Masa Depan Indonesia Bahagia ada di Sekitar Rumah, Desa atau Kota

Novi Nadya01 Apr 2020, 20:22 WIB
Desa

Fimela.com, Jakarta Apakah kamu bahagia? Apa arti bahagia untukmu? Happiness Festival 2020 yang digelar United In Diversity Foundation (UID) mengajak kita untuk mewujudkan dan merasakan kebahagiaan seutuhnya tak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang lain dan lingkungan. Di tengah imbauan physical society dampak virus corona atau Covid-19, penyelenggaraan Happiness Festival ketiga bertema "Indonesia Bahagia Lestari" ini digelar secara daring lewat webinar pada akhir Maret lalu.

Salah seorang pembicara, Founder Spedagi Movement Singgih Kartono mengatakan jika orang Indonesia bisa menyadari masa depan yang  bahagia dan lestari ada di sekitar rumah baik di desa atau kota. Masa depan di sekitar rumah bisa dimulai dari melihat kesempatan- kesempatan yang bisa diciptakan mulai dari pengolahan sampah, pemanfaatan halaman rumah, dan lainnya.

“Di masa depan masyarakat kembali memilih tinggal di komunitas kecil, hidup dari sumber- sumber lokal namun terbuka dan terhubung secara global, atau yang disebut dengan Slow, Open, Local, dan Connected atau SLOC. Kualitas hidup di kita itu banyak sekali. Kita bisa bikin sesuatu yang berkualitas di desa dengan segala kesederhaaannya,” jelasnya.

Untuk memulai sesuatu inisiatif yang baik, Singgih menyebutkan kepercayaan diri itu sangat penting. Inisiatif yang baik bisa dimulai dari diri sendiri tanpa menunggu pihak lain.

Harmoni antar hubungan sosial, lingkungan, dan spiritual inilah yang menjadi kunci pencapaian kebahagiaan seutuhnya. Ketiganya menjadi penentu apakah seseorang dapat benar-benar berbahagia; tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain dan tidak hanya untuk saat ini, namun juga untuk masa yang akan datang.

Perkotaan
Masa Depan Indonesia Bahagia ada di Sekitar Rumah baik Desa atau Kota (Foto: Dok. Happiness Festival 2020)

Sustainable Consumption

Sustainable Consumption
Sustainable Consumption (Dok. Happiness Festival 2020)

Ya, kebahagian pun tak sekedar untuk manusia, melainkan juga untuk alam yang menghidupi manusia. Pola produksi, distribusi, dan konsumsi barang saat ini juga ikut berkontribusi pada kerusakan flora dan fauna di dunia.

Satu cara yang bisa dilakukan untuk mencapai kebahagiaan yaitu dengan menerapkan pola sustainable consumption dalam hidup. Public Campaign Specialist World Wildlife Fund for Nature Indonesia (WWF-Indonesia), Margareth Meutia mengatakan pesan sustainable consumption bisa dijalankan dengan memahami setiap barang yang dibeli.

"Ada enam pesan WWF-Indonesia dalam kampanye “Beli Yang Baik” yaitu beli yang perlu, beli yang lokal, beli yang alami, beli yang awet, beli yang ecoable, dan tau mau di bawa kemana limbahnya. Konsumen mesti rajin, cermat, dan proaktif saat membeli setiap barang dengan cara membaca petunjuk pemakaian dan keterangan pada kemasan barang," jelasnya.

Dalam skala global, tingkat kebahagiaan negara-negara di dunia tercatat melalui World Happiness Report (WHR), yang merilis index kebahagiaan setiap tahunnya. Menurut laporan tahun 2020, Finlandia, Denmark, Switzerland, Islandia dan Norwegia adalah 5 negara paling bahagia dari 153 negara yang disurvey.

Jika mengambil rata-rata nilai index kebahagiaan dari tahun 2017 hingga 2019, Indonesia berada pada posisi 84, tertinggal dari negara tetangga Singapura, Filipina, Malaysia dan Vietnam.

Namun begitu, melalui aksi-aksi kolaboratif seluruh elemen masyarakat, Indonesia dapat terus memperbaiki nilai index kebahagiaan. Dalam setiap bentuk perubahan, semua pihak harus memulai dari diri sendiri, untuk kemudian dibawa menuju skala yang lebih besar di organisasi, komunitas, dan pada akhirnya di masyarakat. Karena pada akhirnya, kebahagiaan adalah tujuan setiap orang.

 

Simak video berikut ini

#ChangeMaker 

Lanjutkan Membaca ↓