Dari Sosok Ibu, Kita Belajar Banyak soal Arti Kehidupan

Endah Wijayanti23 Des 2019, 14:24 WIB
mencintai diri sendiri

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Naris Nurisa D - Magetan

Mamak adalah panggilanku untuk seorang wanita yang telah mengandungku selama 9 bulan, dan telah memberiku makna hidup selama 24 tahun ini. Mamak, anakmu kini telah dewasa. 24 tahun lalu aku adalah bayi yang dengan penuh perjuangan engkau lahirkan di bumi ini. Terima kasih mamak. Dulu ketika aku masih bayi, ketika aku menangis mungkin kau akan khawatir dan segera menghapus air mataku. Kini aku telah dewasa, aku hidup di perantauan.

Jika aku menangis di sini, engkau tak perlu tahu, aku akan menyeka air mataku sendiri, aku tak ingin mengkhawatirkanmu akan keadaanku di sini. Aku akan belajar tentang arti hidup dan kekuatan. Sebab, aku kini telah dewasa.

Mamak, Kini Aku Mulai Mengerti Arti Kehidupan

Dulu, saat aku masih di rumah bersamamu. Ketika aku belum memutuskan untuk merantau, ketika aku masih sekolah, dan engkau sibuk memasak di dapur, aku selalu ingin membantu mu memasak, namun kau selalu enggan untuk kubantu. Saat itu, aku tak tahu mengapa kau selalu tidak mau aku bantu. Mungkin , kau tidak mau gadis kecilmu dulu merasa kelelahan, pulang sekolah harusnya belajar lalu istirahat. Terima kasih mamak, engkau memang tak pernah mengungkap maksudmu, engkau membiarkanku memahami itu semua dengan cara berpikirku sendiri.

Masa putih abu-abu telah usai, aku tak memaksa orangtuaku untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Aku memahami keluargaku dan aku tak ingin menuntut akan hal itu, meski dalam diriku ingin sekali aku merasakan duduk di bangku kuliah . Tapi, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ilmu mampu diperoleh dari mana pun tanpa duduk di bangku kuliah.

Di perantaun aku tak tahu urusan dapur, aku dihadapkan dengan pekerjaan dapur dan rumah. Aku bingung, sangat bingung. Sebab, ibu tak pernah menyuruhku perihal urusan dapur dan pekerjaan rumah. Aku jalani saja semampu dan sebisaku. Aku yang tak suka aroma bawang merah dan akan selalu muntah melihat dan mencium aroma bawang merah sejak aku kecil hingga dewasa. Namun, di perantauan aku harus dihadapkan dengan pekerjaan mengiris bawang merah, aku menangis sambil mengiris bawang merah, air mata bercucuran sangat deras. Aku yang tak suka makan tahu dan sayuran, harus menelan tahu dan sayuran di perantauan karena yang tersedia hanya itu. Aku yang tak berani menyalakan korek api dan korek gas, akhirnya berani melakukan hal itu. Ya, di perantauan ini banyak hal yang aku lakukan, apa yang tak aku sukai menjadi aku sukai, apa yang sebelumnya tak mampu aku lakukan, menjadi hal yang mampu aku lakukan. Semua demi apa? Demi keluargaku di rumah.

 

 

Mamak, Darimu Aku Belajar Menjadi Wanita Tangguh

Ibu dan Anak
Ilustrasi./copyright shutterstock

Mamak, tak pernah aku melihat mamak menangis. Hingga usiaku 24 tahun ini mamak tak pernah meneteskan air mata. Entahlah, mungkin ketika malam tiba, aku tertidur lelap , lantas mamak menangis aku tak tahu. Mungkin sesekali mamak terlihat murung, namun mamak tak pernah menceritakan penyebab kemurungan nya. Dari Mamak, aku belajar menjadi wanita yang selalu ceria, meski terkadang ada derita.

Aku belajar menghadapi segala masalah tanpa pernah bercerita tentang pilu yang aku rasa kepada orang lain. Aku selalu terlihat ceria, bahagia, layaknya mamak yang selalu bersinar. Namun, aku belum setangguh mamak, sesekali aku masih sering menangis, namun aku akan selalu berusaha menjadi wanita tangguh.

Mamak menyimpan semua sendiri, seakan semua baik-baik saja. Hingga akhirnya, setelah kelulusan masa putih abu-abu, mamak menceritakan kerisauannya padaku, di situ aku menangis hebat. Tapi, aku berusaha kuat menghadapi, karena apa? Karena mamak telah kuat sejauh ini memendam nya sendiri, menungguku hingga lulus dari bangku putih abu-abu.

Merantau di negara yang jauh, inilah pilihan satu-satunya yang mungkin mampu menyelesaikan segala masalah. Aku gadis berusia 18 tahun pergi ke negara orang, sendiri, dengan bekal kekuatan dan keberanian demi mengembalikan senyum dan keadaan keluarga yang lebih baik lagi. Usaha tidak mengkhianati hasil. Dan setelah empat tahun merantau alhamdulillah, masalah yang aku pikirkan terselesaikan. Terima kasih kepada Tuhan, dengan Tuhan segala yang sulit akan menjadi mudah. Bagiku, harta yang paling berharga adalah keluarga. Aku akan bahagia jika keluargaku bahagia.

Mamak, Aku Mencintaimu

Ibu dan Anak
Ilustrasi./copyright shutterstock

Jujur, aku dan mamak tak pernah mengatakan secara langsung seperti, “Mamak mencintaimu, Nak." Atau, “Aku mencintaimu, Mamak." Dari sini juga aku bukanlah gadis yang terlalu mengharap ucapan kalimat, “Aku mecintaimu,” dari lelaki mana pun. Aku pun tak mudah terbuai oleh sekedar kalimat, “Aku Mencintaimu” yang terlontar dari mulut para lelaki.

Cinta bukan terucap dari lisan, tapi dari bukti dan tindakan. Tulus dari dalam lubuk hatiku yang mengatakan, “Mamak, aku mencintaimu." Terima kasih telah memberi kesan ceria ,bahagia, tangguh, dan hal baik lainnya kepada aku anakmu ini. Darimu, aku mampu menjadi wanita yang akan selalu terlihat baik-baik saja. Setiap insan manusia pasti memiliki sisi baik dan buruk. Aku saring , sisi baik mamak aku praktikkan. Sisi buruk mamak tidak aku gunakan. Tapi, baik buruknya mamak, mamak tetaplah mamakku. Mamak, aku mencintaimu.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓