Kebahagiaan Sulit Didapatkan jika Masih Belum Mengenali Diri Sendiri

Endah Wijayanti21 Mar 2020, 13:14 WIB
yoga sebelum tidur

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Caroline

Ini kisah self-love yang aku lalui.

Pertama, aku pikir self-love itu pampering yourself. Pergi ke salon, creambath, beli baju baru, mani-pedi dan makan enak. Memang aku langsung merasa bahagia setelah melakukannya. Sehabis creambath, aku merasa paling cantik se-mall. Setelah beli baju baru, aku membayangkan diriku seperti bintang film 200-Pound Beauty setelah dipermak. Sehabis mani-pedi, tanganku indah bak putri raja, kalau pegang apapun jemariku lentik, kalau pakai sandal apa pun kakiku terlihat elegan. Setelah makan enak, perut kenyang, hatipun lebih lega dan bawaannya ngantuk. Floating.

Tapi, lama-lama kebahagiaan itu cepat hilang. Aku harus beli baju baru setiap minggu untuk mendapatkan perasaan bahagia itu. Aku tidak bisa merasa kenyang kalau belum makan banyak dan enak. Jariku jadi kuning dan gampang patah karena kebanyakan mani pedi. Dan berat tubuhku bertambah, jadi aku menjadi bintang film 200-Pound Beauty sebelum dipermak. Dan, kantongku jadi tipis. Penghasilan berapapun habis. Semua itu membuatku stres, dan aku kembali melakukan segala hal untuk membuatku bahagia—dan uangku habis. Betul-betul lingkaran setan.

 

[Fimela] Meditasi
Ilustrasi Meditasi | unsplash.com/Jared Rice

Hidup Lebih Sehat

Lalu, aku diperkenalkan dengan hidup sehat dan meditasi. Aku mengalokasikan budget yang biasa untuk beli baju dan nyalon, ke kelas gym dan meditasi. Aku mulai ikut-ikut fad minimalis, yaitu membuang barang yang tidak diperlukan. Aku join gym, sebulan hampir tiap hari. Bentuk tubuhku jadi lebih langsing, stamina bertambah. Anehnya, berat badan sama saja.

Aku ikut PT (personal trainer) program. Sayangnya, lama kelamaan aku merasa capek setiap kali aku melihat gym. Akhirnya aku pun berhenti, menggunakan momentum COVID-19 social distancing. Lalu aku ikut kelas meditasi, awalnya sangat semangat dan datang 3 hari seminggu. Tapi perlahan-lahan itupun berkurang apalagi semenjak work from home period. Terakhir, aku menyesali perbuatanku yang membuang barang-barang atas nama minimalisme. Beberapa item yang kusumbangkan/buang terbukti kurindukan, sekitar 3 bulan setelahnya. Sedih. Barang itu pun sudah tidak bisa kudapatkan di pasaran. Kalaupun ada, harganya selangit dan tidak worth it.

Akhirnya aku belajar. Sembari menulis short story FIMELA ini, aku melihat bahwa semua itu karena aku hanya menggunakan external factor untuk membuatku Bahagia. Shopping, makan, mengiuti tren, semuanya karena aku terpengaruh dengan faktor luarku. Sedangkan dalam internalku sendiri, aku masih tidak mengenali diriku sendiri.

Bagaimana aku mau mencintai diri, kalau aku saja tidak kenal siapa aku? Aku memutuskan untuk mulai menulis mengenai siapa aku, dan kenapa aku merasakan apa yang kurasakan, melakukan apa yang kulakukan. Apakah peringaiku? Apa yang kusuka, yang aku mahir dan yang membuat aku tidak nyaman. Dan ini self-love story-ku. Belum berakhir, masih berlanjut. Karena aku selalu berusaha selama aku masih diberikan kesempatan dalam hidup.

Terima kasih.  

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by