teramat sempurna untukku. Aku bahkan belum bisa diandalkan. Tapi, terima kasih ibu sudah mempercayaiku. Terima kasih ibu untuk selalu baik-baik saja.

Setelah kematian ayah, kami menjalani hidup dengan seolah-olah semuanya baik-baik saja. Aku yakin bahwa masing-masing dari kami menyembunyikan lukanya sendiri-sendiri. Sehebat itu ayah mengajarkan keluarga kami untuk hidup dengan bahagia dan tak meratapi kesedihan secara berlarut-larut.

Bagiku, ibu dan ayah akan selalu jadi pahlawan dan inspirasi pertama dalam hidupku ketika melakukan sesuatu. Aku tak tahu jika menjadi orang tua bisa serumit itu. Aku tak tahu jika menjadi orangtua berarti tak ingin memperlihatkan kesusahan maupun kesedihan di depan anak-anaknya. Aku pun juga akan begitu. Satu hal yang akan aku ingat bahwa jangan pernah membuat perhitungan dengan orangtua karena mereka pun tak pernah mempedulikan berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk kebahagiaan anaknya.

Terkhusus untuk ayah dan ibuku yang pada bulan ini ulang tahun, terima kasih sudah melahirkan dan membesarkanku hingga kini. Aku bersyukur lahir di keluarga kecil kalian. Bagaimana pun, aku selalu mencintai kalian.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓