Tanpa Disadari Panic Buying Dapat Memengaruhi Keuangan Pribadi

Gayuh Tri Pinjungwati27 Mar 2020, 19:15 WIB
panic buying

Fimela.com, Jakarta Selama beberapa minggu terakhir, panic buying bahan makanan telah meluas di berbagai daerah. Dimulai dari tisu, pembersih tangan, air mineral, sabun, dan bahkan sebagian makanan instan telah ludes. Hal ini terjadi akibat kepanikan tentang penyebaran virus corona, bertambah seiring dengan jumlah orang yang terinfeksi virus ini. Panic buying kini semakin meluas. Segala sesuatu bahan makanan yang awet dan pembersih lantai hingga sereal bebas gula dan daging kaleng telah menjadi incaran mereka. Ada berbagai alasan psikologis untuk panic buying. Hal ini berdampak ada keuangn pribadi.

Panic Buying Tidak Direncanakan

Sesuai dengan sifatnya, panic buying muncul riba-tiba. Dengan adanya virus corona, ketika berita tentang penyebarannya di Cina beredar selama berminggu-minggu, ada sedikit dampak pada perilakuku belanja masyarakat. Ketika wabah ini mulai menjangkit beberapa negara di dunia, sepertinya masyarakat bergegas ke toko dan berbelanja. Dalam keadaan seperti ini, sangat sedikit orang mengatur waktu panik mereka untuk berbelanja dengan menjadwal belanja yang dibutuhkan.

Mendapati Rak Kosong

Ketika pergi ke toko dan ingin berbelanja, mungkin saja akan menemui beberapa orang membawa begitu banyak belanjaan. Hal ini terjadi akibat masyarakat khawatir dengan keadaan dimana jika isolasi diperpanjang akibat lonjakan seseorang yang positif virus corona. Kebiasaan panic buying melibatkan pengeluaran yang jauh lebih besar daripada belanja bahan makanan harian.

Pembelian Barang Tidak Melihat Harga atau Ketersediaan Barang

Selama panic nuying terjadi, pembeli memiliki sedikit kekuatan untuk memutuskan atau bertindak seperti yang mereka inginkan. Toko penuh sesak, seringkali dengan antrean panjang untuk masuk. Mendapati rak kosong atau mungkin dengan cepat menjadi pekerjaan karyawan untuk segera mengisi kembali stok. Pembeli mungkin Nampak takut dan tergesa-gesa secara acak meraup banyak hal. Suasana seperti ini tidak mendorong pengambilan keputusan yang bijak. Alih-alih mencoba untuk mendapatkan apapun jia terjadi sesatu kedepan yang tampak mengerikan. Selam masa itu berlangsung, produk dengan umur simpan yang panjang seperti daging kaleng, susu, dan kacang kering sangat menjadi incaran meskipun tidak diminati dalam keadaan normal. Panic buying pada akhirnya membeli banyak barang yang tidak mereka suka dan kemungkinan tidak akan pernah mengonsumsi kecuali tidak ada pilihan lain.

Panic Buying Membuat Pengeluaran Lebih Banyak

panic buying
Ilustrasi/copyrightshuttestock/CGN089

 

Apa arti karakteristik panic buying Ketika panic buying melibatkan pengeluaran besar yang tidak terjadwal dan tidak pandang bulu, mereka biasanya merusak pengelolaan keuangan. Pertama, panic buying menyebabkan pengeluaran berlebihan yang signifikan untuk bahan makanan, jauh melampaui tingkat normal pembeli. Bahkan dalam skenario kasus terbaik di mana sebagian besar bahan makanan yang dibeli akhirnya habis atau bahkan menggantikan makanan restoran yang lebih mahal. Pengeluaran tiba-tiba ratusan ribu bahkan jutaan yang akan memberatkan kebanyakan orang. Kemungkinan besar, sejumlah bahan makanan yang dibeli akan tetap tidak digunakan dan terbuang sia-sia.

Kedua, untuk jumlah yang signifikan, masayarakat dengan anggaran ketat dan menghemat uang untuk menutup biaya yang tak terduga, panic buying dapat menambah hutang kartu kredit dan membuang sia-sia anggaran rumah tangga untuk periode yang cukup lama. Ketiga, beban keuangan tambahan ini akan berkontribusi terhadap tekanan keuangan, yang pada gilirannya dikaitkan dengan negatif hasil kesehatan fisik dan mental.

Lalu Apa Solusinya?

Alih-alih harus panic buying, pertimbangkan konsekuensi keuangan yang semakin memburuk. Pengeluaran berlebih, utang kartu kredit meningkat dan tekanan finansial yang lebih besar yang isa terjadi. Pikirkan dengan hati-hati sebelum melakukannya. Selama panic buying, semakin banyak konsumen dapat mencocokan perilaku pembelian mereka dengan kegiatan belanja bahan makanan normal mereka, tetap berpegang pada hal-hal yang mereka suka dan benar-benar akan digunakan dalam periode waktu yang wajar, semakin sedikit konsekuensi keuangan yang akan hancur.

#Changemaker

Lanjutkan Membaca ↓