Memenuhi Standar Kecantikan Versi Orang Lain Itu Melelahkan

Endah Wijayanti21 Mar 2020, 09:54 WIB
menjadi perempuan kuat

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Maya Andita

Cantik, tinggi, berkulit putih mulus adalah citra yang ditanamkan oleh orang-orang di sekitar saya sejak kecil tentang wanita cantik. Saya pun akhirnya tumbuh menjadi seorang anak perempuan, yang sebisa mungkin memenuhi kriteria tersebut untuk dapat dipuji cantik. 

Huh... Rasanya capek sekali, ketika harus memenuhi semua itu di kala saya sendiri juga memiliki kulit yang tak begitu "baik". Sejak SD, kulit saya sudah berjerawat. Anak-anak di sekitar saya selalu mengejek saya akan kekurangan saya itu. Entah sudah berapa banyak merek skincare yang saya pakai untuk membuat wajah saya mulus kembali. Tapi nyatanya, kulit saya tetap berjerawat. Bahkan, timbul bopeng yang cukup ketara di area pipi dan juga di atas bibir.  

Saya tidak tahu apa yang salah, apa karena saya yang tidak cocok pakai skincare atau karena hormon saya memang sedang bergejolak. Saya frustasi, sedih, dan menganggap wajah saya ini jelek. Seketika mimpi saya menjadi wanita cantik pun musnah, karena kondisi yang saya miliki saat itu. 

Tahun-tahun berlalu, saya melewatkan masa SMP dan SMA saya, dengan rasa insecure yang tinggi karena bopeng dan jerawat yang saya miliki. Saya tak pernah percaya diri jika berbicara dengan seseorang dari jarak dekat. Untuk itu, saya selalu memasang jarak yang cukup jauh saat berbicara, terutama dengan lawan jenis. Ya! Memang separah itu reaksi saya terhadap kekurangan diri sendiri.

 

Berdamai dengan Rasa Insecure

self-love
ilustrasi./Photo by Eduardo Dutra on Unsplash

Belum lagi lingkungan di rumah, yang selalu menggoda kondisi wajah saya yang tak ideal di mata mereka. Saya pun akan semakin panik jika jerawat tumbuh di kulit saya. Saya pakai apa pun untuk dapat menghilangkannya atau sekadar menyembunyikannya. Hal itu pun membuat saya stres sendiri saat menghadapinya.  

Lama sekali, saya berjuang dengan rasa insecure itu, hingga akhirnya mampu menerimanya dengan tenang. Mungkin wajah saya tak semulus wajah bintang film, tapi apakah saya harus merasa minder akan hal itu? Saya pun akhirnya me-reset kembali pikiran saya untuk lebih positif! Setiap orang di dunia ini, pasti memiliki kelebihan dalam diri mereka. Hanya karena kita tak "sesempuna" yang orang pikir, bukan berarti kita gagal atau buruk.

Lagipula, "nilai" yang kita miliki tak hanya sekadar dilihat dari penampilan, bukan? Masih banyak hal lain yang dapat kita tonjolkan untuk menjadi pribadi yang lebih menarik dari sisi pengetahuan, watak, dan juga sopan santun.  Berusaha untuk memenuhi kriteria kecantikan versi orang-orang itu, hanya dapat melelahkan hati saja. Membuang waktu dan tenaga, hanya untuk memikirkan hal yang seharusnya bukan menjadi pokok pemikiran utama.

Dengan kita mencintai kekurangan diri sendiri, hati kita pun akan terasa damai. Senyum pun akan terasa lebih lepas. Saya tidak peduli lagi dengan bopeng dan jerawat di kulit saya, karena yang terpenting bagi saya saat ini adalah, dapat menjadi pribadi yang bahagia versi diri saya sendiri. Menjaga kecantikan itu penting, tapi bukan berarti kita harus berusaha terlampau keras hingga akhirnya membuat diri menjadi stres. Mencintai kekurangan yang ada dalam diri adalah terapi yang dapat mendatangkan kebahagian yang damai. Percuma juga kan, terlihat menarik dari luar tapi malah tersiksa dari dalam?  

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓