Bolehkah Berutang dengan Alasan Kepepet?

Endah Wijayanti11 Des 2019, 14:40 WIB
mengatur keuangan

Fimela.com, Jakarta Membuat perencanaan keuangan yang baik sangatlah penting demi kesejahteraan bersama. Hanya saja tak bisa dipungkiri bahwa pada saat-saat tertentu kita berada dalam kondisi kepepet dan butuh dana tambahan. Biasanya kalau sudah kepepet, jalan keluarnya adalah dengan berutang.

Berutang yang dilakukan tanpa pemikiran yang matang sangatlah berisiko. Kita perlu membuat pertimbangan yang matang ketika berutang. Mengutip buku MoneySmart Parent: Panduan Praktis Perencanaan Keuangan Orangtua Baru, menurut Prita Hapsari Ghozie, berutang apabila ditujukan untuk hal baik dan produktif tentu saja boleh. Istilahnya debt management.

Bedakan Utang Baik, Utang Jelek, dan Utang Jahat

Utang ternyata memiliki kategorinya sendiri: utang baik, utang jelek, dan utang jahat. Contoh dari utang baik adalah pinjaman rumah, pinjaman untuk modal usaha, serta pinjaman untuk pendidikan. Sedangkan utang jelek contohya adalah pinjaman kendaraan karena nilai kendaraan terus menurun. Bagaimana dengan utang jahat? Utang jahat ini utang yang diambil untuk konsumsi sehari-hari. Mengambil utang untuk konsumsi sehari-hari sangat tidak disarankan.

 

Pastikan Ada Dana Masuk untuk Melunasi

Tips Menabung/mlg
Ilustrasi./copyright shutterstock

Jika kepepet atau ada kebutuhan mendesak, jangan buru-buru mengambil utang. Coba cari alternatif lain seperti menjual aset, pinjaman bunga rendah dari orangtua, atau soft loan khusus karyawan. Bisa juga menggunakan kartu kredit, tapi yang perlu dicatat adalah patikan sifatnya hanya sebagai "jembatan" saja. Selain itu, kita juga perlu memastikan punya dana masuk untuk melunasi. Hati-hati dengan bunga yang akan berbunga lagi.

Kita harus sangat berhati-hati dalam berutang. Utang tak ubahnya sebuah janji. Jika kita telat membayarnya sekali saja, maka urusannya bisa panjang. Kepepet jangan selalu dijadikan pembenaran untuk berutang, ya.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓