Lepaskan Luka Lama, sebab Masih Ada Wajah yang Perlu Dibuat Tersenyum

Endah Wijayanti30 Jan 2020, 09:55 WIB
pura-pura bahagia

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Arizka Aulia - Blitar

Ada banyak luka yang harus disembuhkan, tapi ada bahagia yang harus diciptakan. Begitulah yang kini tengah aku pikirkan. Hari terus saja berganti, tak pernah memberi toleransi bagi mereka yang bahagia untuk memperlama masa kebahagiaannya. Namun, entah mengapa akan terasa lama bagi mereka yang tengah terluka, begitulah kiranya. Hal itu membuat kita tersadar, jika waktu berpijak dengan kedua kaki yang beriringan memberi tahu jika bahagia dan luka akan datang bergantian.

Menjadi anak pertama dari empat bersaudara membuatku semakin bertekad untuk menjadikan diri semakin baik dari hari ke hari. Ada tanggung jawab di pundakku, menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku adalah tugasku. Hidup kami bukanlah hidup yang mudah. Berulangkali terjatuh dan terjatuh adalah biasa bagi kami. Hidup sulit bagi orang lain adalah rumit, tapi bagi kami itu adalah makanan keseharian kami. Pernah terlintas dalam benakku, jika mati lebih baik daripada hidup dengan masalah yang mencekik. Masalah yang datang tak ada habisnya, sempat membuatku tenggelam dalam hidup sekedarnya. Seolah hidupku tak berarti apa-apa hanya sebatas bernapas saja.

Namun, pikiran itu perlahan memudar. Terbesit sebuah pertanyaan yang membuatku tertampar. “Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika aku tetap begini-beginisaja?” Aku tak bisa menampik pertanyaan itu, sudah saatnya aku bangkit dari semua rasa sakit. Melakukan perubahan dan menciptakan kebahagiaan. Kebahagiann itu tenyata bukan sebuah pencarian, tetapi sesuatu hal yang harus diciptakan. Karena bahagia itu hadir dari diri kita sendiri, bukan dari orang lain ataupun materi. Di awal tahun ini memberi kesempatan bagiku untuk keluar dari zona nyamanku. Setidaknya dalam hidup itu perlu sedikit berpeluh dalam mengayuh menjemput kebahagiaan.

Membahagiakan Keluarga

Ibu dan Anak
Ilustrasi./copyright shutterstock

Pada malam pergantian tahun kemarin, aku berusaha menatap ibu, bapak dan ketiga adikku. Betapa hebatnya mereka yang telah berhasil melalui segala rintangan dan rasa sakit dari tahun-tahun yang telah berlalu. Sebelum berusaha meraih kebahagiaan kita harus tahu hal-hal apa yang dapat membuat kita bahagia meski dengan hal yang kecil sekalipun. Aku tahu apa bahagiaku, yaitu mereka. Ya, keluargaku.

Tahun ini adalah garis awal untukku memulai berlari, ada banyak wajah yang harus kubuat tersenyum. Ada jutaan impian yang ingin kulukiskan agar menjadi kenyataan, jika tidak kumulai untuk mewujudkan sekarang bukankah hanya akan menjadi angan-angan belaka? Semoga tahun ini menjadi awal untuk hari-hari berikutnya bagi mereka tersenyum bahagia, bukan hanya untuk mengistirahatkan sejenak diri mereka dari dunia durjana. Tetapi juga meluluhkan semua rasa sakit yang telah mereka terima. Mulai malam itu aku berjanji, saatnya menanggalkan luka-luka lama dan semua cerita dukanya. Lupakan sakitnya dan ambil setiap pelajaran dari semua cerita yang telah berlalu untuk bekal dikehidupan hari ini dan hari berikutnya.

Saatnya keluar dari zona nyaman, selamat tinggal tahun-tahun menyakitkan. Selamat datang hari-hari perubahan, ada mimpi yang harus kuwujudkan. Aku meremas tanganku dengan kuat meyakinkan diri jika aku mampu untuk menjadi lebih baik lagi.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓