Demi Kesuksesan Adik-adiknya, Seorang Kakak Rela Berkorban Banyak Hal

Endah Wijayanti02 Des 2019, 14:15 WIB
kenangan dengan mantan

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: RH – Medan

Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Anak sulung di keluargaku adalah laki-laki, abangku satu-satunya. Sebagai anak sulung dan lelaki satu-satunya, abangku sangat perhatian dan penyayang kepada ketiga adik perempuannya. Ia merasa sangat bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kami, terutama menjagaku.

Semasa sekolah, sejak aku SD hingga SMA, ia selalu menjadi orang yang mengantar jemputku ke sekolah. Meskipun punya kegiatan dan kesibukan sendiri sebagai anak muda, tetapi ia tak pernah merasa keberatan jika harus kuganggu untuk sekedar mengantarku. Kami sangat akrab, tak jarang kami kerja sama untuk mengelabui orang tua. Hehehe.

Waktu SMA, aku bersama temanku ingin menonton konser. Tetapi tidak diizinkan kecuali pergi dan ditemani abangku. Jadi kami berpura-pura berangkat bersama dari rumah dan berpisah di tempat konser, kemudian pulang kembali bersama hingga larut malam. Orang tuaku memaklumi, mengira kami bersama sepanjang waktu. Sungguh lucu masa lalu itu!

Setelah kuliah dan merantau, aku harus serba sendiri. Banyak hal terjadi ketika sudah memasuki kehidupan orang dewasa. Banyak hal yang aku dan keluargaku lalui. Saat mengingat kembali ke belakang, melihat abangku kini, aku merasa sedih. Ketiga adik perempuannya merantau dan kuliah di universitas ternama. Satunya kini menjadi dokter, aku menjadi tenaga ahli di kantor pemerintahan, dan adikku mahasiswa berprestasi di universitas terkenal.

 

Abang yang Berkorban Banyak Hal

wajah yang disukai pria
ilustrasi./Photo by Đàm Tướng Quân from Pexels

Abangku masih di rumah, telah menikah, punya anak dan tinggal bersama kedua orang tuaku. Ia membuka warung sebagai mata pencaharian. Tak ada yang salah dengan pilihan hidup yang ia buat. Hanya saja, sering kali ada cibiran untuknya bahwa ia adalah anak orang tuaku yang gagal. "Adik-adikmu sukses semua ya, cuma kau yang buka warung," begitu kata orang-orang, ada yang dengan nada bercanda bahkan sinis.

Tak jarang ia juga mengaku minder karena cibiran sanak saudara dan tetangga. Kadang ia juga sempat berprasangka bahwa kami menganggap remeh dirinya yang hanya seorang pemilik warung. Entah aku tak punya kesempatan atau aku enggan mengungkapkan, kalau saja ia tahu, bagiku ia adalah pahlawan. Abang yang dulu akrab dan selalu mengayomiku.

Bisa dibilang, kesuksesan kami ketiga saudara perempuannya juga berkat dirinya. Pengorbanan yang ia lakukan, merawat dan menjaga orangtuaku saat sakit di rumah, memastikan kami di perantuan tak perlu khawatir karena ia ada di rumah menjaga kedua orang tua kami. Tentu ia juga punya mimpi, tetapi ia tak egois. Ia mengorbankan keinginannya untuk merantau. Bersama orangtuaku, ia memastikan biaya hidup dan pendidikan kami aman di perantauan.

Banyak pengorbanan dan lelah yang lalui untuk kami adik-adiknya. Mungkin standar sukses yang diciptakan masyarakat tidak ada pada dirinya, tetapi di mataku ia adalah pahlawan yang menjadikan siapa aku saat ini. Aku beruntung memiliki satu-satunya saudara lelaki sepertimu, Bang! Jangan minder, tetapi berbangga hati lah, karena kau memiliki adik-adik yang sukses dan menyayangimu. Terima kasih atas pengorbananmu, Abang. Kau pahlawanku dan tulisan ini kudedikasikan untukmu dari hatiku yang paling dalam.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓