Memaafkan Memang Sulit, tapi Itu Cara Berdamai dengan Berbagai Luka

Endah Wijayanti04 Feb 2020, 14:15 WIB
Diperbarui 04 Feb 2020, 14:15 WIB
maaf gengsi

Fimela.com, Jakarta Rasanya tak pernah mudah memaafkan seseorang yang jelas-jelas menorehkan luka di hati kita. Terlebih jika orang tersebut adalah orang yang kita kira paling peduli terhadap perasaan kita. Disakiti oleh seseorang yang selama ini selalu baik dan dekat dengan kita adalah yang paling perih di dada.

Orang bilang memaafkan adalah tindakan paling terpuji dan berbudi saat sedang mengalami masalah dengan seseorang. Hanya saja pada kenyataannya berdamai dengan keadaan yang menyesakkan dada sangatlah sulit. Ketika sudah mencoba untuk ikhlas pun, seringkali masih ada rasa mengganjal di dalam hati.

Memaafkan Memang Sulit

Pada kenyataannya, memaafkan tak pernah mudah. Mengikhlaskan orang yang telah melukai kita untuk melanjutkan hidupnya juga sangat sulit. Rasanya kita ingin membalas orang tersebut atau mendoakan orang tersebut untuk mendapatkan luka dengan sakit yang sama seperti yang kita rasakan. Namun, kita pun sadar bahwa menyimpan dendam hanya akan membuat diri kita sendiri menderita.

Forgive. Because forgiving does not mean forgetting. It does not mean weakness. Because forgiveness does not belittle you. It does not make way for injustice. Rather, forgiveness releases you. Forgiveness makes a warrior out of you. (Francesca via thoughtcatalog.com)

kisah my forgiveness matters 6
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Memaafkan Perlu Waktu, Itu Benar

Ibarat luka, butuh waktu beberapa hari agar luka itu untuk kering kemudian sembuh. Rasa sakit yang kita rasakan di dada karena telah dilukai oleh seseorang memang butuh waktu untuk sembuh. Butuh waktu bagi kita untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Menstabilkan emosi dan mengeringkan air mata terlebih dahulu. Baru setelah itu, kita bisa perlahan-lahan menerima kenyataan yang baru dan bersiap untuk mengikhlaskan yang terjadi.

Berbagai Luka Terobati dengan Sebuah Maaf

Saat kita telah memaafkan seseorang, kita telah melepasnya dari belenggu yang kita tahan di dalam dada. Kita mengobati luka yang telah ia sakiti. Selain itu, luka karena kita menyalahkan diri sendiri pun bisa perlahan-lahan pulih. Kita bisa berdamai dengan diri sendiri dan berusaha untuk melangkah melanjutkan hidup dengan lembaran baru lagi.

Sangat menyakitkan saat kita tak bisa meminta bantuan siapa-siapa lagi untuk menguatkan diri kita. Dilukai dan disakiti memang membuat kita seakan didorong ke dalam jurang yang dalam seorang diri. Semoga apa pun yang kini masih membebani diri dan mengganjal di hati, bisa segera terobati. Semoga setiap luka bisa perlahan sembuh dengan berproses untuk mulai memaafkan dari dalam diri kita.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓