Ibu adalah Sandaran Hidupku Sekaligus Penuntun Masa Depanku

Endah Wijayanti22 Des 2019, 17:15 WIB
bangkit dengan menulis

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Pratiwi Putri - Sampit

Tidak semua orang bisa mengungkapkan perasaan. Terkadang karena keadaan, komunikasi jadi terjalin kurang begitu baik sehingga hubungan pun tak seharmonis kisah dalam drama. Sebagai seorang yang sudah ditinggal sosok ayah dari kecil, ibu adalah satu-satunya sandaran hidupku. Ketika masih usia sekolah dasar, seingatku aku sering mengeluhkan ini dan itu jika ibu datang menjengukku di rumah nenek. Aku sering minta barang ini dan itu yang waktu itu menurutku keren. Waktu itu rasanya semua langsung baik-baik saja ketika ibu datang. Aku bahagia.

Tahun-tahun berlalu, ibu mempunyai pendamping hidup yang baru. Awalnya kupikir semua akan baik-baik saja, karena aku anak ibu. Tapi rupanya itu hanya angan anak kelas VI SD. Sejak itu aku mulai kesulitan berkomunikasi dengan ibu. Entahlah, nyaliku sepertinya menciut setiap kali ingin berbicara dengan ibu ketika ada sosok lelaki itu.

Awalnya aku masih ingin ngobrol dengan ibu, tapi lelaki itu selalu punya kalimat ajaib untuk membuatku merasa aku bukan anak yang pantas dibanggakan. Beberapa kali aku mendengar lelaki itu menceritakan hal-hal yang menurutnya kurang yang ada padaku, dia mengatakannya pada ibu. Awalnya aku berusaha keras untuk menjadi seperti yang "katanya" baik. Tapi akhirnya aku memilih diam. Aku tidak lagi ingin bercerita dengan ibu, apa pun atau bagaimana pun perlakuan lelaki itu padaku.

Aku melihat banyak hal sulit yang dilalui ibu. Aku menyaksikan kerja keras ibu. Dan aku juga ada saat ibu sibuk mencari nafkah. Tapi ibu sepertinya tak mau mengeluhkan kesulitannya padaku saat itu. Anak lain mungkin mempunyai ibu yang menyediakan makan setiap hari di meja makan, menyiapkan keperluan sekolah dan merawat taman rumah yang cantik.

 

Tetap Saling Mendoakan

Kata Ibuku
Ilustrasi./copyright shutterstock

Anak lain mungkin mempunyai ibu yang kompeten, berpendidikan tinggi dengan karier yang gemilang. Aku tetap bersyukur mempunyai ibuku. Ibuku bukan wanita yang memasak tiga kali sehari untuk keluarganya, tapi ibuku berusaha sekuat tenaga supaya kami ada uang untuk makan. Ibuku bukan seorang yang kompeten dengan karier gemilang, tapi ibuku melihat segala peluang agar kami bisa hidup.

Entah karena apa komunikasi kami tidak juga membaik, tapi kupikir dalam keadaan apa pun kami selalu saling mendukung. Tidak peduli apa pun yang dikatakan orang tentang ibuku, aku bersyukur memiliki ibu. Kami memang tidak rutin setiap hari berkomunikasi baik itu lewat telepon ataupun chat, tapi kurasa kami selalu saling mendoakan. Jika tidak karena doa ibu, mungkin jalan hidupku tidak akan membaik seperti ini. Aku yakin itu.

Aku yang sekarang sudah punya anak dan hidup di pulau yang berbeda dengan ibu, makin kesulitan berkomunikasi dengan ibu. Terkadang ibu sulit dihubungi, terkadang situasi dan kondisiku yang tidak memungkinkan aku menghubungi ibu. Di tempat tugasku yang baru, sulit mendapat koneksi internet untuk video call. Sudah banyak kalimat kurang menyenangkan aku dengarkan dari keluarga yang lain. Aku bukan anak durhaka, meski jauh tak sekali pun aku melupakan ibuku dalam doa-doaku. Aku mungkin tidak bisa memberikan ibuku banyak harta, tidak bisa setiap saat memberikan pundi-pundi rupiah tapi aku selalu berusaha yang terbaik untuk menjadi anak salihah ibu.

Aku berusaha melaksanakan kewajibanku dengan baik, aku berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Aku berharap, Tuhan melihat usahaku dan menjaga ibuku. Ibu selalu bilang untuk berbuat baik pada orang lain, siapa pun. Aku selalu ingat itu. Meski kelihatannya orang itu tidak bisa membantu kita tapi ada Tuhan yang akan menolong kita. Karena itu aku selalu berharap Tuhan mau menolong ibuku. Ibu juga bilang untuk jangan terus melihat ke atas, nanti akan mati rasa syukur dalam diri kita. Terima kasih atas pesan-pesannya, ibu.

Aku seorang anak yang sudah dibesarkan dengan susah payah sendirian oleh ibuku, yang akhirnya menikah dan ikut suami. Sebagai seorang anak, aku tentu ingin di dekat ibuku. Menjalani hari-hari bersama dari dekat. Aku berterima kasih karena ibu tak pernah cerewet soal di mana aku harus tinggal. Aku bersyukur ibuku mengerti bahwa anaknya adalah perempuan. Aku hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha dan berdoa. Jika bukan karena ibu, entah apa jadinya aku.

Terima kasih ibu. Semoga Tuhan mengabulkan doa-doa ibu. Aku mencintaimu bukan hanya pada Hari Ibu meski aku tidak mengatakannya. Aku sayang ibu.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓