Lelah Fisik dan Mental Mencetuskan Keinginan untuk Mengakhiri Hidup

Endah Wijayanti31 Jan 2020, 15:45 WIB
mengakhiri hidup

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: J - Bogor

Setiap awal tahun tidak sedikit orang berlomba untuk merangkai resolusi, mimpi, dan harapan mereka. Hal yang sama pula dengan aku. Aku mencoba membuka awal tahun dengan mimpi untuk menjadi pribadi yang bisa menerima dan memandang hal sekitarku dengan cara yang lebih positif.

Tahun lalu menjadi salah satu tahun tersulit dalam hidupku. Melewati masa-masa sulit sendirian tanpa seseorang yang bisa kuandalkan menjadi teman dalam kesepianku. Aku sangat tertekan dengan semua kondisi yang begitu memojokkanku. Masalah finansial yang tak kunjung selesai, hubungan dengan pasanganku yang begitu ruwet sampai masalah keluarga yang selalu menganggap aku sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Setiap hari aku lalui dengan sangat berat. Aku berusaha untuk lalui itu semua tanpa menangis di hadapan orang-orang yang kusayangi. “Aku tidak mau membuat mereka kepikiran," pikirku. Suatu hari, beban pikiran, emosional dan fisik yang terlalu lelah akibat terlalu banyak terjaga di malam hari membuatku terkapar tak berdaya. Ya , aku sakit. Aku lelah secara fisik dan mental. Aku tidak bahagia dengan semua hal di sekitarku. Saat itu aku berpikir, apakah lebih baik aku mati? Sepertinya orang tidak ada yang mau berempati dengan keadaanku yang seperti ini.

Berusaha Memperbaiki Diri Sedikti demi Sedikit

Move on
Ilustrasi/copyright unsplash.com/@icons8

Sebenarnya aku adalah tipikal wanita yang cerewet dan ekstrover, tapi untuk urusan pribadi, aku selektif dalam memilih teman cerita tetapi lagi-lagi teman kepercayaanku juga akhirnya berkhianat dan membuat keadaanku menjadi terpuruk. Bagaimana tidak, kisahku yang sudah kupercayakan ke dia malah disalahgunakan dan diceritakannya ke orang lain. Aku sangat terpukul dan hal ini berkontribusi besar pada kesehatan mentalku ini.

Aku yang down kemudian menutup diri dan menolak seluruh ajakan teman-temanku karena aku merasa bahwa aku sudah nggak berarti dan mereka punya derajat lebih tinggi dari aku. Hampir enam bulan lamanya aku mencoba untuk stay di zona amanku sendiri, mencoba melindungi perasaanku, mencoba kembali meresapi apa yang telah terjadi, mencari dan menarik kesimpulan tentang seluruh problem dan kesalahan apa yang sudah aku lakukan. Berat memang untuk mencoba memaafkan dan mengubah sifat diri sendiri karena selama ini aku menuntut orang untuk bisa ngertiin aku.

Perubahan yang sedang kulakukan mulai awal tahun ini adalah lebih mencintai diri sendiri dan menghindari pikiran-pikiran negatif yang sering berputar di kepalaku. Aku juga memulai meditasi untuk lebih membuat hati dan pikiran jernih dan juga lebih memperhatikan gesture dan tutur kata saat berbicara. Aku juga mencoba menerima apa pun kejadian masa lalu yang sudah lewat, memaafkan diri sendiri dan temanku yang waktu itu sempat “berkhianat".

Sedikit demi sedikit, perasaan penat dan beban yang tersimpan dalam hati bisa terangkat. Di tahun ini aku mencoba untuk change my old life to my new life. Aku berharap ke depan kehidupanku bisa menjadi lebih bahagia daripada hari ini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓