Cinta Sebaiknya Diiringi dengan Kemampuan Menerima Apa Adanya

Endah Wijayanti19 Feb 2020, 09:45 WIB
ilustrasi mendiamkan masalah

Fimela.com, Jakarta Tak pernah ada yang bisa baik-baik saja saat terjebak dalam hubungan yang beracun (toxic relationship). Baik dalam hubungan keluarga, kerja, pertemanan, hingga hubungan cinta, terjebak dengan seseorang yang memberi kita luka jelas membuat kita menderita. Namun, selalu ada cara dan celah untuk bisa lepas dari hubungan yang beracun tersebut. Selalu ada pengalaman yang bisa diambil hikmahnya dari hal tersebut. Simak kisah Sahabat Fimela berikut yang diikutsertakan dalam Lomba Let Go of Toxic Lover ini untuk kembali menyadarkan kita bahwa harapan yang lebih baik itu selalu ada.

***

Oleh: MCL

Semua berjalan lancar selama LDR. Kami bertukar kabar setiap hari, hingga bertukar kenalan dengan keluarga melalui video call. Hingga sembilan bulan kami LDR, dia memutuskan untuk kembali ke kota kami tinggal. Awal perjalanan yang manis saat dia yang hampir setiap hari mengunjungiku, meskipun perjalanan dari rumahnya ke rumahku harus ditempuh selama 45 menit. Hari-hari pun menjadi manis dengan adanya dia di sampingku. Hal-hal yang sederhana pun semua terlihat begitu indah.

Lalu semua berubah ketika aku mulai memasuki perkerjaanku yang baru, di mana aku adalah seorang junior yang harus banyak belajar untuk sesuatu yang baru. Aku mulai jarang mengabari dirinya saat pagi hingga sore hari saat aku pulang kerja. Dirinya mulai berubah, dan tidak menghiraukanku lagi.

Hingga suatu hari saat aku merasa dia sudah tidak menghargai keluargaku lagi, aku pun menceritakan semua hal yang aku rasa ke teman dekatku dan besok dia membacanya karena aku lupa menghapus chat bersama temanku. Lalu, kami pun bertengkar hebat, hingga putus dan dengan rasa sangat menyanyanginya aku pun meminta balikan.

Sifatnya Berubah

bertengkar dengan pasangan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setelah berbaikan, sifat dia pun mulai berubah. Hingga di akhir tahun, aku memimpikan bahwa dirinya ingin mengakhiri hubungan denganku, dan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku menangis sejadi-jadinya dan meminta agar dia tidak memutuskanku. Tapi hasilnya nihil, aku yang masih mengharapkannya, bukan dia yang masih mengharapkanku ataupun mengharapkan hubungan ini bakal baik-baik saja. Kami masih memberi kabar satu sama lain tetapi tidak seintens awal kami pacaran, aku selalu menunggu kabar darinya hingga larut malam.

Saat dia berulang tahun, aku pun membelikannya kue dan menunggunya. Tetapi dia dengan gampangnya menjawabku, “Aku tidak bisa datang karena hujan." It’s OK, aku makan sendiri kuenya. Lalu mamaku pun mengetahuinya dan mengatakan, “Jangan sama dia lagi, di udah nggak sayang kamu.” Di sana pun aku menangis karena mama juga sudah tidak menyetujui hubunganku dengannya.

Aku sering diam-diam keluar bersama dirinya tanpa diketahui oleh mama. Oh iya, selama 2 bulan aku putus dengannya, aku makan pun sudah tidak teratur hanya makan sekali dalam sehari, kalau tidak pun hanya dua sendok. Hingga tubuhku menjadi kurus dan dia berkata, “Aku sengaja meninggalkanmu, supaya kamu kurus.” Sumpah! Itu di luar pemikiranku, aku kacau, hatiku tersayat.

Hingga tekadku meninggalkannya pun bulat. Aku menghilang, aku tidak mengabarinya lagi. Hingga beberapa bulan aku menghilang, dia mencariku kembali dan menyatakan dia merindukanku. Tapi tidak kugubris. Karena rasaku ke dia memang sudah hilang sepenuhnya berkat dukungan dari semua keluargaku.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓