Merawat Ibu yang Sakit Tidaklah Mudah, tapi Hati Kita Harus Kuat

Endah Wijayanti11 Des 2019, 08:15 WIB
merawat ibu sakit

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: R - Bandung

Bagiku mama adalah sosok perempuan yang sangat tangguh. Jiwa dan raganya kuat. Ia mampu melakukan banyak pekerjaan tanpa mengenal lelah. Ia berperan banyak dalam keluarga: sebagai ibu, guru, dokter, motivator, dll. Sungguh perempuan luar biasa yang hadir dalam hidupku. Berikut sepenggal kisah My Moment with Mom.

Masih ingat jelas di kepalaku, pertengahan tahun 2016 tepatnya 11 hari menjelang Hari Raya Idulfitri, mama terserang penyakit stroke yang mengakibatkan tubuh bagian kanannya lumpuh. Mama dirawat di rumah sakit selama delapan hari dan merayakan hari raya di rumah sakit. Setelah lewat masa rawat inap, akhirnya mama pulang ke rumah. Pasca stroke secara drastis, jiwa dan raganya lemah. Sosok perempuan tangguh itu sekarang tidak berdaya dan duduk di kursi roda. Mama tidak menyangka bisa terserang stroke karena merasa sedari mudanya dulu seorang yang aktif dan gemar berolahraga. Namun, kuasa Tuhan berkata lain.

Semenjak mama terserang stroke, hari demi hari kujalani bersama mama. Dulu mama dengan sabar merawatku sedari lahir hingga aku dewasa, sekarang sebaliknya. Kini aku berperan sebagai anak, perawat, juru masak, teman curhat, sopir, dll. Jika mama membutuhkanku ia cukup membunyikan bel dan dengan cepat aku menghampirinya. Di usia mama yang ke-65 ia kembali layaknya seperti anak kecil (balita).

Aku sudah terbiasa mendengar tangisan keras, keluh kesah serta luapan amarah yang keluar dari lubuk hatinya. Rata-rata penderita stroke emosinya memang sulit terkendali. Terkadang ketika jiwanya sedang benar-benar down, mama sering mengeluarkan kalimat, “Mama mau mati saja, supaya nggak ngerepotin kamu." Seketika itu pula aku langsung memeluk dan mengusap pipi mama yang basah oleh air matanya.

 

Semoga Mama Lekas Sembuh

Ilustrasi kekerasan perempuan/unsplash victorien
Ilustrasi./unsplash victorien

Dear Mama,

Telat bagiku menyadari betapa luar biasa perjuangan serta pengorbananmu selama ini yang telah mengasihi dan merawatku sedari kecil. Aku tahu yang kulakukan ini tidak bisa membalas semua jasa dan pengorbananmu. Terkadang aku tidak sengaja melontarkan kata yang melukai hatimu dan seketika membuatmu menangis di hadapanku. Maaf aku tidak sempurna. Mama, aku tidak pernah bilang padamu bahwa aku selalu menyebut namamu dalam setiap doaku sampai air mata mengalir di pipi. Aku sayang mama.

Di balik kesedihan, ada hikmah yang bisa kuambil, yaitu aku merasa hubungan antara mama dan aku semakin dekat. Teringat kenangan dulu sewaktu kecil aku suka cuek setiap pulang sekolah langsung masuk kamar, tapi mama selalu menanyakan keseharianku di sekolah, mendengarkan keluh kesahku sewaktu aku kesulitan dengan tugas sekolah, dan sebagainya.

Kini aku yang mendengarkan keluhan penyakit mama dan mencoba menyemangatinya agar terus berlatih menggerakkan tangan dan kaki. Dulu aku digendongnya, sekarang aku membopong badannya perlahan-lahan ketika belajar berjalan. Dulu mama menyemangatiku belajar, sekarang aku menyemangatinya agar tetap berpikir positif. Dulu aku dimandikannya, sekarang aku yang memandikannya. Dulu aku dibuatkan sarapan pagi dan bekal, sekarang aku masak masakan sehat sesuai kebutuhan gizinya. Dulu mama mengantarku ke sekolah, sekarang aku mengantarnya ke dokter dan tempat terapi fisik.

Ya Allah… waktu berjalan begitu cepat. Sekarang sudah hampir di penghujung tahun 2019. Pintaku pada-Mu di setiap doaku agar mama disembuhkan dari penyakitnya serta supaya aku selalu diberikan kesehatan, fisik, dan mental yang kuat serta juga kesabaran agar bisa terus mendampinginya.

Dear Sahabat Fimela, khususnya yang masih memiliki ibu lanjut usia (lansia), beri ia perhatian, walau hanya sebentar. Telepon/kunjungi langsung ke rumah. Berikan hadiah yang ia suka (jika mampu), paling simpel cukup bawa bunga. Luangkan waktu berdua, bawa jalan-jalan ke tempat yang ia sukai. Bikin momen indah yang bisa membuatnya tersenyum dan tertawa.

Dear Sahabat Fimela, tolong berikan aku semangat & doakan aku ya agar aku terus mampu menjalani ini semua.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓