Berjuang untuk Sembuh, Aku Yakin Tuhan Mendengar Doaku dan Orangtuaku

Endah Wijayanti27 Nov 2019, 14:15 WIB
berjuang untuk sembuh

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: K - Jawa Timur

Sebenarnya aku sangat jarang bercerita tentang hidupku kepada orang lain bahkan teman terdekatku atau keluarga. Aku menulis cerita ini pun adalah hal pertama aku menceritakan bagaimana hidupku, bahkan aku menginginkan orang lain tidak tahu. Tapi setelah aku berpikir, mungkin ini bisa menjadi motivasi bagi Sahabat Fimela yang sedang sakit dan mempunyai harapan bahwa kesembuhan akan segera menjadi kenyataan. Mengapa aku bisa bicara seperti itu karena aku pernah menjadi pesakit yang hampir tidak percaya aku bisa sembuh, tapi alhamdulillah hingga saat ini aku masih bisa hidup sehat. Bukti bahwa Tuhan mendengarkan doaku dan orangtuaku.

Aku dari SD hingga SMA tidak pernah mengalami sakit berat, paling hanya demam biasa. Hingga awal perkuliahan masuk sekitar tahun 2014, aku mengalami sakit bagian pinggul dan mengakibatkan berjalan dengan pincang, malu sebenarnya tapi bagimana lagi. Itu berlangsung sangat lama hingga aku menyadari ada beberapa benjolan ditubuhku.

Sempat takut itu yang aku rasakan, bagaimana kalau aku punya penyakit yang mematikan. Berjalannya waktu aku merasakan tubuhku semakin lemah, aku masih berjalan pincang dan benjolan di tubuhku semain bertambah. Pengobatan medis telah aku lakukan dari berbagai RS dengan beberapa macam tes pemeriksaan dari mulai rontgen, CT Scan, tes darah, dan sebagainya.

 

Beragam Diagnosis

mengatasi cemas
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Dokter A mengatakan jantungku bermasalah, dokter B mendiagnosis benjolanku adalah tumor jinak, dokter C mendiagnosis pengapuran tulang dan tumor, dokter D mendiagnosis pembengkakan biasa. Diagnosis yang berbeda dari dokter membuat aku jadi kepikiran sakit apa sebenarnya aku ini karena hampir satu tahun belum ada perubahan.

Selain itu aku mengikuti beberapa terapi tetapi hasilnya sama saja. Tindakan non medis juga aku lakukan tapi ya tidak mendapat efek apapun. Sampai aku berfikir kalo sakitku tidak akan bisa sembuh dan berakhir dengan kematian. Hingga berjalannya waktu berat badanku yang awalnya 46 turun menjadi 32 kg, rambut selalu rontok, setiap malam aku demam dan susah tidur, itu pun aku masih menahan rasa sakit di pinggul dan kakiku yang menyebabkan aku hanya bisa tidur miring sebelah kiri karena untuk berganti posisi ataupun bangun akan sangat sakit.

Tetapi meskipun aku mengalami sakit seperti itu aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Kedua orangtuaku hanya tahu aku punya benjolan tapi tidak bercerita detail tentang kesakitanku apa saja, karena aku pikir mengatakan sakit kepada kedua orangtuaku akan menambah beban untuk mereka karena selain membiayaiku kuliah mereka masih menanggung beban biaya pengobatanku. Aku hanya tidak ingin mereka khawatir.

Di setiap sujudku aku selalu meminta kesembuhan kepada Tuhan bagaimana pun caranya, bahkan setiap ibu dan bapak telepon aku mengatakan baik-baik saja dan mohon doanya agar diberi kesembuhan. Aku yakin setiap sujud kedua orangtuaku yang diminta hanya kesembuhan. Aku bersyukur mempunyai mereka.

Berjuang untuk Sembuh dengan Dukungan Orangtua

perempuan cemas
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/vipubadee

Hingga puncaknya Juli 2016 di rumah, untuk bangun aku tidak bisa. Sorenya entah bagaimana aku tidak sadarkan diri. Orang-orang sudah mengatakan aku telah tiada dan akhirnya dibawa ke klinik terdekat setelah dicek memang aku telah tiada. Tetapi karena keluarga tidak percaya, aku akhirnya dibawa ambulans ke RS.

Entah bagaimana aku sadar di pagi harinya, aku yakin atas kuasa Tuhan sungguh luar biasa. Singkat cerita aku menjalani pemeriksaan seluruhnya dan di diagnosis TBC Limfadenitis (peradangan kelenjar getah bening). Akhirnya aku disarankan untuk obat jalan karena kalau tindakan operasi tidak memungkinkan karena ada sembilan benjolan.

Kupikir sakitku akan sembuh, Tuhan masih mengujiku selama tiga bulan aku tidak bisa berjalan sama sekali, hanya bisa tiduran. Sungguh aku berterima kasih kepada orang tuaku beliau merawatku dengan sabar, memapahku untuk mengajari berjalan. Aku sangat bangga punya mereka. Setiap doaku aku berharap bisa sembuh, karena keinginan orangtua ingin melihat anaknya sehat. Aku berpikir aku adalah beban mereka, hanya bisa menyusahkan mereka, menghabiskan biaya hanya untuk pesakit sepertiku. Setelah pengobatan selama dua tahun hingga pertengahan 2018 mengonsumsi obat akhirnya aku bisa hidup sehat kembali.

Semua berkat doa kedua orangtuaku dan tekadku untuk sembuh, karena aku punya keyakinan Tuhanku punya banyak perantara dalam setiap menyelesaikan masalah. Dalam diriku aku tanamkan, “Aku harus sembuh dan membuktikan bahwa aku kuat karena aku punya pahlawan dalam kehidupanku, yaitu kedua orangtuaku."

Doaku sampai saat ini semoga kedua orangtuaku selalu dalam lindungan-Nya karena mereka adalah pahlawan dalam perjalanan hidupku. Untuk Sahabat Fimela yang sedang berjuang apa pun sakitmu, kalian harus punya semangat sembuh karena kalian berhak menjadi pahlawan dalam hidup kalian sendiri dan Tuhan bersama kalian.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓