Berbeda dari Saudara Lain Bukan Halangan untuk Tetap Berprestasi

Endah Wijayanti01 Feb 2020, 16:15 WIB
ranah profesional

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Agatis - Samarinda

Tahun baru ini, menjadikan pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi hidup. Hidup yang penuh dengan tantangan namun sarat makna. Mewarnai perjalanan hidup kita yang kelak kita jadikan bahan cerita untuk anak cucu kita di masa yang akan datang. Dan menjadi bahan perenungan untuk bersikap lebih baik lagi, lebih peka dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari berdamai dengan diri sendiri, menerima kekurangan diri, dan masih banyak lagi. Beberapa sudah ada yang terwujud walau ditempuh dengan cara yang sangat tidak mudah.

Saya yang berbeda di antara saudara yang lain. Dikarenakan postur badan saya yang begitu mungil di keluarga. Tidak mematahkan semangat selama saya berada di jalur positif. Saya terlahir dari keluarga cukup berbahagia. Papa bekerja sebagai Pengusaha Migas dan Mama seorang model. Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara. Kakak saya adalah laki-laki dan adik saya perempuan. Namun, mereka memiliki postur tubuh yang semampai. Di mana kakak saya, Akbar bertinggi badan 180 cm sedangkan adik saya bernama Dinda memiliki tinggi badan 171 cm. Sedangkan saya hanya memiliki tinggi badan 160 cm. Tapi saya syukuri karena saya terlahir sempurna tidak kurang satu pun.

Awalnya saya risih di banding-bandingkan dengan 2 saudara saya. Tapi, saya berusaha bangkit dengan mengikuti lomba yang diadakan di sekolah saya. Lomba perdana yang saya ikuti adalah menulis cerpen tentang pengalaman terindah dalam hidup. Lalu, saya mencoba membuat judul cerpen Pengalaman Berlibur di Kota Jogja Bersama Mama. Tanpa pikir panjang, saya membuat cerpen di kamar saya yang merupakan tempat ternyaman buat saya. Alasan membuat cerpen juga pertama untuk mengincar hadiah berupa uang yang lumayan untuk membeli sebuah android atau mentraktir mama. Karena mama dijadikan bahan untuk judul cerpen. Iseng-iseng berhadiah siapa tau keluar sebagai pemenang.

Berkarya dengan Cara Sendiri

manfaat menulis
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@garry-mordor-261159

Alhamdulillah, setelah menunggu 1 minggu saya mengirim cerpen di sekolah akhirnya cerpen saya diterbitkan di mading sekolah. Cerpen yang saya buat keluar sebagai pemenang pertama. Hadiah cukup lumayan untuk ukuran anak sekolah, yaitu uang pembinaan 5 juta + trofi penghargaan. Dan rencana akan dimuat di sebuah majalah remaja tingkat nasional. Saya pun mentraktir mama makan di kafe langganan kami. Awalnya mama menolak tapi saya memaksa dan menjelaskan kalau saya menang juara cerpen di sekolah. Mama sangat bangga dengan anaknya. Dan mama berpesan, “Lakukan sesuai dengan passion kamu, asal positif, Papa sama Mama selalu mendoakan dan mendukungmu, Sayang. Dan uang hasil jerih payahmu kamu tabung buat masa depanmu."

Dan benar saja tak lama cerpen saya di muat di majalah remaja. Saya pun dihubungi untuk di minta nomor rekening. Saya pun balik bertanya berapa uang saya terima? Saya pun terkejut karena cerpen saya menginspirasi banyak orang maka jumlahnya lebih besar dari sekolah. Kaget, tidak percaya jadi satu. Terselip rasa bangga dan bersyukur. Alhamdulillah. Thanks God biar pun saya mungil dan tidak bisa menjadi model (cita-cita kecil) tapi setidaknya saya bisa menghasilkan sebuah karya positif yang menginspirasi banyak orang.

Bahkan, saya diminta membuat cerpen untuk dijadikan bahan di salah satu redaksi majalah tersebut dan mendapat gaji mingguan. Tawaran tersebut saya sanggupi dan tidak saya lewatkan begitu saja. Jadi, saya sudah tidak minta uang jajan sama papa lagi. Karena saya sudah bisa mencari uang sendiri.

Dulu, saya yang dianggap mungil dan dipandang sebelah mata sekarang bisa bangga karena bisa menghasilkan karya dan mendapat income yang terbilang cukup besar untuk anak yang masih duduk di bangku SMA. Papa, Mama, Kakak dan Adik saya sangat bangga dengan pencapaian yang saya dapat. Itulah tantangan hidup karena Allah tahu kita pasti bisa? Allah tahu kita pasti bisa melewati ini semua asal sabar dan terus berusaha dan tetap berada di jalanNya?

Lakukan sesuai passion kalian, terus berusaha. Kalian pasti bisa? Do the best. Selalu bersyukur dan bahagiakan orang tercinta.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓