Kakak Sulungku Rela Lama Melajang demi Adik-adiknya

Endah Wijayanti02 Des 2019, 13:45 WIB
kepribadian

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Devi Sianturi - Medan

Hidup memang penuh dengan lika-liku. Banyak cerita suka dan duka di dalamnya. Orangtuaku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Ayahku meninggal ketika aku berumur sembilan tahun lebih tepatnya ketika aku kelas 3 SD dan ibuku meninggal ketika aku berusia masih kecil.

Aku memiliki empat saudara. Kedua kakakku perempuan sudah menikah sejak lama, hanya kami bertiga yang tinggal di rumah kontrakan sejak kami ditinggal orangtua kami. Sejak ditinggal oleh orangtuaku, hidup kami jelas berbeda dan serasa tidak ada yang membimbing. Khususnya kami bertiga.

Saudaraku yang laki-laki ada dua. Anak yang sulung dan bungsu dan sedangkan aku anak yang keempat. Seperti yang kuutarakan diatas bahwasanya kakak perempuanku yang kedua dan ketiga sudah menikah sebelum ibuku meninggal. Jadi secara otomatis mereka sudah mempunyai keluarga masing- masing dan mereka hanya fokus pada keluarga mereka. Dan perhatian mereka kepada kami bertiga berkurang dan tidak seperti kami bersama dulu. Mereka hanya menanyakan bagaimana kabar saja dan tidak membantu kami secara ekonomis.

Dengan keaadan yang di luar kehendak kami, kami dipaksa oleh keadaan untuk mandiri dan dipaksa bersikap dewasa terhadap situasi yang ada. Saudaraku yang sulung saat itu masih berusia 25 diharuskan untuk menjadi wali dan sebagai pengganti orangtua kami yang sudah meninggal.

Dia dipaksa oleh keadaan untuk membiayai kami adik-adiknya. Hidup kami bertiga memang sangat menyedihkan saat itu. Sejujurnya adikku yang bungsu tidak mengenal ayahku dan hanya banyangan samar-samar saja dia mengingat ayahku, karena dia saat itu berumur 6 tahunan gitu. Begitu pun dengan aku yang sudah tidak merasakan kasih sayang orangtua sejak lama.

Hidup memang tidak bisa ditebak. Namun, beruntung ada kakak sulungku. Dia melakukan berbagai pekerjaan. Dia selalu kuanggap pahlawan dalam hidup kami. Dia mencoba sosok orangtua bagi kami. Pada tahun 2010 dia pernah di-PHK dari pekerjaannya sebagai satpam. Saat itu kami tidak mempunyai apapun. Beras tidak ada, makanan apa pun tidak ada. Pada saat itu aku dan adikku yang kecil harus membayar iuran sekolah. Abangku selalu mencari jalan keluarnya. Dia meminjam ke tetangga dan mengatakan akan segera dilunasi setelah dia bekerja sebgai kuli bangunan karena saat itu dia diputus hubungan kerja oleh perusahaannya. Aku benar benar mengingat hal itu, saat dia harus meminjam uang kepada tetannga demi kami adik-adiknya.

Seiring berjalannya waktu aku tamat SMP dan adikku masih kelas 1 SMP. Abangku diterima bekerja sebagai karyawan di PT swasta, tetapi gajinya tidak banyak, dan hanya pas-pasan saja. Pada saat itu kami bertiga makan malam bersama, kami mengobrol-obrol seperti biasanya. Apa kegiatanmu hari ini dan apa yang kau lakukan di sekolah. Seperti itulah biasanya pembicaraan kami. Ya kami membicarakan kegiatanku dan kegiatan adikku disekolah.

Tiba- tiba pembicaraannya mengarah ke permasalahan ekonomi. Dia mengatakan bahwa gajinya pas-pasan dan hanya cukup buat membayar kontrak atau sewa rumah saja. Kami hanya mendengar dan tidak tahu harus berbuat apa-apa. Umur kami masih muda, tetapi harus dituntut gimana menyeleaaikan permasalahan ini. Akhirnya dia mengatakan intinya. Bahwa kami akan diadopsi atau istilahnya disekolahkan oleh orang lain dan kami harus melakukan sesuatu di rumah orang tersebut.

Pada malam tersebut, aku rasanya tidak tahu harus berbuat apa dan hanya pasrah dengan keadaan. Dan saat itu aku hanya mengatakan bersedia. Tetapi adikku awalnya menolak karena pasti akan berbeda nanti keadaan. Dia berpikir pasti harus bekerja nanti setelah pulang sekolah. Dan dia mencerikan keluh kesahnya saat itu. Aku saat itu yang mau naik kelas 1 SMA harus segera menentukan pilihan.

Akhirnya kami berdua tinggal dan disekolahkan oleh mamak tua kalau istilah orang Batak menyebutkan. Seiring berjalannya waktu ternyata semua berubah, apa yang dijanjikan tidak sesuai dengan yang didapat. Karena keluarga tempat yang aku dan adikku tinggali itu mempunyai bisnis makanan yang digerai dari pagi sampai sekitar pukul 10 malam. Aku harus bangun pagi, memasak makanan yang harus dijual, beres beres rumah dan sebagainya, dan pergi sekolah pukul 7-an. Dan begitu juga adikku.

Setiap pulang sekolah sekitar pukul 2 siang aku harus segera pulang dari sekolah, dan tidak boleh terlambat karena pasti bertanya dan tidak mengenakkan hati. Adikku sudah duluan pulang karena masih SMP saat itu. Dia langsung bergegas pulang dan pergi menggembalakan sapi di ladang. Rutinitas sehari-harinya adalah menggembalakan sapi di ladang setelah pulang sekolah dan selesai sampai pukul 6 sore.

Sedangkan aku setelah pulang sekolah bekerja di rumah, membereskan segala hal dan bekerja sampai malam. Aku juga memberikan makanan ternak mereka di sore hari. Seiring berjalannya waktu, kami terlalu lelah dengan keadaan. Begitulah keadaan sampai setengah tahun lamanya. Sejujurnya aku pernah tertidur di kelas saat pelajaran karena kurangnya istirahat dan tidur dirumah tersebut. Adikku juga lernah demam tinggi tetapi harus menggembalakan sapi di ladang.

 

Bertahan dalam Masa-Masa Sulit

mencintai diri sendiri
ilustrasi./Photo by Cxpturing Souls from Pexels

Pada suatu waktu ada libur. Kami meminta kepada mak tua ini supaya pulang kerumah abang kami yang sulung untuk beberapa hari, dan dia menyetujuinya. Adikku langsung mengatakan kepada abang kami bahwasanya adikku merasa tidak nyaman dan harus pulang. Karena tidak sanggup anatara bekerja dan sekolah. Aku juga menceritakan yang sebenarnya. Bahwa itu benar adanya.

Aku mengatakan aku masih bisa bertahan, dan tidak apa apa jika seperti itu sampai tamat SMA. Tetapi adikku mengatakan tidak, aku harus pergi dari rumah mak tua itu karena terlalu berat katanya kepada abangku. Aku hanya pasrah. Apa pun yang dikatakan aku harus nurut, karena begitulah keadaannnya. Abangku awalnya menolak dan mengatakan bahwa saat ini tidak ada uang, dan kalian harus mengerti, kalau kalian pulang, kalian pasti tidak akan bersekolah.

Aku menangis dan berdoa, apa pun yang terjadi bukan hanya kemauanku saja. Semua harus ada keseimbangan. Adikku bersikeras tidak mau kembali. Bahkan baju dan barang barang kami masih ada di sana. Akhir dari percakapan kami malam itu adalah kembali ke rumah kontrakan saja.

Seiring berjalannya waktu abangku diterima bekerja di perusahaan swasta sebagai karyawan biasa. Tapi kami sangat mensyukuri hal itu. Adikku melanjutkan ke SMA. Hidup kami berubah sedikit demi sedikit. Aku seringkali membantu tetangga berladang untuk mendapatkan gaji, walaupun hanya sedikit. Tetap saja aku bersyukur. Aku melakukannnya setelah pulang sekolah.

Setelah tamat SMA aku mendapat beasiswa untuk kuliah. Aku memutuskan untuk mengambilnya. Abangku menyetujuinya, walaupun dengan perdebatan panjang. Tetapi dia akhirnya menyetujuinya. Aku berkuliah selama 4,5 tahun. Dan tidak pernah pulang. Aku memutuskan untuk mandiri. Setelah aku menyelesaikan kuliahku, abangku datang ketempatku berkuliah karena aku akan diwisuda. Pertemuan kami mengharukan.

Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku merindukannya. Adikku tidak datang karena alasan bekerja. Tetapi aku sangat berterima kasih. Setidaknya ada yang melihatku memakai toga dan lulus dengan baik. Abangku adalah sosok pengganti orangtua bagi kami. Sedih memang rasanya tidak mempunyai orangtua. Terkadang iri dengan orang lain yang mempunyai orangtua. Terkadang aku tidak paham harus bagaimana bersosialisasi dengan orang lain. Namun, aku menjalaninya dengan hati yang bahagia.

Orangtuaku mungkin sudah senang melihat kami dari surga. Karena kami bisa mandiri atas kehidupan ini. Kita tidak bisa memilih kita harus dilahirkan oleh siapa. Terkadang banyak orang yang tidak puas dengan hidupnya, dan harus beginilah begitulah. Aku sangat bersyukur Tuhan masih menolong dan memberikan saudara yang pengertian, mau menyekolahkan adik-adiknya dan menjadi sosok pengganti ayah dan ibu di samping kami. Dia sampai rela melajang sampai lama, demi adik-adiknya bisa sekolah dengan baik.

Terima kasih sudah menjadi pahlawan super bagi kami. Terima kasih banyak sudah mengganti kekosongan dari hati kami. Mau menjadi pengganti orangtua kita. Selamanya kami akan berterima kasih. Tanpamu mungkin kami tidak akan sekolah, tidak akan makan, tidak dapat tinggal dengan bebas. Banyak cerita yang keluarga kita alami, tetapi engkau menjadi pemimpin dalam keluarga ini.

Setiap orang memang tidak bisa menebak seperti apa kehidupan ke depan. Bersyukur buat hari hari yang dilalui. Banyak lika-liku, banyak tantangan yang harus dihadapi. I am very lucky to have a brother who is very understanding and wants to listen to my story.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓