Tiap Hariku, Tiap Cinta untuk Ibu

Endah Wijayanti27 Des 2019, 10:45 WIB
Diperbarui 27 Des 2019, 10:45 WIB
bertahan dari body shaming

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Nurhidayah Tanjung - Bengkulu

Dua puluh dua Desember menjadi hari yang menyenangkan setiap tahun. Meskipun tidak merayakan secara nyata, serba serbi Hari Ibu di media sosial menjadi sangat berkesan buatku. Banyak dari pengguna media sosial mengungkapkan bagaimana rasa cinta dan kasih sayangnya kepada Ibu. Mengikuti bagaimana mereka menuangkan rasa cintanya di hari itu, aku ingin pula meski bukan tanggal dua puluh dua Desember lagi.

Setiap hari, suara ibu yang biasanya disebut ‘omelan’ selalu menjadi hal yang biasa, terutama ketika aku bangun terlambat. Keinginan untuk bergulung di kasur dan melanjutkan tidur pupus sudah, Ibu dengan omelannya itu menimbulkan gerutuan. Meski begitu aku terkadang tetap bangun terlambat di hari berikutnya, dan omelan Ibu berlanjut. Banyak hal yang mestinya dapat kuceritakan tentang Ibu, namun cerita-cerita itu dirangkum menjadi beberapa bagian saja, sehingga dapat dibaca dengan hati senang, tanpa mengurangi kadar cinta di dalamnya.

Dewasa ini, setelah menyelami banyak hal di hari-hari lalu. Aku teringat ketika harus KKN di desa yang jauh dari rumah, kira-kira tiga jam perjalanan. Bagaimana aku terus merasa khawatir apakah bisa menjalani hari-hari KKN dengan baik. Tapi, Ibu tidak mengatakan hal buruk apapun mengenai lokasi yang jauh, ia justru mengatakan bahwa lokasi KKN di desa-desa benar-benar akan menjadi sangat spesial. Rasa khawatirku sedikit berkurang. Selama kurang lebih dua bulan, aku menjalani KKN dengan rasa rindu tentunya. Ibu meneleponku untuk memberikan penawarnya.

 

Berkat Ibu, Aku Bisa Melewati Masa Sulit

ibu penguat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/GBALLGIGGS

Belum lagi aku harus melewati masa-masa magang selama dua bulan selepas KKN. Rasanya menjadi terlalu sulit. Aku yang harus menjalani kegiatan layaknya karyawan biasa. Pergi pukul delapan, dan pulang pukul lima. Rasanya lelah, sehingga ketika aku pulang ke rumah yang aku lakukan adalah tidur dan beristirahat. Ibu memahami bagaimana aku merasa begitu capek, sehingga ia selalu menyiapkan makanan bernutrisi dan memberikan waktu istirahat yang cukup untukku. Selama masa-masa itu aku benar-benar butuh pundak Ibu. Bagaimana tubuhku terasa remuk harus duduk berjam-jam, Ibu dengan kebaikan hatinya memberikan pijatan agar aku merasa baikan.

Aku teringat pula ketika baru menyelami dunia tulis-menulis sewaktu sekolah. Kepayahan yang aku alami, kegagalan yang jadi hal biasa tidak pernah menjadi poin utama yang Ibu bahas. Ia terus mendukungku meski aku kalah dan kalah lagi. Ia justru senang karena aku mau mencoba, menang tentu menjadi bonusnya. Bahkan ketika aku memenangkan lomba pertama kalinya, dapat terlihat dengan jelas wajah Ibu yang bahagia dan terus mengucapkan syukur pada Allah. Kini ketika aku dengan pasti mengatakan ingin menerbitkan buku, ia benar-benar memberikanku ruang yang luas untukku berpikir dan menelaah apa-apa saja yang terlintas di kepala. Ia memberiku semangat meski tanpa kata itu. Itulah mengapa, rasanya setiap hari berhak untuk menjadi Hari Ibu, Hari Ayah atau Hari kasih sayang. Karena tiap hariku, adalah tiap cinta untuk Ibu dan tiap cinta dari Ibu. 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓