Gaya Hidup Minimalis Bantu Tingkatkan Produktivitas

Endah Wijayanti18 Jan 2020, 14:46 WIB
memulai bisnis

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Nana Marcecilia - Tangerang

Tahun 2019 sudah berakhir. Pengalaman tahun kemarin mengajarkan saya beberapa hal, dua di antaranya, pentingnya menerapkan gaya hidup minimalis dan harus lebih produktif di usia kita yang masih sangat produktif ini. Maka tahun 2020, saya ingin menerapkannya secara konsisten dalam keseharian saya.

Penerapan dari Gaya Hidup Minimalis

Tahun-tahun sebelumnya, saya tipe orang yang hobi berbelanja. Apalagi kalau ada yang sedang tren dan menawarkan cashback, harga promo ataupun diskon, wah, itu pasti saya gencar sekali mantengin-nya. Saya pun tidak terlalu mempedulikan seberapa besar tabungan, atau pun nanti kedepannya harus berinvestasi apa saja, yang saya pedulikan hanyalah gaya hidup saya saat ini bisa terpenuhi.

Sampai suatu hari, saya merasa ruang kamar saya terlalu penuh akan barang-barang, sumpek sekali melihatnya. Akhirnya saya membeli buku Hidup Minimalis ala Orang Jepang karya Fumio Sasaki. Saya pikir buku itu akan mengajarkan cara mengatur barang yang baik dan benar, jadinya kamar tidak terlihat berantakan lagi.

Eh, ternyata setelah membaca buku tersebut, saya baru memahami esensial dari gaya hidup minimalis, kemudian saya mulai mencari berbagai sumber bacaan dan tontonan agar lebih memahami tentang filosofi gaya hidup minimalis itu sendiri.

Dari pemahaman yang saya dapatkan, akhirnya tahun 2019 kemarin, saya mulai merapikan barang-barang yang sudah dibeli, tapi hanya saya tumpuk begitu saja, karena ada barang lain lagi yang lebih menarik. Menurut beberapa sumber yang saya dapatkan, penumpukan barang yang terlalu banyak untuk kapasitas diri, ternyata bisa memberikan signal stres sendiri bagi pikiran kita secara tidak langsung.

Akhirnya sebagian barang yang sudah tidak terpakai, saya jual, dan sebagian lagi saya sumbangkan pada orang lain. Kemudian ketika membeli barang, saya akan lebih mempertimbangkan barang ini benar saya butuhkan atau hanya sekadar ingin saja. Begitu pula dengan membeli minuman yang sedang hits dan menawarkan beragam promo, saya akan mempertimbangkan dengan pertanyaan yang sama. Kalau saya hanya sekadar ingin saja, maka saya akan melewati untuk membeli barang ataupun minuman tersebut. Kalau butuh, ya baru beli.

Tapi ternyata hal tersebut tidak mudah dilakukan karena saya terbiasa boros dari lahir kayaknya. Hehe.

 

 

 

Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

perempuan percaya diri
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@gnichole_tumbaga

Tahun 2020, saya bertekad untuk lebih menerapkan gaya hidup minimalis. Tidak untuk barang saja, akan tetapi cara berpikir, dan pola hidup yang mendukung kesehatan mental, fisik, serta kesehatan lingkungan hidup sekitar saya.

Tekad ini kembali muncul karena tahun kemarin saya mudah stres, mudah tersinggung, mudah emosi, dan mudah terserang penyakit. Selain itu, untuk lingkungan hidup, saya juga merasa adanya ketidakseimbangan antara saya dan lingkungan hidup, seperti hawa rumah terlalu panas dan penghijauan berkurang.

Ditambah lagi, dari segi ekonomi, harga-harga apa pun makin naik, cuy, tidak mungkin saya bisa terus bekerja sampai tua nanti kan? Hehe.

Dengan gaya hidup minimalis nampaknya memberikan solusi bagi permasalahan saya, seperti membatasi penggunaan elektronik yang mengandung tinggi radiasi dan media sosial, selain itu saya juga lebih memilih makan makanan yang sehat dan makan seperlunya saja, lebih banyak minum air putih dan rutin berolahraga. Kemudian untuk keasrian lingkungan, saya akan menanam tanaman yang bisa meresapkan air kembali ke tanah, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi sampah plastik, serta menggunakan air dan listrik secukupnya.

Kalau kesehatan keuangan, saya beli yang perlu sajalah dan bentuk barangnya yang saya suka dengan kualitas yang bagus, jadi bisa awet dipakainya. Kalau terlalu sering membeli barang yang dipakai hanya sebedug-sebedug, itu kan pemborosan, bagaimana nasib hari tua saya nanti kalau tidak ada tabungan ataupun investasi apapun? Apalagi sekarang ini terjadi krisis secara global, entah bagaimana nasib perekonomian kita dimasa depan.

Ya, saya berharap langkah yang ingin diterapkan secara konsisten ini, mampu membuat kesehatan mental, fisik dan keuangan saya lebih prima, serta bisa tercipta keseimbangan antara diri saya dengan lingkungan hidup di sekitar.

Mendorong untuk Lebih Berproduktif

tips perempuan karier
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Belakangan banyak artikel dan tontonan yang membahas tentang "Anda produktif atau sibuk saja". Saya bingung dengan perbedaan kedua hal tersebut, maka saya pun banyak menggali informasi mengenai perbedaan produktif dan sibuk. Ketika mengetahui inti pesannya, rasanya saya ingin menertawakan diri saya sendiri, ternyata selama ini saya hanya sok sibuk saja dan sama sekali tidak produktif. Hehe.

Jam kerja saya cukup panjang, tapi kalau ditanya ada hasil atau tidak, bisa dikategorikan kinerja saya itu tidak terlalu membuahkan hasil dan tidak terlalu memberikan kepuasan. Istilahnya saya selama ini hanya melakukan rutinitas dan menyibukkan diri pada hal yang sia-sia.

Jadi, tahun 2020 ini, saya sudah memasang beberapa target untuk pekerjaan dan hobi. Saya sampai membeli bullet journal, hal yang selama ini belum pernah saya lakukan, kemudian melakukan tracking hal produktif apa saja yang akan dan sudah saya lakukan.

Nah, menurut saya, gaya hidup minimalis ini bisa mendorong diri saya untuk lebih produktif. Karena pikiran saya tidak terdistraksi dengan barang-barang yang ingin saya beli, ataupun gaya hidup yang sedang tren. Pikiran saya fokus pada pekerjaan dan hobi yang ingin saya tekuni selama ini.

Kemudian dengan gaya hidup minimalis ini pula, saya memiliki ruang untuk lebih mengekspresikan diri untuk lebih berkreatif dalam pekerjaan maupun hobi, syukur-syukur bisa menambah penghasilan. Saya juga lebih mau mengeksplorasi hal baru yang tadinya sempat membuat saya ragu bisa atau tidak dilakukan. Hal ini terjadi karena secara tidak langsung, rasa percaya diri saya mulai bertumbuh akibat saya tidak terlalu membandingkan diri lagi dengan barang-barang ataupun gaya hidup yang telah dimiliki orang lain.

Dan saya berharap di usia tua nantinya, walaupun kinerja otak dan fisik saya pasti berkurang, akan tetapi kebiasaan gaya hidup minimalis dan terus berproduktif bisa membawa saya menjadi pribadi yang adaptif dengan zaman yang pastinya terus berubah, serta tidak mudah pikun. Hehe.

Dengan begitu, tahun 2020, saya ingin mengubah kebiasaan lama menjadi pribadi minimalis yang bisa mendorong diri saya lebih produktif lagi, dan semoga bisa saya terapkan secara konsisten.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓