Teman-Teman Beracun Memang Tak Layak Dipertahankan

Endah Wijayanti31 Mar 2020, 18:15 WIB
jatuh cinta

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Rahayu Putri

Ratusan kata "iya" telah terlontar dari mulutku, sampai suatu waktu aku baru tahu ternyata itu menghancurkanku. Hidup ini membuat kita bertemu dengan beragam macam orang dan kepribadian. Akan tetapi, aku baru menyadari kalau ternyata kepribadian seseorang itu tidak bisa berubah karena sikap kita.

Aku adalah gadis berumur dua puluhan yang saat ini tinggal di Surabaya. Kota Surabaya adalah kota yang dipenuhi dengan pendatang dan tentu saja orangnya menjadi sangat beragam. Selama tinggal di sini beberapa tahun terakhir ini aku menjalani hidup dengan tetap menjadi diriku sendiri dan memiliki keyakinan bahwa seburuk apa pun orang, jika kita bisa menyentuh hatinya maka orang tersebut juga bisa menjadi lebih baik. Namun, beberapa waktu belakangan aku menyadari bahwa keyakinan ini malah menjadi bumerang dan menghancurkanku. 

Aku yakin bahwa kalian pasti juga  memiliki banyak teman perempuan dan kurang lebih tahu seperti apa mereka itu. Aku sendiri tumbuh dengan dikelilingi teman laki-laki dan tidak terlalu tahu seperti apa berteman dengan banyak perempuan. Awalnya aku memang tidak nyaman dengan mereka tapi apa boleh buat aku tidak bisa terus menerus hanya berteman dengan laki-laki. Kawan-kawanku juga memintaku untuk berteman dengan perempuan. Hal ini mulai meresahkanku, karena aku yakin pasti akan sangat berbeda berteman dengan perempuan. 

Aku menjadi pribadi yang berbeda dan mulai melakukan hal-hal yang tidak aku suka. Awalnya aku mulai merasa aneh karena aku harus shopping, lalu aku keliling mall hanya untuk sekedar mengantarkan teman-temanku, membicaran para laki-laki, dan mulai bercerita keburukan dari orang yang tidak kita suka di kelompok kami.

Jujur saja, aku tidak pernah bilang tidak kepada mereka. Aku selalu mengiyakan apa yang mereka minta. Sampai akhirnya aku mulai menyadari pertemanan ini menjadi semakin toxic. Apa boleh buat aku tidak bisa menjauh begitu saja, dan teman laki-lakiku yang telah bersamaku sejak aku kecil juga mulai merasa ada yang aneh denganku semenjak aku jarang berkumpul dengan mereka. 

 

Tidak Harus Mengiyakan Segalanya

mencintai sewajarnya saja
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/hugo_34

Sedikit demi sedikit aku mulai menyadari bahwa aku tidak memberikan yang terbaik untuk diriku, aku sebenarnya hanya berubah menjadi orang lain dan perlahan-lahan hancur. Meskipun ini menyedihkan tapi aku harus menerima kenyataan ini dan terbebas darinya. Pada suatu malam, aku tengah mempersiapkan suatu perayaan besar yang akan diadakan dalam beberapa hari ke depan. Malam itu aku setengah mati mengerjakan semuanya dan berharap setiap orang bisa memperoleh segala sesuatu dengan layak pada perayaan.

Kondisiku saat itu juga sedang tidak terlalu baik, tapi aku memaksakan diriku karena ini demi orang-orang yang datang pada perayaan besar itu. Akan tetapi, teman-teman perempuanku memperlakukanku seolah-olah aku pembantu mereka. Tidak menghiraukanku dan menganggap bahwa itu adalah tugasku. Saat itu aku sadar bahwa mereka bukanlah teman sejatiku. 

Mungkin bagi kalian ucapan terima kasih bukanlah suatu masalah besar dan hal yang mudah untuk dilakukan. Akan tetapi, percayalah ucapan itu membesarkan hati siapa saja dan mengangkatnya setara dengan kalian. Meskipun mereka meminta dengan sopan tapi tanpa ucapan itu, aku merasa semuanya akan sia-sia.

Malam itu aku tersadar dan mulai memikirkan ulang hal-hal apa saja yang aku lalui bersama mereka. Ternyata memang aku bukan bagian dari mereka, dan ini bukan salah mereka karena nyatanya aku yang selama ini mengatakan “iya.

Jika ini memang salahku maka akan aku perbaiki. Aku siap mengatakan "tidak" sebagai langkah pertamaku mencintai diriku sendiri. Tidak apa jika memang semua temanku lelaki, tidak apa jika aku tidak feminim, dan tidak apa jika aku tidak berteman dengan mereka. Dunia ini masih akan tetap berjalan, dan jika aku ingin dicintai maka aku harus mulai mencintai diriku sendiri.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓