Setiap Kalimat yang Kita Ucapkan Bisa Menjadi Doa

Endah Wijayanti01 Feb 2020, 14:15 WIB
maaf lapang dada

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: HKN - Pekanbaru

Lemah lembut, gemulai, manja dan sifat lainnya yang membuat wanita terlihat lebih anggun. Mereka senang disanjung, seolah-olah sanjungan yang diberikan kepadanya itu merupakan reward untuk dirinya yang telah melakukan sesuatu itu dengan sangat baik. Perhatian dan kasih sayang yang mereka idam-idamkan. Mungkin semua itu tidak terlalu banyak untukku rasakan.

Aku seorang wanita yang lahir dan dibesarkan dengan berbagai macam bentuk kasih sayang. Kasih sayang seperti ini yang selalu menemani hari-hariku, hingga aku beranjak dewasa seperti saat ini. Namun, aku merasa terlahir dengan kodrat sebagai pria dan wanita hanyalah tampak dari fisikku saja. Matahari, bulan, dan bintang terus bergantian untuk bisa terlihat indah tampil di panggung mereka. Terus seperti itu. Ada kalanya mereka juga berubah dan mengekspresikan bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja, sama halnya dengan yang aku rasakan.

Hari-hari yang kujalani kusebut sebagai karantina. Sempat terlintas dalam pikiranku, “Sampai kapan aku menjalani karantina ini?” Kalimat itu terus muncul di saat aku merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang kujalani. Tetapi aku juga sering berkata kepada diri ku sendiri, “Sudahlah, jalani saja, ini tidak seberapa dibandingkan dengan kekuatan hati yang kumiliki." Berat memang menjalani semua ini dengan umur yang masih terlalu dini. Dengan semua yang kujalani itu, membuat diriku menjadi pribadi yang tertutup dalam circle kecil.

Beranjak masuk ke circle yang lebih besar, aku menjalani hari-hariku dengan belajar dan bermain dengan teman-teman seumuranku. Sehingga aku suka mencari kesibukan di luar rumah yang membuatku lupa tentang karantina itu. Aku lebih merasa semua bakat dan keahlianku tersalurkan dengan masuk kedalam circle yang satu tingkat lebih besar lagi. Di sana aku mendapatkan banyak pujian, perhatian serta dukungan untuk lebih megeskplorasi semua bakat-bakat yang kupunya, sehingga aku mendapatkan kenyaman itu diluar circle kecilku.

Tepat di saat aku menyandang status sebagai mahasiswi, aku merantau ke kota orang, bertemu dengan berbagai orang dari berbagai daerah, tentu saja sifat dan watak mereka berbeda-beda. Nah ini menjadi tantanganku lagi untuk bisa berdaptasi dan tidak terikut dengan kebiasan-kebiasan mereka yang bertolak belakang dengan kebiasaanku. Ternyata benar, kebisaan mereka sangat bertolak belakang dengan kebisaanku, sehingga aku tidak banyak bergaul dengan mereka.

Aku jalani hari-hariku dengan sendirinya, tetapi aku merasa tenang. Sampai di mana aku menemukan kelompok orang-orang yang aku berada didalamnya sangatlah nyaman walaupun kadang aku merasa minder karena ilmuku tidak seperti mereka. Berada di sana aku merasa mendapatkan keluarga baru di perantauan. Ya.. aku memang tidak terlalu taat dengan aturan agama, kadang aku juga merasa sedikit risih jika selalu diingatkan. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku berfikir, “Mau sampai kapan hidup kayak gini ngga ada muhasabanya?”

Di saat seperti itu aku selalu menyemangati diriku dengan kata-kata yang menurutku pasti akan terwujud. Seperti, “Sudahlah, aku bisa jauh lebih baik dari dia. Nggak apa-apa mungkin bukan rezekiku di sini, aku yakin Allah telah persiapkan hadiah yang lebih baik lagi. Bersabarlah, ujian ini diberikan agar aku bisa lebih berhati-hati dalam berbagai hal. Menjadi orang baik tidak akan selalu mulus memang, tapi aku yakin Allah pasti akan mengirimkanku orang-orang yang baik juga yang akan membersamaiku.”

Pernah waktu itu aku ditimpa musibah, dompetku hilang, semua identitasku di sana, aku sangat panik. Aku tidak tahu lagi mau berbuat apa, yang aku lakukan hanyalah ke kantor polisi untuk meminta surat kehilangan. Seling beberapa hari, ada adik kelasku yang memberitahu bahwa dompet ku di pajang di tempat fotocpy, mendapat kabar itu aku langsung bergegas untuk mengambilya. Dan ternyata, isi dompetku tidak berkurang dan tidak ada yang hilang satupun. Aku sangat senang dan bersyukur sekali, karena masih ada juga orang-orang yang baik.

Kejadian seperti ini terulang selama tiga kali karena keteledoranku, akan tetapi alhamdulillah, semuanya kembali dengan utuh lagi. Ada juga di saat aku melaksanakan kerja praktik di suatu kota, di sana aku berdua dengan temanku, yang kuanggap orangnya baik dan tidak mungkin mengkhinatiku. Seiiring berjalannya waktu terbongkar sendirilah bagai mana sifat aslinya. Dia jadikan aku bahan bicaranya dengan sahabatnya, semua sifatku, kebisaanku, dan kejelekanku dia yang tahu, karena kami tinggal satu atap selama 4 bulan.

Berusaha Menemukan Kekuatan Baru

kisah my forgiveness matters 11
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Di sana aku merasa sangat kecewa telah salah menilai dan membantu dia selama ini. Sungguh sangat membekas dihati, dia sangat pandai bermuka dua. Tetapi di balik itu aku selalu meminta, “Ya Allah, tolong kuatkan hatiku dengan takdir-Mu saat ini, berikan aku kesabaran dan jagalah hati ini selalu. Amin."

Waktu terus berlalu dan meninggalkan ceritaku di saat kerja praktik. Dan singkat ceritanya aku telah lepas dari almamater mahasiswiku, semua kisah saat kuliah kini tinggal cerita yang nantinya akan menarik untuk diceritakan dan dijadikan guru.

Kehidupan setelah lepas dari almamater mahasiswi sungguh sangat lebih rumit. Selama mejadi pengangguran aku selalu bilang, “Inshaallah tahun depan udah dapat kerja, tenang saja tidak lama lagi." Kata-kata itu yang selalu menjadi penyemangat di hari-hari pengangguran ku.

Dua bulan sudah berlalu dari hari kelulusan, tepat tanggal 2 januari 2020, aku di telepon untuk mengikuti tes di perusahaan pada saat aku kerja praktik satu tahun yang lalu. Ada dua orang yang mengikuti tes tersebut salah satunya adalah aku. Tetapi aku tidak yakin bahwa aku akan lulus tes, karena sainganku ini mahir sekali dalam berbahasa Inggris. Dia lulusan Sastra Inggris dari salah satu universitas di Padang.

Pada saat tes hari itu, aku tidak terlalu berharap apapun agar bisa lulus, karena aku tahu juga potensi sainganku seperti apa. Hari tes berjalan sangat singkat karena aku juga harus mengejar kapal terakhir untuk bisa pulang ke rumah. Setelah magrib tepatnya, aku menerima WA dari HRD perusahaan tadi. Dan ternyata aku lulus tes, dan disuruh bekerja mulai tanggal 6 Januari 2020. “Alhamdulillah, ya Allah,” begitu senang kurasakan. Akhirnya aku mulai bekerja dan harus merantau lagi di kota orang. Di sinilah kehidupan sebenarnya yang akan kujalani.

Jadi selalu katakan segala sesuatu itu dalam bentuk positif dan harapan. Tetap letakan harapan kepada Sang Pencipta dan yakinlah bahwa setiap yang kita ucapkan itu adalah doa, sehingga kita sangat berhati-hati dalam berucap.

Percayalah bahwa ketika kita berniat untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, maka akan Allah akan dekatkan kita dengan orang-orang yang baik juga. Dan jika kita ingin berbuat baik kepada orang lain jangan pernah megharapkan balasan dari orang tersebut, tetapi berharaplah balasan dari Allah, karena ada saatnya Allah akan balas kebaikan yang telah kita perbuat tepat pada waktu yang kita butuhkan.

Dan yang paling terpenting adalah bersabarlah, karena Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar dan Allah akan janjikan hadiah untuk mereka yang bersabar. Yang terakir yaitu tidak ada yang lebih indah dari bersabar dan mengikhlaskan. Mulailah melakukan perubahan dari sekarang untuk menjadi pribadi yang berkualitas. Tetap berusaha, berdoa, dan tawakal.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓