4 Alasan Jangan Langsung Olahraga Selama Efek Jet Lag

Novi Nadya20 Feb 2020, 18:00 WIB
Ilustrasi olahraga

Fimela.com, Jakarta Penerbangan jarak jauh umumnya menyebabkan jet lag yang secara medis disebut desinkronosis atau disritmia sirkadian. Jet lag disebabkan karena perbedaan atau mismatch waktu internal (biologis) di dalam tubuh dengan beragam faktor eksternal.

dr. Eugenia Permatami H, SpA menjelaskan faktor bilogis yang dimaksud di antaranya kebiasaan dari jam tidur malam, bangun pagi, durasi tidur, dan lainnya. Sementara faktor eksternal dipengaruhi oleh keadaan lelah, insomnia, sakit kepala, gelisah, dan sebagainya.

Salah satu cara untuk mengatasi mabuk pascaterbang atau jet lag adalah dengan berolahraga. Namun yang perlu diingat, olahraga yang disarankan adalah dengan intensitas ringan sampai sedang seperti naik sepeda, yoga, atau jalan santai.

"Exercise di luar ruangan sangat disarankan karena akan merangsang tubuh melepas berbagai hormon dari endorfin sampai serotonin dengan bantuan cahaya matahari," ujar dr Tami saat dihubungi fimela.com.

Prinsip Jangan Langsung Olahraga Saat Jet Lag

Ilustrasi/copyrightshutterstock/GP Studio
tidur nyenyang di malam hari

Bagi orang yang rutin berolahraga, dr Tami memahami jika muncul dilema untuk segera melakukan exercise setelah penerbangan jarak jauh. Bahkan tak jarang ada yang ngotot kembali melakukan rutinitas latihan olahraga berat di hari yang sama dalam keadaan jet lag.

Berikut alasan terlarang olahraga berat setelah melakukan penerbangan jarak jauh;

1. Tubuh Butuh Waktu Mengatur Ulang

Setelah menjalani penerbangan jarak jauh, tubuh akan mengatur ulang atau me-reset sebelum kembali tidur normal di malam harinya untuk memulai aktivitas esok harinya.

"Enggak ada gunanya mendorong tubuh kita untuk berolahraga saat istirahat tidak cukup. Jadi ganti saja dengan tidur dan minum air putih agar rehidrasi kembali baik," jelas dr Tami.

2. Tubuh Butuh Menyesuaikan diri

Ilustrasi traveling
Ilustrasi traveling. Sumber foto: unsplash.com/Gerrie van der Walt.

Saat ada perbedaan zona waktu antara negara asal dan tujuan, tubuh perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Di mana jam negara asal siang dan negara tujuan sudah malam.

"Tentunya tubuh butuh menyesuikan diri dengan zona waktu yang baru juga," jelasnya.

3. Saat Olahraga Terjadi Penurunan Oksigen

[Fimela] Ilustrasi Olahraga
Ilustrasi olahraga | unsplash.com/@yellowteapot

Dua aspek penting yang berkaitan dengan olahraga adalah yaitu penurunan oksigen dan konsumsi oksigen. Berkurangnya oksigen mengacu pada baseline dalam pembuluh darah arteri kita ke seberapa banyak oksigen yang dapat diserap tubuh (konsumsi).

"Yang diharapkan konsumsi oksigen tinggi, penurunan oksigen berkurang. Kalau kadar oksigen kurang, ambil napas jadi cepat dan ngos-ngosan yang mengurangi pasokan oksigen," jelasnya.

4. Efek Penerbangan Jarak Jauh

Ilustrasi bandara.
Ilustrasi bandara. (dok. Jeshoot-com/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Tekanan udara dalam kabin pesawat selama penerbangan jarak jauh lebih rendah dari permukaan laut. Sebab itu membuat berkurangnya kemampuan tubuh menyerap oksigen.

"Hal itu menyebabkan berkurangnya kemampuan tubuh menyerap oksigen karena penghantaran oksigen lebih rendah. Sebab itu. setelah perjalanan jauh tubuh perlu mendapatkan efek pemulihan dari jet lag," paparnya.

Simak Video Pilihan Berikut;

#ChangeMaker 

Lanjutkan Membaca ↓