Mengenal Gejala dan Penyebaran Virus Corona dari Laporan Peneliti China

Anisha Saktian Putri28 Jan 2020, 08:30 WIB
Virus Corono

Fimela.com, Jakarta Sampai saat ini jumlah pasien yang menderita Pneumonia karena virus corona atau nCoV semakin banyak, begitu pula untuk jumlah kasus yang meninggal. Jumlah kasus terakhir yang terkonfirmasi di China dan seluruh dunia memiliki total lebih dari 1.900 kasus. 

Profesor Ari Fahrial Syam, Akademisi dan Praktisi Klinis, mengatakan  infeksi ini juga menularkan para petugas di RS bahkan ada satu dokter yang terlibat dalam penanganan kasus virus corona meninggal dunia. Selain itu penularan antar manusia juga terjadi ketika satu keluarga yang terdiri enam orang yang berkunjung ke Wuhan dari Shenzen pada periode di awal mulai terjadinya penyebaran penyakit. Lima mengalami infeksi virus Korona baru ini dan selanjutnya satu keluarga yang kebetulan tidak ke Wuhan tetapi kontak dengan keempat anggota keluarga yang terinfeksi virus ikut tertular. 

"Hal ini yang memang harus menjadi kewaspadaan global termasuk Indonesia. Penyebaran kasus bukan saja meluas di berbagai provinsi di China tetapi juga kasus sudah ditemukan di beberapa negara yang sudah terkonfirmasi positif menderita nCoV ini antara lain Hongkong, Macau, Taiwan, Vietnam, Nepal, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Singapura, Perancis dan USA," papar Prof. Ari kepada Fimela.com.

Peneliti China di jurnal kedokteran  

Virus Corona Hantui Perayaan Tahun Baru Imlek
Orang-orang yang mengenakan masker berjalan melewati dekorasi perayaan Imlek Tahun Tikus Logam di Hong Kong, 24 Januari 2020. Pemerintah China memutuskan menutup seluruh akses masuk dan keluar Kota Wuhan untuk mencegah penyebaran wabah virus corona. (AP/Kin Cheung)

Paper peneliti China di jurnal kedokteran top dunia the Lancet terbit secara online pada 24 Januari 2020, para peneliti melakukan evaluasi lengkap atas 41 kasus pertama yang ditemukan dan ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Laporan dari 41 kasus ini 30 pasien atau 73% pria.

Hampir 50% dari pasien berumur 25-49 tahun dan 34% berumur 50-64 tahun. Yang menarik tidak ada anak-anak atau remaja yang dilaporkan dari 41 pasien ini. Sekitar 31% mempunyai penyakit penyerta antara lain hipertensi, DM, penyakit paru kronis, penyakit liver kronis dan 1 pasien dengan keganasan. Jadi bisa disampaikan pasien dengan penyakit penyerta menjadi berisiko terinfeksi oleh virus ini.

Sekitar 66% atau 27 pasien memang mempunyai riwayat kontak dengan pasar sea food Huanan yang diduga sebagai pusat penyebaran penyakit ini. Jika melihat gejala yang muncul ternyata tidak semua pasien terdiagnosis dengan Virus Korona baru ini mengalami demam karena ternyata ada satu pasien yang terbukti mengidap virus nCoV di dalam tubuhnya ternyata tidak demam. Batuk terjadi pada 76% pasien dan 44% mengalami pegal-pegal dan lemas.

Sesak napas terjadi pada 55% kasus. Berbeda dengan gejala pada MersCo dan SARS, gejala saluran cerna pada kasus nCoV ini hanya 3%. Seluruh pasien didiagnosis sebagai Pneumonia berdasarkan pemeriksaan CT scan thoraks. Sebenarnya dengan pemeriksaan foto thoraks saja kita sudah bisa membuat diagnosis pneumonia, tapi karena untuk kepentingan data yang lebih detail atas kondisi paru dilakukan CT scan. Dari 41 pasien terdapat 12 pasien mengalami komplikasi sindrome distres paru akut, 5 pasien dengan gangguan jantung akut. Ada 10% yang mengalami infeksi sekunder, 30% masuk ICU dan 15% pasien meninggal.

Berbagai pemeriksaan laboratorium dilakukan pada pasien ini antara lain pemeriksaan darah lengkap, sistem kekentalan darah, tes biokimia seperti fungsi hati dan ginjal, LDH, dan elektrolit. Spesimen dari saluran pernafasan antara lain dari swab nasal, faring, cairan lavase bronkoalveolar, sputum, aspirasi bronkial untuk melihat virus-virus yang ada seperti virus influenza, flu burung, adenovirus, virus parainfluenza, virus SARS dan MersCoV menggunakan RT-PCR.

Hasil pemeriksaan sel darah putih ternyata tidak konsisten rendah, normal atau tinggi, karena 25% mengalami sel darah putih yang rendah, 45% sel darah putihnya normal dan 30% sel darah putihnya tinggi. Pada umumnya infeksi virus sel darah putih rendah, sedang infeksi bakteri sel darah putih tinggi.

Sebagian besar trombosit normal. Pada pasien ini 37% terjadi peningkatan fungsi hati. Keterlibatan infeksi pada kedua paru terjadi pada 40 dari 41 kasus yang dilaporkan ini. Dengan adanya laporan awal 41 kasus ini dari peneliti China di jurnal Lancet, bisa menjadi pelajaran buat dokter dan para petugas kesehatan untuk mengenali kasus ini jika memang ada dugaan terinfeksi oleh virus ini. 

#Growfearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓