Ayahku, Pensil Warna, dan Kamera

Endah Wijayanti01 Apr 2020, 13:45 WIB
wanita dan kamera

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Astryd Penajiwa

Mimpi yang buruk adalah ketika ditinggalkan seorang ayah dengan usia yang begitu muda yaitu 45 tahun karena sakit. Dia adalah mimpiku. Dia insan ciptaan Tuhan yang selalu membahagiakan orang banyak dengan alunan saxophone dan flutenya ketika memainkan musik jazz.

Usiaku baru masuk kuliah di Trisakti saat itu. Sebelum meninggal ia ingin sekali membangun sekolah musik. Kepergiannya meninggalkan ibuku dan keempat anaknya yang masih membutuhkan biaya sekolah. Karena kondisi ekonomi memprihatinkan, maka kakakku, aku, dan adikku harus berjuang hidup. Dikarenakan setelah kepergian ayahku ibuku sakit tumor payudara dan rahimnya. Syukurlah ibuku pejuang tangguh dan ia rutin mengobatinya dengan herbal.

Aku membantu ekonomi keluarga dengan modal pensil warna dan menulis buku cerita bergambar anak-anak yang menceritakan tentang kebahagiaan keluargaku. Melalui cerita itu aku dapat mengembalikan ayahku kembali dan mengisi kebahagiaan keluarga dan teman-temanku di serial buku tersebut. Sampai akhirnya salah satu buku cerita itu memang penghargaan Adi Karya IKAPI kategori buku bacaan anak terbaik berjudul Uang Jajan dan Kotak Kue yang dicetak 25.000 eksemplar oleh Perpustakaan Nasional. Melalui buku itu aku juga bisa bantu keluarga dan memberangkatkan kakaku ke Amerika dan adikku ke Jerman.

Melanjutkan Perjuangan

zodiak
ilustrasi./copyright Shutterstock

Tinggal aku yang harus berjuang menghidupi ibu dan adikku paling kecil. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi suamiku sayangnya tak bisa bertahan lama. Kondisi ini memantapkan kakiku untuk mengadu nasib dengan modal kamera aku mencoba membuat film dari tanganku sendiri.

Berawal ketika adikku di Jerman mengalami KDRT aku pun ke sana untuk melihat kondisinya. Alhamdulillah meskipun pelik namun dapat teratasi. Kasus ini menjadi pelajaran bagiku untuk memberikan informasi berharga kepada perempuan Indonesia yang sedang mengadu nasib di luar negeri maupun menikah dengan bangsa asing. Skill sangat penting untuk modal hidup agar dapat bertahan di mana pun berada.

Pensil warna tidaklah cukup untuk membuat hatiku bahagia dalam berbagi rasa. Akhirnya melalui kamera video aku pun bisa bercerita dan memberikan pengetahuan dan informasi kepada publik. Sampai akhirnya aku meliput ke berbagai negara dengan solo cameraman dan serial filmku pernah ditayangkan di stasiun TV.

Kini aku pun telah mendirikan program Adventure Documentary Festival Academy yang rencananya akan menjadi sekolah akademi bagi pecinta wisata, seni budaya. Meskipun bidangku berbeda dengan ayahku, tapi aku berjanji akan mendirikan sekolah seni yang dapat memberikan inspirasi bagi para perempuan yang memiliki mimpi dan mencintai ayah dan keluarganya. Semoga Allah memberkati perempuan dalam karya. Amin.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓