Bergerak dari Zona Nyaman Menuju Perubahan yang Lebih Baik

Endah Wijayanti03 Feb 2020, 15:45 WIB
cinta apa adanya

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Eryza Jazid Adam - Sukabumi

Pemberani itu mati hanya sekali, tetapi penakut itu mati seribu kali.

(Pepatah Arab)

Tahun yang baru, keinginan, cita-cita, dan tentu saja harapan yang baru. Setiap individu berusaha mewujudkan impian yang belum tercapai dalam kehidupannya di tahun yang lalu, dengan beragam rencana dan strategi. Baik itu untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Intinya, secara personal setiap orang ingin berubah menjadi lebih baik seiring pergantian waktu. Dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan, hingga bulan berganti tahun.

Berkaca dari tahun sebelumnya, di tahun 2020 ini, secara personal ada beberapa hal yang ingin saya tinggalkan dan ubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sudah menjadi pembawaan alamiah setiap manusia bahwa kita selalu merasa takut untuk berubah ke arah yang lebih maju dan positif. Kita takut dan terkadang enggan meninggalkan comfort zone atau zona nyaman kita. Semoga apa yang saya tulis ini bisa menginspirasi Sahabat Fimela. Sehingga di tahun yang baru ini kita bisa mengalahkan semua ketakutan yang membelenggu kita untuk menjadi sosok yang penuh inspirasi dan mampu membuat perubahan positif bagi diri sendiri dan orang lain. Selamat membaca.

Mengutamakan Kepentingan Orang Lain

Hal pertama yang ingin saya ubah di tahun yang baru ini adalah berhenti menjadi seorang people pleaser. Lama-lama gerah kalau harus terus mengutamakan kepentingan orang lain dalam banyak hal. Seperti dalam hal menyelesaikan pekerjaan di kantor hingga urusan tugas sekolah atau kuliah. Jangan sampai karena menginginkan keberadaan kita dianggap ada oleh sekelompok orang, kita mengabaikan kepentingan diri kita sendiri.

Takut pada Perubahan

Hal kedua adalah buang jauh-jauh perasaan takut untuk membuat perubahan yang positif terhadap diri dan kehidupan kita sendiri. Baik itu perubahan untuk fisik, mental, dan spiritual kita. Manusia tidak akan mampu hidup dalam era serba modern dan canggih seperti sekarang, jika manusia takut pada perubahan besar yang pada akhirnya membawa kemajuan pada setiap lini kehidupan dan peradaban manusia sebagai mahluk Tuhan yang mulia. Dahulu, segala pekerjaan manusia harus dilakukan secara manual. Namun, dengan hadirnya revolusi industri semua yang serba manual itu bisa dilakukan lebih cepat dengan bantuan mesin dan alat-alat industri.

Tinggalkan Masa Lalu

kesehatan
ilustrasi./Photo by Aaron Birch on Unsplash

Hal ketiga, tinggalkanlah masa lalu dan jangan hidup dalam masa lalu. Masa lalu adalah pembelajaran agar kita tidak mengulang kesalahan hidup yang sama di masa sekarang dan masa yang akan datang. Biarkanlah semua kegagalan, rasa bersalah, rasa tak berdaya, dan pengalaman pahit kehidupan masa lalu sebagai landasan bagi diri kita untuk bangkit dan menata hidup ini dengan semangat, harapan, dan tentunya optimisme yang baru. Ingatlah, ada hari ini, esok, dan lusa, serta hari-hari ke depan yang harus terus kita jalani dan isi dengan hal-hal yang berharga. Beranikan dirimu. Breaking the glass ceiling.

Berpikir Berlebihan

Hal keempat, hindari dan tinggalkanlah pikiran yang berlebihan alias overthinking atas segala sesuatu. Baik dan buruk sudah diciptakan Tuhan secara berpasangan. Semua bayangan kesulitan yang ada dalam hati dan pikiran kita, belum tentu itu yang kemudian akan terjadi. Ada Tuhan yang kuasa mengatur setiap peristiwa.

Takut untuk Berbeda

Hal kelima adalah jangan takut untuk menjadi pribadi yang berbeda. Tentunya dalam hal yang positif. Jadikanlah diri ini apa adanya. Tak perlu meniru dan ingin menjadi seperti orang lain hanya karena ingin diterima dalam sebuah komunitas pergaulan. Jadilah diri sendiri dengan segala ciri khas yang dianugerahkan Tuhan. Jangan korbankan kebahagiaan kita untuk orang yang tidak menyayangi kita dengan tulus. Berhenti berpikir bahwa kita tidak cukup baik dan berhenti berpikir bahwa kita tidak punya tujuan.

Menyia-nyiakan Waktu

Perubahan ke arah yang lebih baik tidak bisa dicapai jika kita masih menyia-nyiakan anugerah terbesar Tuhan, yaitu anugerah waktu. Semua orang di muka bumi ini punya jatah waktu yang sama. Setahun 365 hari. Mimpi dan cita-cita yang besar, pada dasarnya, harus tetap dimulai dari langkah sederhana yaitu mengatur waktu. Semakin cerdas kita mengatur waktu, semakin dekat pula kita dengan tujuan-tujuan hidup yang ingin kita capai. Semoga bermanfaat.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓