Saat Mengalami Quarter Life Crisis, Fokuslah pada yang Ingin Kita Capai

Endah Wijayanti03 Feb 2020, 13:55 WIB
mencintai dalam diam

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Helena Anindya - Yogyakarta

2020 menjadi tahun yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap malam tahun baru aku biasanya akan membuat resolusi yang ingin aku capai. Tapi di tahun ini aku belum membuat resolusi karena aku sempat berpikir percuma membuat resolusi ketika itu hanya tersimpan dalam kertas. Terlebih beberapa tahun belakangan ini aku merasa mulai masuk dalam quarter life crisis.

Aneh memang rasanya apalagi bagi orang yang belum pernah mengalami. Aku mulai mempertanyakan untuk apa semua yang aku lakukan sekarang dan apa sebenarnya yang aku cari dan ingin aku capai dalam hidupku. Aku saat ini masih menjalani pendidikan profesi di salah satu universitas negeri. Aku sudah menyelesaikan program sarjanaku tapi itu belum cukup karena untuk mulai bekerja di profesi ini aku harus menyelesaikan pendidikan profesi yang tinggal beberapa bulan lagi.

Selama bertahun-tahun rasanya aku melakukan semua semampuku, aku mengerjakan semua kewajibanku, dan aku berusaha menyelesaikan semua tepat waktu. Tapi ada perasaan yang terus mengusik, seperti ada hal lain yang harus aku lakukan, ada hal yang bisa aku bagikan untuk orang lain, ada hal yang aku suka dan harus aku kembangkan tapi belum bisa aku lakukan. Aku sering mempertanyakan apakah saat ini memang jalan yang seharusnya aku ambil. Di satu sisi aku terus mencoba menikmati setiap proses, aku berdoa meminta petunjuk ditengah kebingunganku, tapi pada akhirnya aku tetap dijalan ini dengan segala perjuangan dan naik turunnya.

Di awal perkuliahan ada sesuatu terjadi di keluargaku yang membuat aku menjadi kurang fokus baik dalam studi atau di kegiatan sehari-hariku. Orangtuaku tidak pernah menceritakan keadaan sebenarnya dan aku malah mendengar kabar itu dari anggota keluarga lain. Aku benar-benar terganggu saat itu dan efeknya pun masih tersisa sampai saat ini setelah kurang lebih 4 tahun berlalu. Aku sempat menjadi kurang percaya diri, kadang merasa rendah diri, asal menjalani kewajibanku agar semua ini cepat selesai tapi aku sadar ini salah. Aku merasa aku menjadi orang yang berbeda dari yang aku kenal dahulu.

Kembali Fokus pada yang Ingin Diraih

perempuan karir tersenyum
ilustrasi./copyright little star (Shutterstock)

Aku suka memberikan dukungan untuk orang lain apalagi teman-temanku yang sedang mengalami masa-masa sulit karena aku tahu betul bagaimana rasanya ada di titik terendah dalam hidup. Tapi dahulu aku merasa kosong karena aku belum tahu apa tujuanku. Aku sering menulis mimpi dan harapan-harapanku salah satunya untuk mulai berbisnis. Selain itu, aku ingin sekali mengembangkan potensiku yang tidak ada hubungan langsung dengan pendidikanku saat ini tapi selalu saja ada alasan atau kepentingan lain yang membuatku berhenti dan kembali ke rutinitas awal lalu lama-kelamaan melupakan mimpi itu.

Aku merasa kecewa karena saat aku ingin mencoba mewujudkan harapan-harapan itu aku berhenti di pertengahan. Aku ingin menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Aku tidak ingin jadi pribadi yang hanya bisa berharap tanpa mengerjakan usaha yang sama besarnya dengan mimpi-mimpiku. Di tahun ini aku ingin fokus pada hal yang ingin aku capai dan mencoba terus. Aku tidak mau menyesal.

Usiaku masih 23 tahun. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk mencoba. Setidaknya di usia mudaku aku memiliki modal berharga yaitu waktu, tenaga, pikiran, dan tekad. Mentalku harus dibentuk agar kuat dan pribadiku juga harus berakar pada nilai-nilai yang benar. Aku juga yakin perasaan rendah diri dan ketidakpercayaan diriku waktu itu muncul karena aku tidak melihat diriku lebih dalam dan mendorong diriku untuk melakukan yang maksimal. Aku harus lebih bersyukur lagi, mengembangkan kelebihanku, tidak berfokus pada masalah tapi berani menghadapinya, karena masalah-masalahku yang membentuk aku.

Tahun ini aku akan mengubah kebiasaan lamaku yaitu berhenti mencoba apa yang sudah aku mulai untuk mewujudkan mimpiku. Aku akan mengembangkan potensiku yang walaupun tidak ada hubungan langsung dengan pendidikanku saat ini. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati dan lebih percaya diri. Aku yakin aku juga seperti orang lain yang memiliki potensi untuk dikembangkan hanya tergantung pada seberapa besar usaha dan doaku. Aku juga akan selalu ingat untuk mewujudkan tujuan hidupku dengan tetap menikmati setiap prosesnya.

Aku ingin lebih sering berbagi dan menyemangati mereka yang sedang mengalami masa yang sulit. Aku akan selalu ingat bahwa setiap pagi saat aku bangun aku selalu dipanggil untuk berbuat kebaikan ke diriku sendiri, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan siapa pun juga. Aku akan mencoba untuk tidak pernah lagi merasa rendah diri karena aku tahu setiap pribadi itu spesial termasuk aku.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓