Memaafkan Masa Lalu yang Pahit Meringankan Langkah ke Depan

Endah Wijayanti31 Jan 2020, 09:45 WIB
perempuan putus cinta

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Febria - Depok

Hampir 30 tahun masa lalu itu membelenggu.

Siapa yang tidak ingin lebih baik? Tentu semua orang termasuk saya ingin berubah menjadi lebih baik seiring pertambahan usia. Mungkin bagi beberapa orang berubah menjadi lebih baik bisa saja dilakukan dengan mudah. Tapi buat saya, itu sulit karena masa lalu yang membelenggu saya.

Masa lalu yang seharusnya sudah saya kubur dan lupakan bahkan saya maafkan selalu menjadi hantu bagi saya. Kenangan ketika saat saya masih kecil, kedua orangtua saya berpisah tanpa saya tahu alasannya. Masa kecil saya hampir sulit saya ingat kenangan demi kenangan. Karena yang saya ingat adalah bagaimana saya harus bisa berjuang menahan rindu pada mama dan beradaptasi dengan ibu yang baru.

Hampir 30 tahun masa lalu itu membelenggu, membuat saya menjadi orang yang cuek, dan egois. Merasa tidak butuh siapa-siapa karena sejak kecil saya seperti dilatih untuk mandiri lebih awal. Dipaksa untuk mengerti kondisi perceraian orangtua. Tapi ternyata sifat cuek dan egois saya itu tidak membuat hidup saya lebih baik. Saya sering merasa menekan diri sendiri. Enggak menceritakan kesusahan atau bahkan gengsi meminta bantuan orang lain.

Tapi, ini harus bisa saya berani berubah untuk menjadi lebih baik. Saya memaksa diri saya untuk bisa memaafkan masa lalu orangtua. Memaafkan orang yang pernah melukai saya bahkan mencoba untuk memberikan perhatian pada sekeliling. Bersikap lebih ramah, memberikan senyum dan belajar toleransi dengan memahami orang. Bahwa tidak semua orang harus merasakan masa lalu yang saya pernah rasakan.

 

Awalnya Memang Terasa Sulit

putus cinta
ilustrasi./Photo by Sam Pineda from Pexels

Sulit awalnya, namun seiring tahun demi tahun saya coba jalani akhirnya semuanya bisa membuahkan hasil yang manis. Saya merasa lebih baik, karena tidak lagi melihat ke masa lalu. Saya memaafkan kedua orangtua, saya memaafkan diri saya sendiri yang selama ini ternyata saya menjadi sosok egois yang merugikan diri saya.

Sekarang saya merasa lebih ringan, rileks ketika bisa meminta bantuan rekan kerja. Tidak memaksakan diri untuk terlihat selalu tegar. Karena tenyata kadang kita perlu menangis bukan artinya kita lemah.

Kita perlu menerima bantuan orang lain bahkan pelukan dan cinta dari orang lain. Memaafkan masa lalu, membuat hubungan saya dan kedua orangtua, ibu dan ayah tiri serta adik tiri kini lebih baik. Saya malah menikmati waktu kebersamaan bersama mereka. Saya tidak lagi kesepian dan memenjarakan diri sendiri. Egois dan sikap cuek saja kini luluh, diganti dengan senyum dan tawa yang lebih mewarnai hidup di usia saya yang semakin mendewasa.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓