Bagi Saya, Punya Ibu Tiri adalah Hal Terbaik yang Diberikan Semesta

Endah Wijayanti02 Des 2019, 11:53 WIB
punya ibu tiri

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Christabel Jane - Tangerang Selatan

Ibu tiri tak sekejam ibu kota, kalimat ini bagi saya adalah benar adanya. Ibu tiri saya adalah hal terbaik dalam sepanjang hidup saya selama 38 tahun ini.

Padahal ketakutan banyak orang ketika memiliki ibu tiri, mungkin nasibnya bisa seperti Arie Hanggara yang dikasihkan tragis. Sosok ibu tiri begitu menyeramkan dan membuat bulu kudu merinding dalam film itu.

Tapi, saya tidak pernah merasa takut. Entah kekuatan apa yang membuat saya, ketika itu berusia lima tahun merasa semua akan baik-baik saja meski saya akan tinggal dan diasuh oleh ibu tiri saya.

Sebagai anak kecil yang belum bisa membayangkan bagaimana kehidupan setelah orangtua berpisah, saya ketika itu pasrah. Ketika bapak saya akhirnya mengambil saya dari ibu kandung dan tinggal dengan ibu baru.

Masa kecil saya dengan ibu tiri tidaklah kelabu. Beliau mengasuh dan merawat saya tanpa pilih kasih. Padahal kehadiran saya mungkin bisa saja menjadi pengganggu dalam kehidupan rumah tangganya bersama dengan kedua anaknya hasil pernikahan dengan bapak.

Saya mendapatkan kasih sayang yang sama dan perhatian yang sama. Bahkan bisa dikatakan saya sama sekali tidak merasa saya di anak tirikan.

Waktu berjalan, saya si bocah kecil beranjak remaja, dewasa dan akhirnya menikah dan memiliki anak. Kehidupan saya sangat dekat dengan ibu tiri saya. Bagaimana ketika saya melewati masa remaja yang penuh dengan perubahan fisik emosi, ibu tiri sayalah yang berada bersama saya.

Bahkan saya sadar ada kalanya saya menyakiti beliau dengan tingkah pola saya yang cukup menyusahkan. Saya ingat betul bagaimana saya suka kabur kalau disuruh tidur siang. Bagaimana saya ngumpet ketika harus minum obat. Dan semua tidak membuat beliau marah.

 

Operasi Pengangkatan Rahim

Ilustrasi bunga dari kertas
Ilustrasi. (Sumber: Istockphoto)

Dan momen yang paling tidak bisa saya lupakan adalah ketika saya sakit dan harus mengalami operasi angkat rahim, ibu tiri sayalah yang berada di samping saya. Saya menangis kencang menahan rasa sakit dan mengalami pendarahan hebat. Bahkan ketika saya dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadar, ibu tiri saya yang berada di samping saya, menangis dan berteriak untuk saya tetap sadar.

Ketika saya menjalani berbagai pengobatan untuk kesembuhan fisik saya dan psikis, ibu tiri saya yang menjadi kekuatan bagi saya. Dia tidak pernah membuat saya untuk meratapi nasib, menangis dan makin terpuruk karena perubahan yang terjadi dalam hidup saya.

Beliau selalu mengatakan kepada saya, ”Semua akan baik dan pasti baik, Kak!" Begitulah selalu pesan kalau saya sedang merasa jatuh.

Baginya hidup ini akan baik saja ketika kita mampu mengatakan baik dan melaluinya dengan tetap sabar.

“Sabar ya, Kak!”

“Bersyukur saja!”

Meski saat ini ibu kandung saya pun masih dekat dengan saya, namun bagi saya ibu tiri saya adalah inspirasi saya. Beliau pahlawan dan inspirasi dalam kehidupan saya.

Bagaimana ia tulus mencintai saya meski saya bukanlah anak dari rahimnya sendiri. Meski saya adalah anak tiri, tapi cintanya membuat saya ingin membahagiakannya di masa pensiun yang sebentar lagi menyapa kehidupannya. Saya mau kita bersama sama sama untuk bisa menjalani kehidupan ini dengan mengatakan. “Semua akan baik dan pasti baik, untuk kita, Ma!”

 

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓