Menulis Diari Jadi Pengingat Betapa Hidup Ini Sangat Berarti

Endah Wijayanti14 Jan 2020, 11:45 WIB
menulis diari

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: S - Tangerang

Permasalahan tahun lalu yang datang bertubi-tubi membuat saya teringat masa saat berusia kanak-kanak. Peristiwa berpindah-pindah rumah dan sekolah untuk mengikuti keinginan orangtua. Ada sebagian orang yang tahu bahwa saya pernah bersekolah di 3 SDN yang berbeda dan dua kali mengalami kejadian buruk yang tidak mungkin terlupakan.

Dicakar di bagian wajah dan ditendang menggunakan sebuah kursi oleh seorang murid perempuan hingga akhirnya melukai kaki kanan saya. Rupanya saya tidak pernah menceritakannya kepada ibu karena memang saat itu sangat pendiam. Pantaslah ketika belum lama saya tanya apakah ingat kalau anaknya ini pernah ditendang saat masih SD, ibu justru penasaran, “Di sekolah yang mana? Kayaknya ibu nggak pernah tahu."

Ibu pun melanjutkan kata-katanya, “Kalau saja ibu tahu, pada saat itu ibu akan ke sekolah mencari murid yang menendang kamu dengan sebuah kursi.” Saya hanya tersenyum setelah melihat ekspresi dan mencermati kalimat yang seakan memiliki banyaknya kekuatan untuk melindungi saya yakni seorang anak yang dulu sering menulis di diari tentang ibu yang lebih banyak menceritakan bahwa ibunya egois dan pilih kasih.

Seketika saya menjadi merasa bersalah, sayangnya buku diari tak pernah ingkar kepada penulisnya, ia berupa catatan masa lalu yang kelak dibaca di masa mendatang, termasuk hari ini, pada awal tahun 2020.

Semangat Menulis Diari

manfaat menulis
Menulis bisa jadi terapi yang positif./Copyright pexels.com/@garry-mordor-261159

Saya menyadari betapa dulu begitu rajinnya menuliskan kehidupan sehari-hari. Tentang keinginan menjadi seperti sebuah tokoh dalam cerita kartun, sedihnya ditinggal ibu dan adik yang pergi mudik untuk menghadiri suatu acara kemudian menjadi senang saat ditinggalkan sejumlah uang. Ada juga sekelebat ingatan ketika menahan tangis menuliskan betapa teman-teman saya sudah berubah ketika sudah jarang bertemu. Barangkali bukan mereka yang berubah, tapi justru pola pikir saya yang belum beranjak dewasa.

Bertahun-tahun saya menulis diari, namun aktivitas itu terhenti ketika saya pernah dipandang buruk oleh orang terdekat. Sakit, begitu sakit hingga saya mengubur semangat kemudian tak pernah menulis lagi karena mempercayai apa yang ia katakan.

Ketika membaca sebuah buku panduan menulis yang baru saja saya beli, ada sebuah halaman di mana salah satu penulisnya bercerita bahwa salah satu manfaat menulis diari dapat menambah rasa syukur setelah membaca ulang cerita-cerita yang pernah kita alami. Benar saja, saya pun jadi tertawa tiada henti namun seketika menjadi sedih saat mendapati lembar kisah yang pernah begitu menyayat hati.

“Saya berharga dan memang pernah begitu terluka. Tapi karena Tuhan begitu sayang dengan makhluk ciptaan-Nya, saya harus bangkit."

Pribadi yang Baru

Dianggap Tak Kekinian, Menulis dengan Tangan Ternyata Bermanfaat (Tyshun/Shutterstock)
Ilustrasi./(Tyshun/Shutterstock)

Saya hanyut dalam kesedihan sejak tahun 2015 hingga akhir tahun 2019. Kemudian awal tahun 2020 memutuskan untuk fokus menulis lagi. Rasanya saya seperti terlahir kembali menjadi pribadi yang baru dengan harapan baru.

Saya ingin menulis diari lagi sebagai proses penyembuhan diri sendiri. Menceritakan keseharian agar senantiasa sadar bahwa hidup saya juga sangat berarti dan dapat mengenang perjuangan apa saja yang sudah dilakukan.

Menuliskan cerita ini seperti sedang berbicara kepada diri saya yang dulu. Di sebuah kamar sedang memegang pena juga begitu lancarnya menguntai kalimat di berbagai lembar buku diari bergambar Hello Kitty. Terlihat begitu asyiknya menulis. Ke mana saya yang dulu? Ingin seperti yang dulu yang begitu menerima keadaan dengan lapang dada lalu menuliskannya.

Mungkin banyak di antara kawan-kawan yang mempunyai keinginan untuk hidup sehat, mandiri, dll. Saya pun berpikir seperti itu di tahun sebelum 2020, tapi tahun ini begitu spesial. Saya ingin menulis di buku diary lagi!

Setiap Orang Memiliki Cerita

Ilustrasi penulis
Ilustrasi./(Photo by Hannah Olinger on Unsplash)

Saya selalu percaya bahwa setiap orang memiliki cerita hidup masing-masing. Tapi tidak semua cerita bisa didengar atau dibaca dengan mudahnya, maka saya menuliskan cerita diri sendiri hingga suatu hari nanti ketika sedang merasa terpuruk dapat membaca kembali lembar demi lembarnya untuk sekadar sebagai pelipur lara atau penyemangat jiwa.

Dalam buku diari, saya menemukan bahwa saya pernah menjadi seseorang yang begitu bahagia memiliki kedua orangtua, kakak serta adik yang perhatian serta beragam teman. Saya kagum ketika hari ini masih ada yang menulis di buku diari atau jurnal harian yang tak terpublikasi. Saya pun kagum ketika membaca begitu banyak bertebaran jurnal harian atau tulisan sejenisnya milik orang lain yang terpublikasi di era digital ini. Keren dan hebat orang-orang yang membagikan buah pikirannya menjadi sebuah tulisan yang memiliki nilai pembelajaran kehidupan.

Pada akhirnya saya sadar, hanya perlu menjadi diri saya sendiri tanpa berniat mengubah diri menjadi seperti yang orang lain inginkan. Saya tidak ingin menyesal untuk kesekian kalinya.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓