Saat Ibuku Mengatakan Dirinya tak Ingin Menjadi Ibu Lagi

Endah Wijayanti03 Jan 2020, 11:28 WIB
sakit didampingi ibu

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Nara - Kendal

Suatu hari dalam keheningan dan derasnya hujan sore itu, ibu memutuskan bahwa aku mengalami depresi dan mulai berkonsultasi pada dokter melalui telepon. Buklet dan beberapa situs web selalu memasukkan depresi adalah efek samping dari kanker. Bagiku, depresi bukan efek samping dari kanker atau penyakit lainnya. Itu adalah efek samping dari sebuah penderitaan yang sedang terjadi pada diriku sekarang ini. Atau mungkin sudah lama terjadi.

Inilah hidupku. Bertemu dengan dokter setiap hari rabu, 8 resep obat-obatan diminum tiga kali sehari, makanan hambar tanpa rasa. Dan yang paling buruk dari semuanya adalah terapi kelompok. Sama seperti remaja yang mengalami kanker, aku menjadi kurang pergaulan karena hanya duduk diam di rumah. Dokter mendapat keluhan dari ibu karena aku depresi hingga pada akhirnya menyarankan agar aku mengikuti terapi kelompok. Ibu memaksaku untuk mengikutinya. Beliau rela mengantarkanku meskipun cuaca seringnya buruk. Hujan hingga banjir tidak sedikitpun menyurutkan niatnya. Aku beruntung memiliki ibu yang tidak pernah menyerah padaku.

Dua tahun lalu, dokter mendiagnosa bahwa aku mengidap kanker tiroid pada usia 14 tahun, pengobatan berjalan hingga kini usiaku menginjak 16 tahun. Sel-sel jahat itu membuat koloni yang indah menyebar sampai ke organ pernapasanku. Tampak seperti pohon natal yang hitam. Berbagai pemeriksaan, kemoterapi, dan pengobatan tradisional semua sudah pernah diusahakan oleh ibu dan ayah untuk kesembuhanku. Bagaimana kabarku hari ini, selain terminal kanker? Aku hanya berharap satu hal untuk keluargaku “bahagia”. Aku tidak ingin bergantung terus menerus.

 

Ibu yang Tak Ingin Melihatku Sakit

setelah berhubungan intim
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Jardul

Aku adalah anak tunggal. Satu-satunya hal buruk selain melawan kanker adalah mempunyai anak yang menderita kanker. Tidak sengaja saat di ruangan ICU sekitar dua pekan yang lalu, aku sedang berada pada masa kritis karena paru-paruku dipenuhi cairan. Entah apa. Yang kutahu, dada seperti terbakar dan sangat sakit. Berjuang dan bertahan, atau melepaskan semuanya lalu kembali pada Tuhan.

Sayup-sayup kudengar ibu menangis di samping tempat tidurku. Jelas sekali kalimat menyakitkan itu terucap dari bibirnya. “Aku tidak ingin menjadi ibu lagi, aku tidak sanggup," kurang lebih bergitu. Kemudian terdengar ayah menenangkan ibu. Saat itu mataku terpejam dan mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Ibu yang selalu menguatkanku selama ini. Namun, saat ibu melihat banyak selang terpasang di tubuhku yang kurus, dan beberapa alat medis mengelilingiku bersahutan berbunyi seperti sudah menjadi irama khas ruangan ICU. Mungkin hati ibu terluka.

Ibuku adalah pekerja keras. Sebelum aku sakit, ibu menjalankan usaha katering. Ibu memang suka memasak, dulu kami sering membuat kue bersama. Terutama setiap hari ulang tahun. Sudah tiga tahun semenjak ibu melepas semua usahanya demi menemani perjalananku. Setiap hari ibu mencoba tegar dan berpura-pura bahwa dia bahagia. Aku ingin ibu bahagia. Jika aku adalah beban bagi ibu, aku ingin ibu ikhlas melepasku. Aku selalu berpikir seperti itu. Setiap orang pasti pernah hidup dengan rasa sakit. Namun, melihat orang yang kita sayangi menderita itu lebih menyakitkan dari kanker terminal sekalipun.

Ibu, selamat Hari Ibu. Semoga ibu selalu bahagia saat ada maupun tidak ada aku.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓