Hidup Boleh Saja Pas-pasan, tapi Harapan Jangan Sampai Terbatas

Endah Wijayanti28 Nov 2019, 11:45 WIB
guru bali

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: JH - Jember

Ada malaikat yang terbiasa tertawa dalam luka,

Malaikat yang kadang diam walau didera karam,

Malaikat yang selalu ada,

Malaikut itu bernama Bapak.

Pukul enam pagi aku sudah duduk di depan kaca. Ibu lengkap dengan sapu di pinggangnya sibuk menyisir, mengepang rambut dan mendandaniku dengan sigap. Ibu seolah tak pernah kehabisan ide soal gaya rambut anaknya setiap berangkat ke sekolah. Bukan main, koleksi bandana dan jepit rambutku boleh dikatakan sangat lengkap kala itu, berbagai warna, ukuran dari model lama dan terbaru ada. Itulah mengapa kasih sayang seorang ibu memang tak akan ada ujungnya, segala tenaga pasti akan tercurahkan untuk anaknya.

Di depan rumah, bapak sudah siap mengantarku ke sekolah. Kala itu aku masih duduk di Taman Kanak-Kanak, tapi semangat bapak seolah hendak mengantarkan anaknya wisuda. Semangat yang tak berubah selama belasan tahun. Tak pernah sedikit pun bapak menunjukkan wajah lelahnya saat mengantarkan putrinya walau aku tahu beliau seringkali kurang tidur dan harus bangun pagi buta mempersiapkan berbagai hal.

Dengan sepeda hasil pinjaman paman, sepanjang jalan menuju sekolah menjadi momen hangat. Bapak akan memberikan nasihat-nasihat pamungkasnya. Diucapkannya berulang-ulang bahwa aku harus berhasil dan punya masa depan yang baik. Saat itu aku tak tahu betul masa depan itu apa, yang aku tahu kata bapak aku harus rajin sekolah untuk memiliki masa depan gemilang, dan aku betul-betul berusaha melakukannya. Tentunya demi bapak.

Sekolah entah mengapa bersifat magis buatku. Di saat murid lain menanti-nanti bel jam istirahat berbunyi, aku justru sedih jika guru harus mengakhiri pelajaran. Buku-buku pelajaran, tulisan di papan, jadwal piket mingguan, bercerita di depan kelas, hingga ujian akhir adalah berbagai hal yang membuatku jatuh cinta. Eits, tapi jangan salah. Semangat empat limaku ternyata tidak serta merta membuatku berhasil untuk menorehkan prestasi.

Seringkali tangisan justru hadir setelah penerimaan rapor usai. Aku sangat terpukul melihat nilai-nilai yang kudapat jauh dari kata sempurna. Sebagai seorang anak kecil aku belum tahu banyak soal berlapang dada. Sebagai anak “bau kencur” yang aku tahu saat itu aku sudah berusaha dan aku harus jadi juara. Sungguh keluguan seorang gadis TK dalam memaknai keberhasilan. Bapak seolah suporter bola yang menyemangati timnya di arena hijau. Bapak mengatakan aku boleh kecewa dengan hasil, tapi tak boleh berhenti berusaha. Bapak mengatakan aku justru sangat hebat dengan semua usahaku, maka esok harus berjuang lebih keras lagi.

 

Bapak yang Selalu Melakukan yang Terbaik

bapak pahlawanku
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@priscilladupreez

“Nanti Bapak akan sampaikan kepada Tuhan, kalau kamu ingin sekali jadi juara kelas. Semoga di lain waktu bisa terkabul, sekarang kita usaha lagi sama sama ya.” Aku peluk erat bapak, lalu kami makan bersama masakan ibu. Hari itu mungkin hari yang buruk buatku, tapi bapak dan ibu bisa mengubah situasi jadi sangat menenangkan.

Doa kami didengar. Pada suatu siang yang sangat cerah aku menyaksikan bapak maju ke depan kelas setelah nama anaknya dipanggil sebagai juara. Ya, pada hari itu pahlawanku terlihat bangga dan bahagia untukku. Aku terharu, sebagai seorang anak kecil aku membuat janji dengan Tuhan di dalam hati. “Tuhan, Aku janji akan selalu berusaha untuk Bapak dan Ibu, di sepanjang hidupku.”

Hasil kerja keras bapak dan ibu membanting tulang siang dan malam berhasil mengantarkanku dari jenjang pendidikan satu ke jenjang yang lebih tinggi. Saat pengumuman penerimaan sekolah menengah pertama aku justru berdoa untuk mendapatkan bangku di pilihan kedua karena aku tak mau membebani orangtua dengan biaya fantastis karena sekolah di tempat favorit. Aku rasa aku sudah terlalu menyusahkan bapak dan ibu, aku tak sangggup jika harus menggandakan beban mereka.

Waktu pengumuman tiba. Dengan wajah berbinar-binar bapak meminjam koran dari tetangga. Saat itu pengumuman kelulusan sekolah negeri akan diinformasikan melalui koran. Bapak berulang kali berteriak, “Bu, anakmu lulus di SMP nomor satu di kota!” Rasa takut menguasai diriku, aku merasa bersalah, karena aku tahu biaya sekolah di sana tidak main-main. Ya, aku meneteskan air mata di depan bapak dan ibu.

“Nduk, Bapak tahu betul yang ada di pikiranmu. Soal biaya, 'kan?”

“Iya Pak, kata orang-orang kita ini enggak akan mampu bayar biaya SPPnya.”

“Loh ya ndak boleh menyerah. Soal uang itu sudah jadi urusan Bapak. Tugasmu hanya satu, belajar dan belajar. Pasti ada jalan percaya sama Tuhan.”

Kalau malaikatku sudah bertekad dengan penuh keyakinan, maka mana sanggup aku mematahkan secuil pun tekadnya. Hidupku boleh saja pas-pasan, tapi perjuanganku tak boleh berbatas. Mental pejuangku sedikit demi sedikit terbentuk. Tiada hari tanpa berjuang. Bapak bekerja sekeras mungkin siang malam, dan aku pun tak henti belajar tanpa kenal waktu. Kami bagaikan tim yang punya tujuan sama, mewujudkan mimpi-mimpiku.

Aku Tahu Doamu Tak Pernah Putus

hari ayah
Ilustrasi./Copyright shutterstock

Kenangan yang tak akan aku lupakan adalah soal Rp50 ribu terakhir. Di akhir bulan aku harus membeli buku baru yang akan digunakan sebagai bahan ujian tengah semester. Saat aku meminta uang, seperti biasa bapak tanpa pikir dua kali langsung mengeluarkan uang dari dompetnya. Tapi saat itu berbeda, aku tahu betul bahwa isi di dompetnya tersisa satu lembar Rp50 ribu, lembaran terakhir yang ia miliki di akhir bulan.

Melihat wajah sedihku bapak langsung cepat-cepat berkata, “Pokoknya besok harus beli buku ya nduk, ujianmu sangat penting.”

“Iya, Pak,” jawabku lirih

“Besok kita cobain makan mi instan rasa baru dulu ya.” Mendengarnya hatiku runtuh. Bapak benar-benar pahlawan buatku.

Jasa bapak tak hanya sebatas memfasilitasiku untuk meraih mimpi. Bapak sangat berjasa dalam memberikan pemahaman-pemahaman soal hidup. Bapak adalah laki-laki pertama yang membebaskan anak perempuannya dari belenggu stigma soal perempuan.

Orang bilang perempuan ujung-ujungnya hanya akan berakhir di dapur,

Orang bilang perempuan tak butuh sekolah tinggi-tinggi,

Orang bilang perempuan tak selayaknya punya karir yang hebat,

Orang bilang perempuan bekerja penuh pada tugas domestik di rumah,

Ya, seolah-olah perempuan tak berdaya dan tak punya pilihan.

Bapak secara konsisten menegaskan kepadaku bahwa tak ada hubungannya antara genderku dan masa depan. Bapak selalu mengatakan aku harus jadi wanita cerdas, untuk melahirkan generasi cerdas. Karena wanita adalah rahim pembangunan bangsa.

“Dengan kamu berjuang untuk masa depan, kamu juga berjuang untuk kaummu, kaum perempuan, jadilah inspirasi,” kata bapak untuk kesekian kali menguatkanku.

Belasan tahun kata-kata itu menemani perjalananku. Memberi energi ketika jatuh, merangkul ketika kecewa, dan menghapus rasa takut yang kadang menghantui. Time flies so fast, tak terasa wishlist satu demi satu terealisasi. Perjuangan dan segala pengorbanan bapak tak sedikitpun mengecil maknanya, karena darinya semua hal jadi mungkin meski aku perempuan.

Bapak, meski kita berjarak beribu kilometer kini aku tahu doamu tak pernah putus. Aku tahu semangatmu akan mimpi anaknya tak lekang oleh waktu. Pegang janjiku, perjuanganmu tak akan sia-sia, sedikit pun tak akan sia-sia.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓