Menjadi Pengangguran di Tengah Pandemi Virus Corona, Sungguhlah Sulit

Endah Wijayanti06 Apr 2020, 10:15 WIB
rumah

Fimela.com, Jakarta Mengubah rutinitas di tengah panedemi virus corona ini memang tidak mudah. Mengatasi rasa cemas dan was-was pun membuat kita tak nyaman. Kita semua pun berharap semua keadaan akan segera membaik. Melalui Lomba Share Your Stories: Berbagi Cerita tentang Pandemi Virus Corona ini Sahabat Fimela berbagai cerita dan harapannya di situasi ini. Langsung ikuti tulisannya di sini, ya.

***

Oleh: SR

Resign Awal Maret

Awal Maret lalu, saya memutuskan untuk resign dari tempat kerja. Setelah sebelumnya satu tahun bekerja sebagai admin bagian pajak di kantor tersebut. Pada usia saya yang menginjak 27 tahun saat ini, saya ingin mencari pekerjaan yang sesuai passion, yakni bergerak pada bidang sosial dan humanisme. Sehingga selain bekerja demi sebuah gaji untuk menyambung hidup, ada suatu hal lain yang dapat saya kerjakan untuk membantu orang lain.

Dibanding pekerjaan saya yang lalu, hanya berkutat pada data, layar kerja dan suara bising printer. Saya jengah. Belum lagi, saya sempat depresi dan burned out menghadapi salah satu rekan kerja yang otoriter dan gemar mencari muka di hadapan bos. Ibarat saya yang susah-susah bekerja, dia yang dengan enaknya, hanya tinggal mengunduh laporan dan melaporkan hasil pekerjaan saya pada bos. Sebaliknya, jika saya salah barulah dia melaporkan, jika pekerjaan itu saya yang buat. Sehingga, saya tidak ada bagus-bagusnya di mata bos. Saya sangat tertekan dan sudah pada ambang batas kesabaran, sehingga memilih untuk mundur, daripada terus tersiksa psikis.

Saya mulai gencar mencari pekerjaan, mulai pada awal Maret. Setelah tidak lagi memiliki ikatan pada perusahaan tempat kerja sebelumnya. Jujur, ada satu sisi lain, yang rasanya lega luar biasa dari dalam diri. Tidak lagi terikat dan merasa depresi. Walau, tak dapat dipungkiri. Ada sedikit risau, pikiran tentang ke mana saya harus mencari pekerjaan baru, usai semua ini? Lebih lagi, sekarang ini sudah tidak ada orangtua, untuk saya kembali menggantungkan hidup.

Wilayah Tinggal Ditetapkan Zona Merah

ilustrasi memakai masker medis
ilustrasi./(sumber: iStockphoto)

Beberapa lamaran kerja, yang saya kirimkan baik via email dan pos surat tak juga membuahkan hasil. Hingga, muncul sebuah kabar, bahwa kota wilayah saya tinggal ditetapkan dalam kondisi KLB (Kejadian Luar Biasa). Usai ada salah satu warga, yang meninggal dunia usai dinyatakan positif terkena virus Covid 19 atau Corona.

Sejak itu banyak kasawan umum dan instansi pemerintah, baik dari segi pendidikan dan pariwisata ditutup selama 14 hari ke depan. Terhitung pertengahan Maret kemarin, jalanan semakin sepi kian hari. Banyak badan usaha dan tempat perdagangan, yang dihimbau untuk tutup sementara ataupun mengurangi operasional jam kerja.

Jangankan untuk menerima pegawai baru, yang ada justru beberapa tempat kerja malah memutuskan untuk merumahkan pegawai dengan sistem potong gaji. Alih-alih meminta informasi kawan untuk lowongan pekerjaan baru, mereka justru mengadu nasib yang kurang baik. Akibat tempat mereka bekerja mengalami penurunan omset secara drastis, hingga merekapun juga was-was apabila terancam pula di rumahkan. Apalagi, kini masa karantina diperpanjang hingga pertengahan April sesuai keputusan pemerintah daerah.

Semakin sulit saya untuk berkesempatan mencari pekerjaan baru, sudah pasti membuat saya bingung. Pengeluaran untuk kebutuhan harian jalan terus, namun semua itu tidak mampu saya imbangi untuk mencari sumber pendapatan. Lahan baru alur pemasukan saya benar-benar buntu, sama sekali tak ada jalan.

Salah satu pilihan, yang dapat saya lakukan untuk menghemat pengeluaran dana adalah dengan cara memasak sendiri di kost. Berpartner dengan teman kost, yang sama-sama ingin berhemat. Setiap pagi kami berbelanja di tukang sayur. Memasaknya bersama untuk dimakan jatah satu hari. Pengeluaran estimasi dana pun, kami hitung dan bagi dua sama rata. Benar-benar harus putar akal, agar semua dapat serba irit.

Karena saya menjadi pengangguran di tengah pandemi korona ini, benar-benar serba sulit. Segala bahan baku makanan, kebutuhan pokok dan keperluan sehari-hari, layaknya kelengkapan mandi, dan alat kebersihan lainnya, harganya menjadi naik beberapa persen. Jangankan untuk mencari pekerjaan baru, untuk keluar rumah saja serba terbatas demi memutus rantai penyebaran virus corona. Pada kondisi seperti ini, saya tidak boleh stres, karena akan berpotensi menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Mencari Jalan Keluar dan Tetap Berolah Raga

Ilustrasi menggunakan masker.
Ilustrasi. (iStockphoto)

Selain memutuskan untuk memasak sendiri ber-partner dengan teman kost, saya memiliki ide untuk memulai usaha berjualan makanan ringan, yang nanti hasilnya akan saya titip jualkan pada warung usaha milik tetangga dan sejumlah tempat makan yang masih buka. Saat ini saya tengah melakukan uji coba pada dapur kost, untuk mendapatkan komposisi takaran saji dan rasa yang pas. Sempat gagal, dan akan tetap saya coba ulang kembali. Juga tak lupa untuk tetap berolahraga di dalam rumah, walau hanya sekadar pemanasan tubuh gerak ala kadarnya. Tujuannya agar badan tetap fit, sehat dan bugar, guna memperkuat imunitas tubuh, agar tidak mudah terserang bibit penyakit. Tinggal di kawasan yang ditetapkan sebagai Zona Merah oleh pemerintah daerah. Saya harus pandai-pandai menjaga kesehatan dan keselamatan diri sendiri.

Menerima Ajakan Berbisnis

Masker Kain
Ilustrasi./Credit: pexels.com/AnnaShevts

Pada tadi pagi. Kabar baik mulai datang menghampiri. Salah satu teman yang saya kenal baik, menawari saya untuk bergabung menjualkan dagangannya. Dia tengah melakukan usaha membuat masker kain handmade, berbahan dasar kain katun dengan harga yang relatif terjangkau. Di tengah situasi semacam ini, masker tentu saja tengah banyak dicari masyarakat, untuk upaya pencegahan paparan penularan virus Covid 19.

Walaupun memang, masker tersebut tidak seefektif masker bedah yang sering dipergunakan untuk dunia medis. Akan tetapi, salah satu informasi yang diunggah oleh Mbak Najwa Shihab, masker kain dapat menjadi salah satu upaya kita, untuk mengurangi paparan virus covid 19, asal kita menerapkan budaya psysichal distancing dengan menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain.

Saat terpaksanya memang tengah ada kepentingan yang mengharuskan kita untuk keluar rumah. Masker kain, yang juga dapat dicuci dan dipergunakan kembali adalah satu upaya efektif. Guna mengatasi kelangkaan masker medis, yang sebetulnya hanya diperbolehkan khusus untuk orang yang tengah sakit dan para tenaga medis. Ya, saya pikir untuk saat ini. Apabila memang, saya masih ditakdirkan harus di rumah aja. Belum juga mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain. Saya harus menjadi pintar untuk mengkaryakan diri sendiri.

Tetap berpikir positif dan terus berusaha berolah kreatif. Siapa tahu, di tengah musibah dan serba keterbatasan seperti ini, justru lahirlah ide kreatif bisnis tak terbatas. Tak lagi terpikir saya harus kerja dimana? Ikut siapa? Akan tetapi berubah menjadi, saya harus berkarya apa? Memulai bisnis atau usaha dagang apa? Sembari tetap berdoa dan meyakini, apabila musibah ini pasti tetap akan berakhir. Aamiin.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓
Smartfren Kapanlagi Live Bareng Mahen, Bagasran dan Adhitia Sofyan