Memulai Hidup Sehat tak Harus dengan Cara Mahal

Endah Wijayanti01 Feb 2020, 07:15 WIB
manfaat air putih HL

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Whenta - Samarinda

Tahun baru 2020 ini pasti memiliki target yang belum terpenuhi di tahun sebelumnya. Mulai dari menikah, memiliki anak, pekerjaan dan gaji yang bagus sampai menerapkan gaya hidup yang lebih sehat dan lebih baik lagi. Dan menjadi acuan agar menjalani di tahun baru ini dengan semangat baru agar hasilnya bisa lebih baik di banding tahun sebelumnya. Pada awalnya sulit tapi lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan yang “wajib” bagi gaya hidup kita.

Sesuatu yang tidak disengaja akhirnya bisa menjadi suatu kebiasaan yang positif. Awalnya terkesan maksa bahkan tidak terencana, tapi pelan-pelan hasilnya luar biasa bagi kesehatan kita. Sebelumnya sempat berpikir “maksa banget” dan ingin setop tapi akhirnya sekarang sudah menjadi kebiasaan rutin sehari-hari.

Ini berawal dari ketidaksengajaan saya memulai hidup sehat. Tidak mengonsumsi makanan yang bisa dikatakan cukup mewah bagi saya tapi murah meriah pun bisa. Dan saya sudah merasakan hasilnya. Waktu itu sekitar tahun 2018 akhir, gara-gara kulkas di rumah rusak dan dibiarkan saja jadi akhirnya mau tidak mau saya pun dibiasakan minum air hangat dan air biasa. Jadi saya harus beradaptasi tidak minum air es yang selalu menjadi kebiasaan saya setiap hari.

Berat sekali bahkan merasakan perut mual, eneg saat pertama minum air putih hangat. Saya pun protes sama Mama saya. “Ma, coba beli kulkas yang baru dan kulkas yang lama bisa ditukar tambah atau diperbaiki.” Mama hanya menjawab singkat, “Iyam nanti." Jawaban itu terus yang bikin saya bosan dan tidak ada ujungnya.

Mengurangi Makanan Berminyak

Menggoreng tahu
Ilustrasi/copyright shutterstock.com/kariphoto

Selain itu juga Mama mulai mengurangi makanan serba gorengan dan sering memasak dengan cara dikukus atau direbus. Awalnya saya heran, belum clear urusan kulkas malah harus makan serba dikukus. Mulai dari sayuran rebus dicolek sambal terasi, pisang rebus, kentang kukus sama persisnya mengonsumsi siomay setiap hari. Kalau tidak sambal terasi ya sambal kacang, menu gado-gado pun juga mewarnai menu makan kami.

Alhasil beras di rumah masih banyak karena kami makan kentang dan pisang pengganti karbohidrat. Oh my God. Saya pun bertanya “Ma, kenapa sekarang sering memasak makanan di kukus segala? Apa kita lagi menjalankan gaya hidup vegetarian atau middle vegetarian di mana hanya mengonsumsi minum air hangat dan makanan serba dikukus atau direbus?” Mama hanya tersenyum.

Tak terasa sudah setahun lebih kami menerapkan gaya hidup yang berawal dari ketidaksengajaan. Gara-gara kulkas rusak jadi merembet ke mana-mana. Mulai tak minum air es lagi atau makan es krim. Makanan dimasak dengan dikukus dan direbus. Bahkan penggunaan minyak goreng dibatasi.

Anehnya dengan kesibukan yang padat dari bekerja, ikut pengajian rutin kantor, pengajian di masjid dekat rumah sampai ikut olahraga tiap minggu pagi di lingkungan RT, saya tak merasakan capek atau ngos-ngosan saat bernapas apabila setelah berolahraga. Awalnya saya cuek dan menganggap ini hal yang biasa. Karena saya menganggap umur saya masih muda. Tapi karena selama ini harus berdamai dengan “air putih hangat” yang membosankan dan makanan serba rebus dan kukus, ini berdampak dengan kesehatan tubuh saya yang tidak mudah capek, bahkan tak sengaja berat badan saya pun turun.

Berat Badan Turun dan Nggak Gampang Capek

Tips Diet
Ilustrasi./copyright shutterstock

Sebenarnya saya ada planning untuk diet tapi tidak sekarang. Dulu berat badan saya di kisaran 60 kg. Paling rendah 57 kg. Sampai akhirnya saya penasaran dan meminjam timbangan tetangga. Dan finally saat saya menimbang, timbangan menyentuh di angka 52 kg. Semula saya berpikir ini timbangan rusak tapi setelah saya mencoba menimbang kembali di puskesmas terdekat hasilnya tetap sama. Apa ini efek dari gaya hidup selama ini? Apa karena saya senewen stres berdamai dengan minum dan makanan yang dulu saya hindari bahkan tidak pernah saya sentuh sama sekali.

Mindset saya akhirnya saya ubah. Saya mulai berdamai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dan saya pun mulai mencari tahu manfaat minum air hangat dan makanan serba rebus dan kukus. Saya pun browsing internet di sela menyelesaikan kerjaan di kantor. Dan ternyata manfaat banyak sekali mengonsumsi minum air hangat mulai dari menurunkan tekanan darah, melancarkan aliran darah, membuang toksin dalam tubuh, melancarkan pencernaan, bahkan sampai menurunkan berat badan. Dan ini benar karena semula berat saya kisaran 60 kg menjadi 52 kg.

Penasaran pun belum usai, saya kembali membaca artikel manfaat makanan rebus dan kukus dan ternyata mampu mencegah penyakit seperti kanker, kolesterol, bahkan membuat wajah awet muda, “Hmm saya pun berpikir kenapa tidak dari dulu Mama mengajarkan gaya hidup sehat seperti ini?” Tapi, it’s ok lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?

Akhirnya saya pun berterima kasih sama Mama karena kemarin saya protes dan mengeluh tapi sekarang, hasil tidak pernah berkata bohong. Alhamdulillah, kami sudah tidak pernah sakit atau gampang capek, bahkan tubuh merasa ringan. Emosi juga lebih terkontrol. Apa pun yang dilakukan orangtua untuk keluarga pasti yang terbaik dan selalu ada hasil positif, betul tidak?

Mulai hidup sehat tidaklah harus dengan cara yang mahal. Bahkan, dengan cara yang tidak di sengaja bisa menjadi suatu titik awal perubahan yang lebih baik.

#GrowFearless with FIMELA

 

Lanjutkan Membaca ↓